|
Artikel
SEMANGAT KEIBUAN DI RUANG KERJA
Oleh: Jansen H. Sinamo [14 Februari
2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali
Tersebutlah kisah seorang manajer
yang gagal memimpin sebuah projek sehingga per-usahaannya rugi lebih
sejuta dolar. Tom Watson, pendiri IBM yang legendaris itu, kemudian
memanggilnya. Merasa bahwa dirinya bakal dipecat, si manajer
mendahului vonis sang bos dengan berkata, "Tuan, silakan memecat
saya, saya memang terbukti gagal." Tanpa diduga Tom Watson membentak,
"Gila lu! Kamu satu-satunya karyawan yang disekolahkan dengan biaya
sebesar kerugian itu, kamu pikir saya tolol mau memecatmu?" Konon,
manajer yang mendapat pengampunan ini kelak menjadi salah satu
eksekutif terbaik di IBM.
Inilah kisah yang telah diulang-ulang orang dengan berbagai versi
sampai kita tidak tahu lagi versi mana yang benar. Tentu dengan
berbagai pesan pula. Tetapi kali ini saya mau pakai sebagai
ilustrasi rahmat atau anugerah.
Rahmat, anugerah, pengampunan, pertobatan, kasih sayang, memang
seolah-olah bukan bahasa orang bisnis. Itu bahasa para begawan yang
tiap hari menggumuli kitab suci. Di kantor orang lazimnya berbicara
tentang reward and punishment, perampingan dan restrukturisasi, hak
dan tanggung jawab. Ya, semuanya bahasa macho, sangat maskulin.
Dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang terasa keras, tegas,
dingin, disiplin dan menakutkan.
Akan tetapi, hidup termasuk kerja tidak mungkin berwatak maskulin
saja. Maskulin memang baik, tetapi terlalu maskulin, alangkah
gersangnya, yang ujung-ujungnya membawa kematian. Maka ketika dewasa
ini bau sangit kematian ada di mana-mana, patutlah kita curiga,
jangan-jangan dosis maskulinitas di republik ini sudah kelewatan.
Saya memang menduga demikian. Dunia politik kita, dari Ken Arok
sampai Panembahan Senopati, dari Prabu Kartanegara sampai Presiden
Soeharto, memang selalu keras, bahkan terlalu keras. Dengan mudah
kita lihat pula bahwa dominasi kejantanan yang keras itu amat nyata
di dunia bisnis, hukum, pendidikan, bahkan dalam agama.
Akibat dosis kebapakan yang berkelebihan itu, terjadilah
ketidakseimbangan. Jika Anda masih ingat akan film The Sound of
Music, disiplin militer yang diterapkan sang bapak yang telah
menduda itu, justru mematikan jiwa ketujuh anak-anaknya di tengah
niat baiknya mencintai mereka. Tetapi life back to normal ketika si
cantik hangat, suster Maria, representasi femininitas universal,
memasuki kehidupan rumah sang kapten. Maka kembalilah tawa, ceria,
canda, sukacita, kehangatan, musik, pengampunan, rahmat dan cinta ke
dalam kehidupan. Indah dan mengharukan. Tidak heran mendiang
Jenderal Alamsyah Ratuperwiranegara sampai menonton film itu belasan
kali.
Rumah tangga republik ini, saya kira, juga rusak berat justru karena
dominasi jiwa kelaki-lakian telah terlalu kuat. Bahkan Fritjof
Capra, sarjana fisika yang juga mistikus itu, dalam The Turning
Point: Science, Society, and The Rising Culture, berpendapat bahwa
krisis global dewasa ini, akar terdalamnya terletak pada
ketidakseimbangan unsur kebapakan dan keibuan ini dalam tatanan
ideo-politikal, sosio-kultural, bisnis-ekonomikal,
sains-teknologikal, dan bio-ekologikal kita. Semuanya terlalu macho,
jantan, patriarkal, kelaki-lakian, kaku, keras dan mekanistik.
Saya mempromosikan doktrin kerja yang berwatak feminin untuk
mengimbangi watak maskulin yang sudah dominan selama ini. Menurut
kamus Webster, rahmat adalah pemberian baik yang kita terima bukan
karena jasa kita, tetapi karena kebaikan sang pemberi. Jadi, respons
yang tepat hanyalah bersyukur dan berterima kasih. Hal inilah yang
dirasakan manajer IBM dalam kisah di atas. Rasa syukurnya menjadi
motivasi akbar untuk berprestasi karena hatinya tersentuh dan karena
itu ia diubahkan secara fundamental. Hukuman pecat sebagai
konsekuensi keadilan dalam dunia manajemen yang macho, berubah
menjadi pengampunan dan rahmat yang membuka peluang baru untuk
memperbarui diri. Inilah watak keibuan yang penuh kasih sayang. Dan
elemen keibuan inilah yang hilang di Aceh, Ambon, Poso, dan
kota-kota lain di negeri kita yang kini sedang gering.
Saya berkata, bahwa kerja pun adalah rahmat, jadi seyogianya
disyukuri setidaknya karena tiga alasan. Pertama, dari segi
spiritual, kerja itu secara hakiki adalah rahmat Tuhan. Artinya,
lewat pekerjaan, Tuhan memelihara kita. Kedua, di samping upah
finansial kita juga menerima banyak sekali faktor plus dari
pe-kerjaan kita, misalnya fasilitas belajar, kesempatan mengunjungi
negeri asing, dan wahana hubungan silaturahmi. Faktor-faktor plus
ini pun adalah rahmat juga. Ketiga, potensi kerja diri kita (skills,
knowledge) adalah God's endowment kepada kita secara personal yang
kemudian kita aktualisasikan dalam bekerja mengolah Bumi dan segenap
isinya menjadi produk jadi yang bernilai tambah. Yang terakhir ini
pun rahmat juga adanya. Jadi dari mana pun Anda lihat, selalu dapat
kita akui bahwa work is really a grace. Kerja adalah rahmat.
Karena itu sepantasnyalah kita bekerja dengan hati yang tulus dan
bersih. Bekerja tidak boleh bersungut-sungut, mengeluh, atau
setengah hati karena kita sadari sekarang bahwa bekerja adalah
bentuk terima kasih kita kepada Tuhan, kepada negara, kepada rakyat,
kepada pemilik modal, atau kepada manajemen.
Bayangkan seorang fakir mampir di rumah Anda. Karena Anda berbelas
kasihan, fakir itu Anda undang masuk dan menghidanginya makanan dari
meja keluarga Anda. Tetapi ketika ia mulai makan, ia mengeluh betapa
gosongnya tempe goreng masakan nyonya rumah. Ia juga meradang betapa
kurang pedasnya sambel ulek dari dapur Anda.
Apakah reaksi Anda sebagai tuan rumah? Jika Anda menendang pantatnya
dan mengusirnya keluar, hal itu sangat pantas. Itu adil baginya
karena ia tidak tahu diri.
Akan tetapi saya katakan: sesungguhnya saya dan Anda adalah fakir di
Bumi ini. Dalam hal inilah saya tidak sependapat dengan Pramudya
Ananta Toer yang berkata bahwa planet ini adalah bumi manusia.
Bagaimana hal itu mungkin? Mengerti hal-ikhwal Bumi ini saja kita
tidak becus, mengaku diri pula pemiliknya. Atau jika benar manusia
adalah pemilik Bumi, mengapa kah pertiwi ini kita kotori dan perkosa
dengan amarah meradang.
Al Quran mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di Bumi milik
Allah. Artinya, manusia adalah pengelola yang harus ber-tanggung
jawab. Alkitab mengajarkan bahwa manusia adalah steward (penatalayan)
di Bumi ciptaan Tuhan. Bagaikan stewardess di pesawat, tugas kita
adalah menata sumberdaya alam milik-Nya dan melayankannya untuk
kesejahteraan semua penumpang kapal besar ruang angkasa bernama
planet Bumi. I Ching mengajarkan bahwa kita harus hidup harmonis
dengan alam. Sedangkan Iliad mengajarkan bahwa bumi adalah Gaia, the
living mother earth, yang harus disayangi sebagai balas cinta
kasihnya.
Secara hakiki bekerja adalah mengolah sumberdaya bumi untuk
kesejahteraan kita bersama. Apa pun yang kita kerjakan, yang high
tech sekalipun, yang konseptual sekalipun, tetaplah tidak terlepas
dari unsur-unsur Bumi. Meskipun menurut Mahatma Gandhi bahwa Bumi
tidak mampu memuaskan keserakan satu orang saja, tetapi Bumi dengan
segenap kekayaannya, dengan segenap kasih sayangnya sebagai Ibu
Pertiwi, pasti lebih dari cukup menyejahterakan semua anak-anaknya
melalui kerja.
Maka kita harus mengembangkan sebuah kesadaran baru, a new
awareness, a deeper consciousness bahwa kita sesungguhnya sudah
terlebih dahulu menerima dengan limpah, dari Bumi, dari Tuhan, dari
organisasi, dari negara dan rakyat, maka kita pun sepatutnya
membalasnya dengan limpah pula.
Menyadari bahwa rahmat selalu melimpah, maka kita pun akan terimbas
untuk bermental limpah terhadap sekeliling sehingga membentuk
karakter limpah (abundance character) dalam diri kita. Penampakannya
bermacam-macam, antara lain: senang menolong; tidak pelit; tidak
takut kekurangan; selalu merasa ada alternatif di samping pilihan
yang obvious; mampu memberi dulu, kemudian menerima; sanggup menabur
dulu, kemudian menuai; selalu bersikap menawarkan; selalu berpikir
kontributif.
Manusia berkarakter limpah memang berjiwa besar karena ia selalu
sadar bahwa Sang Maha Pemberi selalu merahmati dengan limpah. Dengan
jiwa besar, hati penuh syukur, maka dia akan selalu diliputi
sukacita sejati dan rasa bahagia. Sukacita kerja ini (the joy of
working) akan membuatnya produktif dan mampu menjadi aktor positif
dalam menciptakan suasana kerja yang gembira dan menyenangkan. Di
mana pun berada, ia selalu menjadi protagonist, bukan antagonist.
Jadi jelaslah bekerja dengan modus ini akan mentransformasikan kita
menjadi pribadi yang kaya, dewasa dan lembut.
Semogalah demikian!
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Dari Fisika ke Mana-Mana
– 16 Februari 2007
Sebelumnya:
• Tragedi Sekolah Binatang
– 12 Februari 2007
•
Vektor, Fraktal, dan Delapan Etos
– 9 Februari 2007
•
Kompas: Mari Bernazar
– 2 Februari 2007
•
Kompas: Kecerdasan Pamungkas dan
Kecerdasan Paripurna
– 29 Januari 2007
•
Sahabat Ketiga
– 18 Januari 2007
|
|