|
Artikel
VEKTOR, FRAKTAL,
DAN DELAPAN ETOS
Oleh: Jansen H. Sinamo [9 Februari
2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali
Fraktal (dari bahasa Latin fract- artinya 'patah') adalah sebuah
besaran matematika berbentuk kurvatur dimana setiap bagiannya
memiliki karakter statistik yang sama sebagai suatu keseluruhan.
Fraktal digunakan dalam pemodelan struktur-struktur yang tidak
beraturan seperti garis pantai atau awan dimana pola yang mirip
selalu berulang secara progresif menuju skala yang semakin kecil.
Fraktal juga digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang acak,
random atau chaotic seperti turbulensi fluida atau pembentukan
galaksi. Dengan mengetahui fraktal sebuah fenomena maka yang random
itu tidak lagi membingungkan tetapi justu kelihatan polanya yang
sesungguhnya juga teratur. Dengan fraktal kita bisa menemukan bahkan
menciptakan keteraturan dari kekacauan.
Fraktal adalah sub-cabang matematika: geometri fraktal. Fraktal
adalah ilmu yang relatif baru, bekembang sejak tahun 70-an. Sejauh
ini, penggunaan fraktal terbesar ialah dalam fisika karena di alam
ini fenomena random/chaos sangat banyak dijumpai seperti gerak
fluida, sifat cuaca, astronomi, kosmologi, dsb. Calon pengguna
fraktal lain ialah analisis harga saham karena gerak harga saham
juga bersifat random. Mestinya juga, fraktal dipakai dalam psikologi
karena tingkah laku manusia juga banyak yang random (sembarangan,
serampangan, ngaco, aneh, lucu; ingat pendekar mabok misalnya)
bahkan chaotic.
Untuk menebak fraktal seseorang, temukanlah kata kunci yang selalu
berulang dipakainya, itulah tema hidupnya. Atau adakah kelakuan yang
berulang, itulah pola dasar perilakunya. Sekali Anda menemukannya,
maka Anda akan mengerti dia.
***
Sepupu fraktal dalam geometri klasik disebut vektor, yakni sebuah
besaran yang memiliki magnitude dan arah sekaligus. Persisnya,
vektor ialah representasi grafis suatu titik dalam ruang untuk
mengkonstruksi sebuah obyek. Dengan kata lain, vektor digunakan
sebagai perkakas untuk menentukan posisi dan arah dinamis sebuah
obyek dalam ruang, relatif terhadap yang lain.
Geometri sendiri ialah studi tentang bentuk, ukuran, dan
sifat-sifatnya dalam ruang seperti garis, segitiga, segiempat,
jajarangenjang, belahketupat, pentagon, heksagon, oktagon, dekagon,
elips, lingkaran, parabola, hiperbola, dsb. Bapak Geometri ialah
matematikawan Yunani klasik, Euklides (330-275 SM). Itu sebabnya
geometri klasik disebut juga sebagai Euclid Geometry.
Prinsip-prinsip geometri digunakan sangat luas dalam komposisi
artistik, arsitektur, teknik sipil, navigasi, ilmu perkakas,
geografi, geodesi, dan tentu saja fisika. Dalam fisika, ditemui
bahwa banyak sekali sifat alam ternyata seratus persen mengikuti
prinsip-prinsip geometri seperti gerak jatuh, gerak planet,
listrik-magnit, bahkan relativitas Eisntein. Barulah sejak abad
ke-20, sejak ditemukannya Fisika Kuantum, wajah non-geometris fisika
mulai terungkap. Tapi, dalam derajat yang dominan wajah fisika tidak
lain adalah wajah geometri. Tidak heran, matematikawan dan fisikawan
Yunani klasik tanpa kecuali semuanya adalah mistikus juga karena
mereka yakin bahwa geometri adalah wajah Tuhan! Dalam sejarahnya,
untuk menebak kebenaran sebuah teori baru dalam fisika, seringkali
petunjuknya dan tuntunannya muncul dari apakah teori itu memenuhi
prinsip-prinsip geometri. Itulah antara lain yang terjadi pada James
Clerk Maxwell ketika ia menemukan temuan terbesar abad ke-19: teori
elektromagnetik, dalam hal ini prinsip simetri dari keempat fenomena
dasar gejala listrik dan magnet itu sendiri. (Baca kisah ringkasnya
dalam Prolog buku saya:
Delapan Etos
Kerja Profesional).
***
Mengapa Delapan Etos akhirnya memuaskan jiwa sains saya ialah karena
baik 7, 10, atau 12 etos yang pernah saya ujicoba, ternyata tak satu
pun memenuhi uji simetri ketika saya ungkapkan secara geometris.
Nah, Delapan Etos memenuhi semua tuntutan geometris: prinsip simetri,
prinsip koherensi, dan prinsip komprehensi. Ternyata, ketika prinsip
geometri dipenuhi, prinsip estetika juga serentak dipenuhi:
muncullah wajah yang artistik. Tinggal memeriksa apakah delapan
ungkapan etos itu secara linguistik juga demikian. Lalu, apakah
konsep etis, psikologis, dan sosiologis yang dikandung atau diwakili
kata-kata kunci itu pun demikian juga.
Jika Anda mengikuti perkembangan konsep Delapan Etos sejak tahun
1988 sehingga menjadi bentuknya yang sekarang kiranya akan lebih
faham kini, betapa pergulatan dengan makna kata-kata, geometri, dan
konsepkonsep manajemen secara bolak-balik yang telah menghabiskan
ribuan jam hidup saya adalah sebuah kenikmatan batin tiada tara.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
Tragedi Sekolah Binatang
12 Februari 2007
Sebelumnya:
Kompas: Mari Bernazar
2 Februari 2007
Kompas: Kecerdasan Pamungkas dan
Kecerdasan Paripurna
29 Januari 2007
Sahabat Ketiga
18 Januari 2007
Tulus dan Fulus
15 Januari 2007
Kumis Nasrudin
11 Januari 2007
|
|