|
Artikel
Pemetik Teh
Oleh: Jansen H. Sinamo [25 Juni 2007] - Dibaca sebanyak kali
Para wanita pemetik teh itu sosok
teladan paling alami bagi mereka yang ingin belajar bekerja
tuntas.
Hamparan hijau perdu-perdu teh itu telah menunggu para wanita
pemetiknya. Perkebunan teh ini biasanya terletak di dataran
tinggi, di pinggang gunung dengan ketinggian antara 800 hingga
2.000 meter di atas permukaan laut. Curah hujan relatif tinggi
dengan rata-rata suhu berkisar 18-23 derajat Celcius. Apa arti
semua data topografi ini? Data-data itu menunjukkan bahwa
perkebunan teh itu selalu di dataran yang terjal, dingin dan
kaya akan kabut tebal.
Di tempat seperti inilah para wanita pemetik teh bekerja setiap
harinya. Hari usai mentari terbit, pukul enam pagi mereka pergi
hingga menjelang azhar. Di pundak merekalah pabrik-pabrik teh
meletakkan target produksinya. Pemetik teh itu tulang punggung
produksi teh nasional kita. Namun, seperti petani dan juga
nelayan, kemapanan ekonomi mereka tak pernah baik. Penghasilan
para wanita pemetik teh, yang rata-rata adalah tamatan sekolah
dasar, dan yang bekerja sekadar untuk membantu keluarga atau
para suami masih bertengger di bawah upah minimal.
Seperti apa pekerjaan mereka sesungguhnya? Sederhana tapi cukup
berat! Memetik teh harus memahami seluk beluk pertumbuhan tunas
teh dan cara memetik yang benar. Teknik petik yang salah akan
berpengaruh terhadap target produksi setiap bulannya. Ambil
contoh, area perkebunan seluas 500 hektar, siklus petiknya
rata-rata sepuluh hari sekali. Artinya, setiap hari area lahan
yang harus dipetik seluas 50 hektar. Target petik seluas itu
harus tercapai, jika tidak, risikonya pucuk teh mekar atau
menjadi tua, dan kualitas turun. Jika ditunda, wanita pemetik
ini harus siap lembur. Pekerja yang sederhana ini tampaknya
harus berhadapan dengan deadline. Para pemetik teh ini harus
bekerja tuntas, dan deadline itu ternyata bukan cuma milik
mereka yang bekerja di kantor berAC.
Tantangan untuk menuntaskan pekerjaan bukan cuma luas area petik.
Para wanita ini harus menerobos dinginnya embun dan kabut pagi,
dan bekal mereka rata-rata sekeping gula Jawa untuk menangkal
rasa lapar dan dahaga selama bekerja. Terlebih saat musim hujan,
pemetik harus benar-benar tegar. Jika harus menggunakan pisau
petik, dinginnya udara bisa membuat jari-jari teriris tanpa
terasa. Mereka harus bekerja di dalam kabut, terpaan angin, dan
dengan pakaian basah kuyup, tentu saja ini membuat ngilu tulang
belulang mereka. Para pemetik tetap harus mengejar target area
petik.
Gangguan lain yang harus dihadapi selama memetik teh adalah
ribuan pacet, semacam lintah kecil saat musim hujan; ulat
matahari yang gatal dan panas yang biasanya ngendon di tanaman
teh yang tua; serbuan lebah serta ulat kaji yang menjijikkan.
Tetapi para wanita pemetik teh ini tak surut bekerja, mereka
lebih memilih perkebunan teh ketimbang duduk termangu di rumah.
Inilah etos kerja para wanita pemetik teh, sosok teladan paling
alami bagi mereka yang ingin belajar bekerja tuntas.
*) Dipetik dari kumpulan tulisan Bp. Jansen H. Sinamo dalam
kontempelasi yang berjudul "Dari Pemikat Perkutut sampai Pemenang
Nobel."
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Aktualisasi
Hawking – 02
Agustus
2007
Sebelumnya:
• 7
Mentalitas Profesional –
19 Juni
2007
• Sebatang
Bambu – 7 Juni
2007
• Damon dan
Phytias – 30 Mei
2007
• Parakitri
dan Kho Ping Hoo
– 24 Mei 2007
• Gelar No,
Ilmu Yes – 15 Mei 2007
• Bentara
Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia
– 4 Mei 2007
• Narko-Duit
– 27 April 2007 |
|