Artikel
Sebatang Bambu

Oleh: Jansen H. Sinamo [7 Juni 2007] - Dibaca sebanyak kali

Seni harus mampu membebaskan diri dari belenggu kemapanan, dan kreativitas harus mampu memberi nilai tambah bagi kehidupan ini.

Pagi itu si petani tua menjumpai serumpun bambu di halaman rumahnya. Hari terus melaju, dan bambu-bambu itu pun semakin bertambah tinggi dan kuat. Petani tua itu berdiri di depan sebatang bambu yang tertinggi dan berkata, “Sobat, aku membutuhkanmu.”

Bambu itu pun menjawab, “Tuan, pakailah aku seperti yang engkau inginkan, aku siap membantu.” Lalu petani itu mulai berbicara serius, “Agar aku bisa memakaimu, engkau harus dibelah menjadi dua.”

Serumpun bambu bergoyang kencang. Mereka terkejut mendengar pernyataan si petani. Sebatang bambu itu pun gemetar, “Membelahku? Mengapa? Tidakkah tuan melihat bahwa aku ini bambu tertinggi dan terbaik di antara teman-temanku? Tuan, jangan belah aku. Pakailah aku seperti yang tuan kehendaki, tapi, please, jangan belah aku....”

Si petani mencoba memberi penjelasan kepada bambu itu, “Begini, jika aku tidak membelahmu, aku tidak bisa memakaimu.” Seluruh flora di kebun belakang rumah jadi heboh. Angin juga ikut menahan napasnya. Bambu yang tinggi semampai, anggun nan menawan itu pun berkata lirih, “Tuan, jika memang itu adalah satu-satunya jalan untuk memanfaatkan aku, maka lakukanlah! Aku menurut....”

“Tapi, itu hanya awalnya saja, “ petani tua itu ingin menjelaskan rencananya lebih lanjut, “Aku juga harus memotong semua cabang dan daunmu.”

“Ya Tuhan, jangan biarkan ini menimpaku!” jerit si bambu, “Tuan, apa yang akan tuan lakukan benar-benar akan merusak penampilanku. Tuan, kalau bisa, janganlah pangkas cabang dan daunku.”

“Jika aku tidak memangkas semua cabang dan membersihkan daunmu, bagaimana aku bisa memakaimu?” si petani mulai mendesak si bambu.

Matahari ikut prihatin dan menyembunyikan wajahnya. Sekawanan kupu-kupu terbang mengitari bambu itu dengan gelisah. Serumpun bambu di kebun benar-benar terpukul, dan akhirnya sebatang bambu itu menjawab, “Tuan, pangkaslah aku.”

“Sobat, aku juga harus menyakitimu lagi. Aku harus mengambil hati dan bagian dalammu. Aku harus mengeluarkan isi tubuhmu. Jika ini tidak aku lakukan, aku tidak akan bisa memakaimu.” Tak ada jawaban lagi dari sebatang bambu itu kecuali memberi isyarat patuh dan setuju saja.

Disaksikan serumpun bambu di kebun, si petani menebang bambu itu, membelahnya menjadi dua, memangkas semua cabang dan daun, serta mengosongkan ruas-ruas dalam tubuh bambu itu. Lalu, si petani membawa belahan bambu ke sebidang tanah yang kering, dan menghubungkannya dengan sumber air.

Air pun mengalir melalui bambu, membasahi dan membuat subur tanah yang kering. Akhirnya bambu menjadi paham akan hakikat hidupnya. Bambu memang harus dipotong, dibelah, dan dipangkas agar menjadi berkat bagi kehidupan. Demikian pula, seni harus mampu membebaskan diri dari belenggu kemapanan, dan kreativitas harus mampu memberi nilai tambah bagi kehidupan ini.

*) Dipetik dari kumpulan tulisan Bp. Jansen H. Sinamo dalam kontempelasi yang berjudul "Dari Pemikat Perkutut sampai Pemenang Nobel."
_____________________________________

Belum ada komentar

Silakan Isi Komentar Anda

_____________________________________

Selanjutnya:

7 Mentalitas Profesional – 19 Juni 2007

Sebelumnya:

Damon dan Phytias – 30 Mei 2007
Parakitri dan Kho Ping Hoo – 24 Mei 2007
Gelar No, Ilmu Yes – 15 Mei 2007
Bentara Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia – 4 Mei 2007
Narko-Duit – 27 April 2007
7 Rasa Takut – 24 April 2007
Indonesia Unggul, Mungkinkah? – 18 April 2007