|
Artikel
7 Rasa Takut
Oleh: Jansen H. Sinamo [24
April 2007] - Dibaca sebanyak kali
Sekitar dua milenium lalu,
Herodes melakukan kebodohan dengan membunuh ratusan bayi
Betlehem yang tidak bersalah karena takut pada ramalan orang
Majus bahwa seorang raja telah lahir di antara rakyatnya.
Dikiranya sang bayi akan menggulingkan dirinya. Orang Majus dari
Timur itupun ditipunya. Tapi kita tahu, Herodeslah yang ditipu
sejarah.
Satu milenium kemudian, sekelompok raja dan pemimpin agama di
Eropa melakukan kebodohan yang mirip dengan mengobarkan Perang
Salib yang memakan jutaan korban karena takut kemuliaan Tuhan
dihinakan. Mereka merasa telah berjasa besar di hadapan Tuhan
itu, tetapi kita tahu, merekalah yang berutang di mata sejarah.
Menjelang akhir milenium kedua, Amerika memerangi Vietnam karena
takut pada hantu komunisme. Mereka menyangka bakal jadi pahlawan
dunia, tapi kita tahu, Amerika lah yang jadi pecundang di mata
semua, termasuk di mata rakyatnya sendiri.
***
Anda dan saya juga, dalam skala yang lebih kecil, pasti pernah
berbuat kebodohan, yang belakangan kita sesali.
Mengapa kita begitu bodoh? Apa esensi kebodohan itu sehingga
banyak sarjana, master, dan doktor sering tampil bodoh di mata
rakyat biasa?
Hikmah sejarah sebenarnya sudah mengajarkan: kebodohan selalu
muncul dari ketakutan. Takut malu, malinglah kita. Takut pada
realita, bohonglah kita. Takut kalah, ganaslah kita. Takut
miskin, rampoklah kita.
Sesungguhnya benarlah pendapat ini: induk segala kebodohan ialah
rasa takut dan akar segala dosa ialah ketakutan. Begitulah,
semua kebodohan sosio-ekonomi-politik di negeri ini sesungguhnya
bermula dari ketakutan, khususnya ketakutan kaum elit penguasa.
Kini, ketika milenium ketiga baru saja menggelar tikar, dapatkah
kita bebas dari ketakutan yang memperanakkan kebodohan dan
mempercucukan kesalahan itu? Mungkin tak banyak yang punya waktu
memikirkannya karena terbelenggu oleh tujuh rasa takut utama:
takut miskin, takut disalahkan, takut sakit, takut dibenci,
takut kalah, takut tua, dan takut mati. Padahal benarlah
ungkapan-ungkapan paradoksal ini: Barangsiapa takut miskin akan
kehilangan kekayaannya. Barangsiapa takut dikritik akan
kehilangan rasa damainya. Barangsiapa takut sakit akan
kehilangan kesehatannya. Barangsiapa takut dibenci akan
kehilangan para pecintanya. Barangsiapa takut kalah akan
kehilangan kemenangannya. Barangsiapa takut tua akan kehilangan
kemudaannya. Barangsiapa takut mati akan kehilangan kehidupannya.
Tujuh rasa takut ini sesungguhnya adalah setan belang yang telah
mencuri kehidupan, kesejahteraan, kekayaan, damai sejahtera, dan
kegembiraan kita. Tegasnya, ketakutan adalah musuh terbesar kita.
Sebagai guru saya dapat bersaksi bahwa hambatan utama bagi
perkembangan, pertumbuhan, dan kemajuan manusia di tingkat
individu, organisasi dan sosial, tanpa kecuali, semuanya adalah
ketakutan dalam berbagai bentuk.
Kaum agama takut kepada kaum nasionalis maka agama pun menjadi
momok. Kaum nasionalis takut kepada kaum agama maka nasionalisme
pun menjadi monster. Kaum sekuler takut kepada kaum
fundamentalis maka sekularisme pun menjadi hantu. Kaum
fundamentalis takut kepada kaum sekuler maka fundamentalisme pun
menjadi setan gundul.
Juga, tentara takut kepada rakyatnya maka tentara pun menjadi
tukang tembak. Rakyat takut kepada tentara maka rakyat pun
menjadi demonstran perusuh. Presiden takut kepada DPR maka
Presiden pun menjadi despot. DPR takut kepada Presiden maka DPR
pun menjadi tukang bantai.
Demikian pula, buruh takut kepada majikan maka serikat buruh
menjadi musuh. Majikan takut kepada buruh maka manajemen menjadi
penghisap. Pemimpin takut kepada anakbuah maka atasan menjadi
diktator. Anakbuah takut kepada atasan maka bawahan menjadi kaum
mbalelo.
Padahal, cita-cita sosial kita ialah demokrasi berkemajemukan
dan berkemakmuran. Visi organisasional kita ialah sukses
tertinggi. Dan dambaan personal kita ialah kesentosaan. Tetapi
saya berpendapat sekarang: selama ketakutan masih berkuasa di
hati kita, demokrasi sejati tak akan tercipta, visi organisasi
tak akan tercapai, dan aspirasi pribadi kita tak akan tergapai.
Dan dalam kaitan ini, saya katakan pula: musuh terbesar
demokrasi bukanlah fasisme/militerisme melainkan jiwa penakut;
musuh utama organisasi/perusahaan bukanlah persaingan melainkan
roh penakut; dan musuh nomor satu kita ialah hati penakut.
Jadi siapakah yang menciptakan momok, monster, atau setan gundul?
Jawabnya: kita sendiri dalam ketakutan kita. Artinya, sang
penakutlah yang menciptakan setan bagi dirinya. Sayangnya, “the
devil within me” dapat memicu bangkitnya “the devil within you”,
kemudian “the devil everywhere”.
Supaya terbebas dari rasa takut maka kita memerlukan tiga hal:
imajinasi positif, daya cipta kreatif, dan kesadaran bahwa kita
lebih besar dari ketakutan itu sendiri. Pada saat itulah kita
memulai karir sebagai manusia rahmatan.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Sebelumnya:
• Narko-Duit
– 27 April 2007
Sebelumnya:
• Indonesia
Unggul, Mungkinkah?
– 18 April 2007
• Menatap
Indonesia di Panggung Bencana: Masih Adakah yang Bisa Kita
Perbuat?
– 04 April 2007
• Siasat
Kelelawar
– 29 Maret 2007
• Pustakaloka
Kompas: The 8 Habit dan 8 Etos: Merambah Jalan Baru Menuju
Keunggulan
– 22 Maret 2007
• Charlo
Mamora, Sang Arsitek Transformasi Astra
– 16 Maret 2007
• Rubrik
Bentara Kompas: Hidup yang Erotik–
14 Maret 2007 |
|