|
TEORI MAXWELL TENTANG
ELEKTROMAGNETIK dan DELAPAN ETOS
Oleh: Jansen H. Sinamo [19 Februari
2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali
Di berbagai seminar dan pelatihan
yang saya pimpin, selalu ada peserta yang bertanya: bagaimana
ceritanya sampai saya tiba pada rumusan
Delapan Etos Kerja
Profesional. Kenapa tidak 7 etos, 10 etos, atau 12 etos misalnya.
Berikut adalah kisah ringkasnya.
Sebagai penggemar komik Kho Ping Hoo sejak remaja, saya selalu
tertarik untuk mengerti mengapa jago-jago silat tertentu menang atau
kalah dalam sebuah pertempuran. Dan Kho Ping Hoo sangat ahli
menjelaskannya. Jadi sudah merupakan kebiasaan, apabila saya membaca
buku, pikiran saya langsung mencari mengapa seseorang, organisasi,
atau bahkan negara bisa sukses atau gagal.
Sejak mahasiswa saya mulai menjadi kolektor buku, mula-mula buku
teks fiska dan matematika, kemudian buku-buku umum seperti
kebudayaan, sejarah, sastra, biografi, sosiologi, psikologi, teologi,
etika, spiritualitas, filsafat, dan politik. Perpustakaan pribadi
pun terbangun pelan-pelan. Makin ke belakang saya menggemari
buku-buku manajemen dan kepemimpinan, bisnis, dan kiat-kiat sukses
pada umumnya. Hal terakhir ini memfokus sejak saya terlibat dengan
Dale Carnegie Training pada 1985 dan menjadi instruktur di lembaga
itu sejak 1987. Seperti diketahui, Dale Carnegie adalah pionir dunia
dalam pelatihan pengembangan diri yang memulai kursusnya tahun 1912
di New York.
Nah, sesudah membaca ribuan buku akhirnya saya bingung sendiri
seperti orang yang kehilangan orientasi dalam belantara
konsep-konsep sukses yang buat saya tampak tanpa juntrungan. Makin
banyak buku saya kunyah, semakin gairah saya jadinya, tetapi pada
saat yang sama makin gelisah hati saya karenanya.
Sesudah sepuluhan tahun lebih saya bertungkus-lumus dalam ihwal
pembangunan sukses, pengembangan SDM, dan khususnya bagaimana
memajukan diri dan bisnis, kegelisahan itu semakin memuncak saja di
hati dan kemudian berubah menjadi rasa gerah yang tak tertahankan
lagi. Intinya, saya ingin menemukan the fundamental principles of
success, prinsip-prinsip yang betul-betul paling dasariah, bukan
sekadar tips, teknik, atau rumus sukses.
Soalnya, sebagai seorang yang agak terdidik dalam fisika (saya
belajar fisika di ITB Bandung dari 1978-1983) saya selalu terobsesi
menemukan rumusan paling asasi dari berbagai fenomena. Obsesi
seperti ini sangat khas pada para fisikawan. Tak berlebihan jika
saya bilang bahwa seluruh sejarah fisika, yang terentang panjang
sejak zaman Yunani purba hingga sekarang, adalah rangkaian kisah
tiada tara untuk meringkas dan meringkus the most fundamental
understanding of the Nature, dan dengan begitu menggelar the most
basic formulation semua gejala dan peristiwa alam—baik eksistensinya
maupun kelindan interaksinya—mulai dari tingkat supermikro yakni
atomos hingga ke level supermakro yakni kosmos.
Satu kisah spektakuler, sebagai contoh, didemonstrasikan pada 1868
oleh James Clerk Maxwell (1831-1879), seorang fisikawan besar putra
Skotlandia. Dia berhasil menyatukan semua gejala kelistrikan dan
kemagnetan menjadi hanya empat rumusan fundamental saja. Sebelumnya,
ratusan fenomena dalam kedua bidang itu telah dikenali secara
terpisah-pisah, terpenggal-penggal, dan terserak-serak dalam kurun
waktu lebih dari dua milenia. Tersebar demikian, semua fenomena itu
seolah tak saling berpilin samasekali. Meski petunjuk keterkaitan
mereka tampaknya ada juga, namun juntrungannya sungguh jauh dari
benderang. Namun menjelang era Maxwell, tiga fisikawan akbar lainnya
tiba pada rumusan yang tampak berkelindan dengan erat. Ketiganya
adalah Andre M. Ampere (1775-1836) yang menjelaskan bagaimana arus
listrik menimbulkan efek magnetik, Carl F. Gauss (1777-1855) yang
merumuskan hubungan antara arus listrik dan medan magnet, serta
Michael Faraday (1791-1867) yang memaparkan bagaimana perubahan
medan magnet menimbulkan efek listrik.
Maxwell yang memeriksa ketiga rumusan mutakhir ini dengan saksama
segera tersentak oleh satu masalah besar: trio formula itu tidak
konsisten dengan hukum kekekalan muatan, salah satu kebenaran fisika
yang sangat asasi. Menariknya, Maxwell juga segera melihat bahwa
ketiga formula itu membayangkan suatu simetri yang amat menggoda.
Demi koherensi dan simetri itulah Maxwell berani memperbaiki rumusan
Ampere dengan menambahkan sebuah faktor dan menyumbangkan satu rumus
buatannya sendiri. Di tangan Maxwell yang dikenal jenius matematika
itu, keempat rumusan anyar tersebut diungkapkannya ke dalam formula
matematika yang sangat canggih. Maka tampillah empat rumus
fundamental baru di bidang elektrika dan magnetika—secara bersama
keempatnya kemudian disebut sebagai Persamaan Maxwell—yang
berkelindan secara harmonis, bersimetri dengan sempurna, dan
bersetia pada hukum kekekalan muatan. Dengan itu pula lahirlah satu
terma baru: elektromagnetika.
Yang terasa ajaib, faktor tambahan terhadap rumusan Ampere di atas
menyarankan dengan tegas bahwa fenomena elektromagnetik ini juga
adalah fenomena gelombang. Sebelumnya, hanya bunyi dan cahaya yang
dipahami sebagai gelombang, sedangkan listrik bukanlah gelombang,
magnet apa lagi. Tetapi dengan empat persamaan di atas Maxwell
bahkan mampu menghitung kecepatan jalar gelombang baru itu.
Lebih mengejutkan lagi: cepat rambat gelombang elektromagnetik ini
ternyata sama dengan kecepatan cahaya yang sudah diketahui sejak
1676 berkat jasa Olaus Roemer, seorang astronomiwan berkebangsaan
Denmark.
Masih bagaikan mukjizat, kecepatan jalar gelombang elektromagnetik
ini ternyata konstan ke segala arah dan independen pula terhadap
medan masing-masing. Tegasnya, Maxwell menemukan bahwa gelombang
elektromagnetik tidak saja berkelebat dengan kecepatan sinar, tetapi
cahaya ternyata adalah fenomena elektromagnetik. Tegas pula bersama
itu bahwa kecepatan cahaya adalah sebuah konstanta alam.
Maxwell dengan demikian tidak saja berhasil menyatukan semua
fenomena kelistrikan dan kemagnetan tetapi juga mempertemukan
keduanya dengan semua gejala optik, sekaligus dan serentak. Berkat
jasa Maxwell itu maka dunia pun mahfum bahwa ketiga fenomena alam
tersebut adalah aspek-aspek yang berbeda dari eksistensi yang sama:
medan elektromagnetik.
Yang dahsyat: semua temuan akbar ini dihasilkannya dari empat
persamaan matematika saja tanpa percobaan lapangan. Namun semua
eksperimen sesudahnya tidak satu pun yang mampu membantah kebenaran
Persamaan Maxwell. Tidaklah mengherankan kalau Maxwell kemudian
disebut sebagai fisikawan teori terbesar abad ke-19.
Persamaan Maxwell merupakan salah satu gerbang terpenting yang kelak
dilalui oleh para titan fisika abad ke-20—termasuk Einstein yang
hingga kini masih diakui sebagai fisikawan paling akbar sepanjang
masa— memasuki kompleks istana fisika modern yang didominasi dua
bangunan utama: Teori Relativitas dan Teori Kuantum. Dengan itu
fisika kemudian tampil meraja dan dengan radikal mengubah wajah
peradaban kita melalui berbagai teknologi baru yang berbasiskan
padanya atau dimungkinkan olehnya: elektro, elektronika,
telekomunikasi, informatika, robotika, pneumatika, transportasi,
komputasi, energi nuklir, energi surya, eksplorasi ruang angkasa,
dan sebagainya.
Sampai kini pun, para fisikawan masih terus berpeluh untuk menemukan
satu atau sehimpunan formulasi ultima yang kiranya dapat menjelaskan
segala hal dalam kosmos kita ini. Teori yang sedang dicari itu malah
sudah diberi nama yang dahsyat: Teori Segalahal (Theory of
Everything).
Mirip seperti itulah yang terjadi ketika saya menghadapi teori-teori
sukses yang begitu beragam yang tersebar dalam ribuan buku yang saya
baca. Sebaran fenomena dan kepelbagaian rumusan sukses itu buat saya
membingungkan. Namun samar-samar saya mendeteksi berbagai
keterkaitan di antara mereka meskipun hal-bagaimananya belum jelas.
Yang terang, saya menginginkan rumusan paling esensial, paling
substansial, paling fundamental dan ultimat, namun mampu menjadi
rampatan (generalization) dari semua teori sukses yang pernah ada
sejauh ini. Konsep itu juga harus mampu menjadi pilar akbar yang
menopang semua jenis dan sistem keberhasilan secara berkelanjutan di
semua tingkatan: personal, interpersonal, organisasional, dan sosial,
sekaligus dan serentak. Dengan kata lain, saya mencari sehimpunan
gagasan konseptual yang kiranya bisa berfungsi sebagai fondasi,
solusi, dan strategi sukses yang koheren, simetris, dan komprehensif
untuk memajukan individu, profesi, organisasi, masyarakat, suku
bangsa, bahkan negara. Singkatnya: saya sedang memburu Teori
Segalahal di bidang sukses.
***
Inkoherensi dan parsialitas teori-teori sukses di semua tingkatan
menjadi alasan kegelisahan saya yang lain. Sampai saat itu saya
sebenarnya telah banyak mengajarkan terutama bagaimana meraih sukses
pada tingkat personal: terutama dalam hal finansial, profesional,
dan spiritual. Namun, saya melihat betapa banyak ironi dan tragedi
sukses ini, terutama sejak Indonesia digempur gelombang krisis
finansial pada 1997 yang kemudian menjadi krisis segalahal.
Sukses manajerial dan organisasional semata juga tidak banyak guna.
Setelah sekitar sepuluh tahun saya larut berbasah-kuyup membangun
sukses di tingkat organisasi, terutama perusahaan, saya merasa
tersedak oleh seduhan pahit ketika sejak 1997 banyak klien saya
babak-belur bahkan luluh-lantak dihajar krisis. Sontak saya tersadar,
betapa dalam suatu sistem politik dan tatanan sosial yang rusak
sukses ekonomi pun rusak pula, setidaknya sangat terkendala. Sebagai
orang yang selalu merasa peduli pada kondisi masyarakat, bangsa, dan
negara, saya juga menemukan diri saya tak kunjung mampu berbicara
pada tataran publik, apalagi berbuat agak memadai. Paling-paling
saya cuma bisa ngerumpi dan ngrasani republik yang konon saya cintai
ini. Dan hal ini sangat tidak memuaskan hati saya. Buat saya, sukses
haruslah otentik, koheren, integral, dan holistik, dari hulu hingga
ke hilir, dari personal hingga ke nasional, yaitu bahwa kunci-kunci
sukses itu harus berkelindan secara harmonis dari tingkat pribadi ke
wilayah organisasi terus sampai ke tingkat masyarakat luas.
***
Alasan lain yang tak kalah penting mengapa saya terus bergulat dalam
pencarian fundamental sukses ini adalah karena saya sedang mengalami
krisis identitas pada 1997 itu. Ketika itu, saya sudah mengantongi
delapan lisensi untuk melatihkan program-program Dale Carnegie
Training, antara lain Effective Speaking and Human Relations,
Leadership Training for Managers, Executive Image Program, High
Impact Presentation, dan Sales Advantage, tetapi pasar menganggap
kompetensi saya tidak jelas. Terlalu banyak keahlian yang saya
kuasai sehingga citra saya justru tidak jelas dan tegas. Bagi saya
sungguh jelas, orang yang pernah mengikuti pelatihan yang saya
pimpin juga berkata jelas, namun pasar tidak mengakuinya. Istilah
sekarang: personal brand saya kabur. Sebab itu, dan karena sejumlah
faktor lain, pada 1997 itu juga saya meninggalkan Dale Carnegie
Training. Sesuai dengan kontrak, maka saya pun terlarang mengajarkan
semua mata pelatihan di atas karena semua lisensi itu batal demi
hukum. Terjepit, saya pun sangat membutuhkan mata pelatihan baru,
produk baru, untuk selamat dan berlanjut dalam dunia bisnis yang
sudah saya gauli sampai mendalam lebih daripada sepuluh tahun.
Maka saya berada dalam dalam kondisi di mana ungkapan necessity is
the mother of invention pas betul buat saya. Saya serasa hamil tua
dengan suatu gagasan yang makin mendesak hendak membrojol. Saya
merasa, tak lama lagi sebuah produk, sebuah program, segera lahir.
Dengan semua itu maka lengkaplah himpunan alasan obyektif di kepala
saya yang kemudian menumpahkan lahar motivasi subyektif di hati saya
untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu.
***
Sesudah meraba-raba dengan intuisi, menimbang-nimbang dengan hati,
berdiskusi intensif dengan sejumlah kawan, menganalisis dan
merancang konsep, menata berbagai ide dan pikiran, serta bergulat
dengan banyak sekali gagasan, maka pada 1998 terciptalah konsep etos
kerja. Bersamaan dengan itu lahir pula versi pertama buku etos kerja
saya. Mengapa ‘etos’ dan apa yang dimaksudkan dengan kata kunci ini
akan saya terangkan tersendiri di artikel lain.
Sebelumnya, ketika coba menemukan dan merumuskan unsur fundamental
dalam ratusan rumusan, teknik atau strategi mencapai kesuksesan,
saya menemukan ada tiga unsur saja yang memenuhi syarat:
1. Mencetak prestasi dengan motivasi akbar. Dengan ketrampilan dan
pengetahuan yang sama, maka motivasi akbar menjadi faktor pembeda
utama. Jika dari seratus orang pekerja lulusan SD ada satu orang
yang bermotivasi akbar maka dia akan unggul dibandingkan dengan yang
sembilanpuluh sembilan. Demikian juga jika dari sepuluh orang atlit
kelas dunia ada satu orang yang bermotivasi lebih akbar maka dia
akan unggul dibandingkan dengan sembilan rivalnya. Jadi, motivasi
merupakan tiket menuju stadion prestasi. Prestasi juga berarti mutu
tinggi. Mutu adalah satu-satunya kata kunci agar kita berkenan
kepada Tuhan, atasan, sejawat, dan pelanggan; dalam hal ini yang
dimaksud adalah mutu ibadah, mutu amal saleh, mutu pekerjaan, mutu
perilaku, mutu produk, mutu pengelolaan, mutu pelayanan, dan mutu
relasi kita.
2. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner. Sukses selalu
dikaitkan dengan aspirasi, cita-cita, impian, yang kemudian mewujud
menjadi visi, misi, atau purpose of life. Kepemimpinan visioner
adalah cara kita mewujudkan apa yang kita bayangkan bisa terjadi
atau harus terjadi. Yang dimaksud dengan kepemimpinan di sini tidak
terbatas pada organizational leadership tetapi terutama
self-leadership. Kepemimpinan visioner adalah piranti utama untuk
mewujudkan impian menjadi kenya-taan, cita-cita menjadi realita,
misi menjadi kondisi.
3. Mencipta nilai baru dengan inovasi kreatif. Produksi dan sajian
nilai yang kita buat melalui prestasi dan visi pada suatu saat pasti
mengalami keusangan karena pesaing kita menyajikan nilai yang lebih
bagus. Jadi kita harus mampu memperanyar sajian nilai kita agar
tetap segar dan mekar menuju puncak terbaiknya. Di sinilah inovasi
kreatif menjadi modal utama kita.
Ketiga unsur dasar ini saya sebut sebagai Tri Darma Mahardika yang
berakar pada bahasa Sanskerta yang artinya Tiga Jalan Keberhasilan.
Menurut kamus Wojowasito, mahardhika artinya sangat bijaksana,
sangat kuat, sangat kaya. Ketika membolak-balik kamus saya terkejut
menemukan arti ini, suatu kata yang mengandung tiga pengertian yang
sepintas tidak berhubungan. Namun, seberkas terang memasuki ruang
batin saya sehingga akalbudi saya terterangi cerah. Saya mengerti:
mahardika berarti bahwa kebijaksanaan adalah pangkal kekuatan yang
otentik, kemudian berdahanranting dalam berbagai kekayaan, serta
berbuahkan rupa-rupa kemerdekaan. Ya, kata merdeka bermula dari kata
mahardhika, kemudian berubah menjadi mardika, lalu akhirnya jadi
merdeka. Dalam bahasa Inggris tak ada sepatah kata pun yang mampu
memuat makna wisdom, strength, wealth, freedom sekaligus. Saya kagum
sendiri pada kata Sanskerta yang satu ini. Jelas bahwa kata
mahardhika jauh lebih kaya makna dibandingkan dengan kata sukses.
Maka lahirlah Institut Darma Mahardika. Karena berbagai pertimbangan
institut ini kami putuskan sebaiknya bernaung di bawah suatu lembaga
bisnis. Maka lahirlah PT Spirit Mahardika pada tahun 1998 itu.
Persoalan saya dengan konsep Tri Darma Mahardika di atas ialah bahwa
ketiga rumusan itu tidak memenuhi syarat koherensi dan simetri. (Baca:
Vektor,
Fraktal, dan Delapan Etos). Belakangan, tiba-tiba saya menyadari
bahwa di lapisan paling luar apa yang disebut sebagai kunci-kunci
sukses, termasuk Tri Darma Mahardika di atas, ternyata tak lain tak
bukan adalah sejumlah perilaku positif. Menyadari hal itu maka saya
segera mendaftarkan semua perilaku sukses yang dianjurkan oleh
buku-buku bacaan saya. Ratusan jumlahnya. Daftar ini kemudian saya
tata menurut jenisnya, lalu saya mampatkan dan rampatkan. Akhirnya
saya menemukan delapan pasang perilaku utama sukses yang sejati,
yaitu mahardika, yang diterapkan melalui dan di dalam setiap
peristiwa kerja, yakni bahwa:
• Kita harus mampu bekerja tulus penuh rasa syukur.
• Kita harus mampu bekerja benar penuh rasa tanggungjawab.
• Kita harus mampu bekerja tuntas penuh integritas.
• Kita harus mampu bekerja keras penuh semangat.
• Kita harus mampu bekerja serius penuh kecintaan.
• Kita harus mampu bekerja cerdas penuh kreativitas.
• Kita harus mampu bekerja tekun penuh keunggulan.
• Kita harus mampu bekerja paripurna penuh kerendahan hati.
Saya melihat bahwa Tri Darma Mahardika telah mewajah ke dalam
delapan perilaku kerja di atas, bahkan lebih lagi, sehingga saya pun
semakin antusias. Namun, ada satu masalah lagi yang menghadang. Saya
amati, meskipun orang tahu apa yang seharusnya dilakukan, sebaiknya
dikerjakan, seyogianya dijalankan, namun ternyata orang tidak
melakukannya juga, entah karena tidak serius, tidak tahu, atau tidak
mau. Saya sadari sejak lama, faktor inilah yang membuat manusia
susah sekali berubah dan berkembang. Di intinya, terdapat kengganan
besar yang berurat-berakar pada diri manusia: kelembaman mental yang
membatu, kemalasan intelektual yang mencandu, kedegilan moral yang
membeku, dan kegelapan spiritual yang menghantu.
Sebagai konsultan, guru, dan instruktur saya selalu bertemu dengan
“setan belang” ini, baik di dalam kelas, di ruang kerja, dan di
rapat-rapat organisasi. Ketika masih mahasiswa, saya mula-mula
mencermatinya, lalu terpana heran melihat jurang amat senjang antara
wacana Pancasila yang besar-besaran ditatarkan dan perilaku lapangan
para pesertanya—bahkan para manggalanya, terutama—di semua pentas
kekuasaan.
Sesudah mencari lebih jauh, saya merasa menemukan jawabannya. Sebab
singkatnya: orang tidak sungguh-sungguh percaya pada “hal yang baik”
tersebut. Niat baik, kehendak baik, keinginan baik, ternyata tidak
cukup. Banyak orang bahkan melarikan dari dari kehendak baiknya
untuk kemudian, ironisnya, di ujung sana, teringkus dalam jaring
”kebodohan” yang membelenggu dan melumpuhkan.
Jadi untuk berubah, bertumbuh dan berkembang, orang harus percaya
dulu secara genuine pada sesuatu–apakah gagasan, nilai, atau ajaran
luhur–barulah sesudahnya dia melakukan hal tersebut. Tidak usah
dipaksa-paksa, diiming-iming, atau dirayu-rayu, dia pasti
melakukannya. Jika misalnya orang sangat percaya kepada dukun maka
orang itu pasti mendatangi dukun jika sakit, bukannya ke dokter.
Misal lain, jika orang tidak yakin pada manfaat bersekolah, maka
sedikit saja menemui hambatan orang itu pasti berhenti sekolah, lalu
biasanya, terjun ke dunia cari uang. Sekaligus, saya menemukan the
power of belief buat saya sendiri.
Jadi, bagaimana agar kedelapan pasang perilaku kerja di atas
dilakukan orang? Jelas sekarang, orang harus percaya dulu pada
paradigma kerja yang membuahkan perilaku kerja tersebut. Oleh karena
itu saya membutuhkan delapan paradigma kerja yang sudah terbukti
secara universal diterima, dimana buah-buah utamanya adalah delapan
perilaku kerja tadi. Dengan proses yang sama, maka saya pun
menemukan delapan paradigma tersebut. Kini lengkaplah formulasi etos
kerja yang saya cari:
Etos 1. Kerja adalah rahmat:
Aku bekerja tulus penuh rasa syukur.
Etos 2. Kerja adalah amanah:
Aku bekerja benar penuh rasa tanggungjawab.
Etos 3. Kerja adalah panggilan:
Aku bekerja tuntas penuh integritas.
Etos 4. Kerja adalah aktualisasi:
Aku bekerja keras penuh semangat.
Etos 5. Kerja adalah ibadah:
Aku bekerja serius penuh kecintaan.
Etos 6. Kerja adalah seni:
Aku bekerja cerdas penuh kreativitas.
Etos 7. Kerja adalah kehormatan:
Aku bekerja tekun penuh keunggulan.
Etos 8. Kerja adalah pelayanan:
Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati
Ketika delapan ungkapan etos ini saya tampilkan dalam format
geometris, dalam hal ini oktagon, tampaklah semuanya tertata secara
koheren, simetris, dan komprehensif. Demikian pula secara linguistik.
Maka hati saya pun merasa puas dan bahagia.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Sebelumnya:
• Pesta Konglomerat
– 21 Februari 2007
Sebelumnya:
• Kompas: Dari Fisika ke Mana-Mana
– 16 Februari 2007
•
Semangat Keibuan di Ruang Kerja
– 14 Februari 2007
•
Tragedi Sekolah Binatang
– 12 Februari 2007
•
Vektor, Fraktal, dan Delapan Etos
– 9 Februari 2007
•
Kompas: Mari Bernazar
– 2 Februari 2007
|
|