|

Parakitri dan Kho
Ping Hoo
Oleh: Jansen H. Sinamo [24
Mei 2007] - Dibaca sebanyak kali
Menurut Ali Sadikin buku Cucu
Wisnusarman kumpulan kolom Parakitri T Simbolon memiliki nilai
edukatif yang tinggi karena mengangkat dan menggambarkan secara
baik realitas dan problem sosial yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Cucu Wisnusarman juga menjelaskan
sebab-musababnya, yaitu kultur dan perilaku budaya yang masih
didominasi oleh feodalisme, tingkat kesadaran masyarakat yang
relatif masih rendah, dan struktur sosial-politik dan ekonomi
yang tidak demokratis dan tidak adil. Jadi, Cucu Wisnusarman
perlu dibaca oleh warga dan tokoh masyarakat, tak terkecuali
para birokrat sipil dan militer, serta terutama generasi muda.
Saya pasti setuju dengan Bang Ali, namun selain itu, Cucu
Wisnusarman juga sebaiknya dibaca oleh alumni Kho Ping Hoo
karena di sini kita akan bertemu lagi, dalam format yang lebih
segar, cerdas, dan kontekstual dengan ujar-ujar khas yang biasa
kita temui dulu ketika membaca Kho Ping Hoo.
Apa kesamaan Parakitri dengan Kho Ping Hoo? Sedikitnya dua.
Keduanya merupakan penulis produktif di bidang yang berbeda.
Parakitri itu wartawan kondang, asal Samosir, juga kolomnis, dan
pengarang. Sedangkan Kho Ping Hoo pengarang puluhan cerita silat,
asal Solo, yang juga amat kondang.
Mereka berdua juga penganjur dan penghayat Kebijaksanaan Timur
yang berbasis pada Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme dengan
cara yang berbeda pula. Bagi Kho Ping Hoo, hal itu umumnya
terlihat dengan sangat gamblang dan mencolok dalam semua kisah
silatnya. Tapi bagi Parakitri, hal itu khususnya tampak secara
halus dan elegan melalui Cucu Wisnusarman. Untuk memastikan hal
itu, saya membaca ulang Pedang Kayu Harum (PKH, 49 jilid), salah
satu komik legendaris Kho Ping Hoo, serentak dengan Cucu
Wisnusarman edisi terbaru.
Karya-karya Kho Ping Hoo saya baca di zaman SMP-SMA awal 70-an,
sedangkan Cucu Wisnusarman saya baca ketika menjadi mahasiswa
pada akhir 70-an sampai awal 80-an, yang terbit sebagai serial
kolom di Kompas kala itu. Kini dalam bentuk buku, Cucu
Wisnusarman tampil lengkap dan kompak. Tak pelak lagi, roh PKH
dan Cucu Wisnusarman memang Kebijaksanaan Timur tadi. Bandingkan
misalnya dua kutipan saja. Kho Ping Hoo: ”Siapa mendekati nikmat
dan menjauhi derita takkan dapat merasai bahagia ” (PKH j. 18,
h. 40). Parakitri: ”Kamu tampak gembira sekali, cucu degil,”
sambut si Kakek begitu cucunya tiba. ”Oleh karena itu,
bersiaplah untuk sedih.” (Cucu Wisnusarman h. 7). Dan ratusan
kalimat bijak begini bertaburan dalam kedua buku.
Untuk berkotbah, Kho Ping Hoo suka memakai mulut Ketua Perguruan
Silat Siaw-lim-pai atau Kun-lun-pai. Kadang, meminjam mulut
tokoh aneh semacam Siaw-bin Kuncu (Budiman Berwajah Ramah). Dan
terutama melalui dialog dan renungan batin Cia Keng Hong, sang
protagonis utama, pewaris Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum),
pemilik tunggal ilmu mujizat Thi-khi-i-beng (Mencuri Sukma
Memindahkan Nyawa), dan maestro dua ilmu silat paling sakti di
dunia kangow: San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) dan Thai
Kek Sinkun (Ilmu Sakti Kakek Tiada Tanding). Kedua ilmu terakhir
ini kelasnya bagaikan Teori Relativitas dan Teori Kuantum dalam
fisika yang cuma bisa dikuasai tuntas para fisikawan kelas atas
saja.
Di fihak lain Parakitri memakai dua mulut bijak: Wisnusarman dan
Laotan. Dan tentu, para Cucu Wisnusarman yang banyak itu:
mahasiswa, petani, pilot, guru atau siapa saja. Tema
dialog-dialog Cucu Wisnusarman sendiri klasik, intinya,
menentang kejahatan, mengolok-olok fanatisme, mengejek
sloganisme, membuka kedok dogmatisme, seraya menertawakan
kedangkalan, kebodohan, dan kemunafikan.
Ciri utama dialog para tokoh dalam Cucu Wisnusarman cerdas,
tajam, dan filosofis. Di jantungnya, terkandung ajaran-ajaran
mulia, yang jika dikalimatkan ulang, beberapa ajaran itu bisa
berbunyi: (a) Teruslah belajar agar mengerti hakikat manusia dan
faham tabiat alam semesta; (b) Kebenaran itu berwajah banyak,
maka gunakanlah nalar dengan baik dan teruslah mencari jejaring
sebab-akibat ke segala penjuru sehingga wajah kebenaran semakin
tersingkap; (c) Manusia bukanlah jabatan atau gelarnya, bukan
pula keinginan atau cita-citanya, tetapi apa yang dikerjakannya
sesuai jati dirinya, maka mengenal diri adalah permulaan
kebijaksanaan; (d) Hidup itu bagaikan musim, datang silih
berganti, begitu juga status dan jabatan, tiada yang tetap; maka
janganlah bersikap mentang-mentang.
Bandingkan dengan Kho Ping Hoo misalnya: (a) Manusia utama
mencari kebenaran, manusia rendah mencari keuntungan; Manusia
utama menyayang jiwanya, manusia rendah menyayang hartanya;
Manusia utama ingat akan dosa-dosanya, manusia rendah ingat akan
jasa-jasanya; Manusia utama mencari kesalahan diri sendiri,
manusia rendah mencari kesalahan orang lain. (PKH j. 21 h. 50);
(b) Selalu menang tanpa merebut, mendapat sambutan tanpa berkata,
semua datang tanpa memanggil, selalu berhasil tanpa rencana,
jalan langit lebar dan luas, biar jarang namun tiada yang bocor.
(PKH j. 21 h. 35).
Ciri khas Cucu Wisnusarman yang lain ialah menggugat, memecahkan
kebekuan nalar, liar, serta lucu bukan main. Kita bisa terhenyak
campur geli misalnya dalam ”Siapakah Batak?” (h. 197); atau
tersedak oleh plesetan ungkapan ”Hati boleh panas, tapi mata
jangan melotot.” (h. 10). Atau tertohok oleh ini: ”Tuan-tuan dan
nyonya-nyonya, silakan masturbasi bersama di lapangan. Bila
perlu buka baju. Orang lewat, acuhkan. Tak usah ragu, inilah
obat mujarab pembebasan.” (h. 243). Dijamin, tak ada pornografi
di sini, dan dijamin pula Anda pasti ketawa sampai puas.
Sekali lagi, Cucu Wisnusarman pas menjadi bacaan lanjutan bagi
para mantan penggemar Kho Ping Hoo untuk bermenung, kadang
bingung, tertawa, dan menjadi bijak. Bisa sebijak apa?
Tergantung! Jika Anda membawa gentong maka segentong pula bijak
yang diperoleh, tapi jika cuma bawa centong, ya secentong pula
bijaknya.
Menurut Daniel Dhakidae yang menulis epilog buku ini Anda perlu
mengosongkon diri dari ilmu-ilmu Anda untuk memahami pesan-pesan
Cucu Wisnusarman. ”Singkirkan purbasangka. Jangan curigai
kapitalisme. Jangan terlalu ingin disebut radikal, jangan malu
disebut konservatif. Jangan malu disebut ’maling’, jangan bangga
disebut ’pahlawan’, apalagi ’intelektual dan budayawan’. Baru
setelah itu, buka bukunya dan coba simak apa yang bisa diperoleh
dari buku ini.” katanya lagi. Jadi, selain daripada yang disebut
Bang Ali di atas, buku ini pun baik juga menjadi konsumsi
lulusan sekolah filsafat yang faham pikiran Foucault, Erasmus,
Nietsche, atau Fuentes.
Apakah berarti Cucu Wisnusarman cocok buat semua golongan?
Tunggu dulu! Lebih baik bertanya pada penulis. Ditujukannya buat
siapa Cucu Wisnusarman ini? Dan dengarlah kata Parakitri, “Saya
menulis Cucu Wisnusarman pada saat paling gelap dalam
mempertahankan keutuhan nurani. Saya tak boleh merasa pahit
terus-terusan. Saya harus memiliki wilayah bebas, betapa sempit
pun, di tengah keadaan yang serba mengekang itu. Untuk itu saya
perlu mengerti duduk perkara, bukan sekadar isyu. Hanya dengan
itu saya dapat tetap setia pada persoalan dasar sekaligus
berlapang dada terhadap kekurangan dan keterbatasan berbagai
pihak. Begitulah Cucu Wisnusarman menjadi liang perlindungan
sekaligus langit pengharapan dan penjelajahan baru.” (h. ix).
Ternyata Cucu Wisnusarman tak ditujukan buat siapa-siapa.
Penulis hanya memaksudkankannya buat dirinya pribadi yang sedang
bergumul dengan berbagai masalahnya sendiri. Kalau toh ada juga
pembaca yang ikut-ikutan mendapat manfaat, tertawa lalu menjadi
bijak, bahkan mampu berlapang dada terhadap kekurangan dan
keterbatasan berbagai pihak, itu namanya unintended
consequences. Dan barangkali ini pun gaya Tao seorang Parakitri
”Wisnusarman” Simbolon.
Selain karena sejumlah salah cetak yang cukup mengganggu bagi
pembaca teliti -- maklumlah, Cucu Wisnusarman merupakan produksi
perdana Penerbit Nalar, namun karena sudah membaca Cucu
Wisnusarman mudah-mudahan Anda mampu berlapang dada seperti
Parakitri -- keseluruhan dialog dalam Cucu Wisnusarman tetaplah
seru dan segar seperti juga komik-komik Kho Ping Hoo.
*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Buku Edisi Minggu,
3 Juli 2005
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Damon dan
Phytias – 30 Mei 2007
Sebelumnya:
• Gelar No,
Ilmu Yes – 15 Mei 2007
• Bentara
Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia
– 4 Mei 2007
• Narko-Duit
– 27 April 2007
• 7 Rasa
Takut
– 24 April 2007
• Indonesia
Unggul, Mungkinkah?
– 18 April 2007
• Menatap
Indonesia di Panggung Bencana: Masih Adakah yang Bisa Kita
Perbuat?
– 04 April 2007
• Siasat
Kelelawar
– 29 Maret 2007 |
|