|
Artikel
TRAGEDI SEKOLAH BINATANG
Oleh: Jansen H. Sinamo [12 Februari
2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali
Suatu ketika, bangsa Binatang sakit
hati karena dilecehkan bangsa Manusia. Hal ini dilaporkan oleh
anjing, burung, dan kucing, dimana sebagai peliharaan tiap hari
mereka mendengar umpatan, makian, dan sumpah serapah yang
menggunakan nama binatang dengan kandungan emosi paling buruk.
Untuk membuktikan sebaliknya, bangsa Binatang pun bertekad
meningkatkan peradaban mereka. Komite sekolah pun dibentuk dimana
setiap suku hewan diwakili oleh seekor tetua yang dianggap paling
arif di komunitasnya.
Pada hari mereka sedang membahas kurikulum suku Burung mengusulkan
pelajaran terbang harus ada. Suku Kelelawar menghendaki adanya
pelajaran teknik tidur dengan kepala di bawah. Sedangkan suku Cicak
menekankan perlunya pelajaran merayap di langit-langit.
Begitulah, dalam kurikulum sekolah binatang itu, terdapat berbagai
mata pelajaran yang sangat menarik seperti berkicau, berkotek,
berenang, mendesis, mematuk, menerkam, melenguh, mengaum, menyelam,
dan melompat. Semua ini digolongkan dalam kelompok pelajaran dasar.
Di tingkat menengah, terdapat berbagai pelajaran yang lebih canggih
seperti teknik pura-pura mati, kiat berganti kulit, menukik tanpa
bunyi, dan membelit musuh tanpa gejolak.
Sedangkan pelajaran di tingkat lanjut mencakup ilmu-ilmu yang lebih
hebat seperti pedoman metamorfosa, teknik mengobati diri sendiri,
jurus kawin sambil terbang, dan rahasia bernafas dalam lumpur.
Juga diputuskan, jika putra-putri hewan itu tamat, setiap lulusan
tingkat dasar akan mendapat gelar Pr (singkatan dari prigel), alumni
tingkat menengah diberi gelar Tr (singkatan dari trengginas), dan
jebolan tingkat lanjut berhak memakai gelar Pw (singkatan dari
piawai).
Mereka berharap nama binatang sekolahan akan lebih bergengsi,
misalnya Bebek Peking Pr, Ular Beludak Tr, atau Tupai Pedidit Pw.
Pokoknya, mereka tak mau kalah dengan bangsa Manusia yang sangat
bangga dengan gelar-gelar sekolah seperti BA, MA, atau PhD. Dan
seperti manusia, mereka juga percaya bahwa bergelar berarti sukses.
Binatang ingin setara dengan manusia dan dihargai penuh martabat.
***
Tetapi sesudah meluluskan 10 angkatan, sekolah binatang akhirnya
dibubarkan. Intinya, sekolah binatang dinilai gagal total.
Gelar-gelar yang sempat diberikan pun dicabut. Gelar Prigel,
Trengginas, dan Piawai dianggap hanya gombal.
Apa gerangan sebabnya? Binatang tidak sanggup mengevaluasi lebih
lanjut. Pokoknya, sekolah dibubarkan karena hasilnya jelek. Begitu
saja.
Namun, karena bangsa Manusia suka meneliti maka diturunkanlah sebuah
tim pencari fakta. Tim inilah yang akhirnya berhasil menemukan sebab
kegagalan itu.
Kesimpulan terpenting: sekolah binatang itu gagal karena pada semua
mata pelajaran, setiap murid mendapat nilai minimum C. Ini diperoleh
sesudah menganalisa sejumlah fakta yang aneh. Ditemukan misalnya,
dalam pelajaran berenang pun ikan hanya mendapat C. Dalam pelajaran
terbang burung juga cuma dinilai C. Demikian pula nilai rusa dalam
pelajaran berlari dihargai dengan C saja. Pokoknya setiap binatang
cuma mendapat C dalam kompetensi alamiah masing-masing. Yang paling
aneh, meskipun nilai mereka C di rapor, ketika diuji secara aktual,
kompetensi itu hanya pantas mendapat F, alias tidak kompeten sama
sekali.
Bagaimana mungkin sekolah merusak kompetensi alamiah anak-anak
binatang itu?
Rupanya, saat praktikum berenang sayap burung rusak parah, sehingga
saat dipakai dalam praktikum terbang, sayap itu tak berguna lagi.
Namun burung mendapat C juga dalam terbang maupun berenang karena ia
tak pernah absen dan suka menolong teman.
Ketika praktik bernafas dalam lumpur sayap kelelawar berpatahan,
sehingga saat ia harus terbang malam arahnya jadi ngawur dan
menabrak pohon. Namun kelelawar mendapat C dalam keduanya karena ia
selalu bersikap sungguh-sungguh dan hormat pada guru.
Pokoknya, semua anak binatang cuma mendapat C dalam setiap mata
pelajaran bukan karena kompetensinya tetapi karena soal-soal di
luarnya. Fakta di balik rapor dan ijazah, semua lulusan sekolah
binatang ternyata tidak kompeten. Mereka seharusnya diberi nilai E
dan F saja. Salah satu buktinya, ketika lowongan kerja penerbang
dibuka, dari 10.000 burung yang melamar yang diterima cuma 12 ekor
saja. Sesudah diterima pun, statusnya cuma pegawai honorer dengan
gaji ala kadarnya untuk sekadar hidup dari bulan ke bulan.
Inilah ironi sekolah binatang sehingga akhirnya dibubarkan.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Semangat Keibuan di Ruang Kerja
– 14 Februari 2007
Sebelumnya:
• Vektor, Fraktal, dan Delapan Etos
– 9 Februari 2007
•
Kompas: Mari Bernazar
– 2 Februari 2007
•
Kompas: Kecerdasan Pamungkas dan
Kecerdasan Paripurna
– 29 Januari 2007
•
Sahabat Ketiga
– 18 Januari 2007
•
Tulus dan Fulus
– 15 Januari 2007
|
|