Artikel
Narko-Duit
Oleh: Jansen H. Sinamo [27 April 2007] - Dibaca sebanyak kali

Anda barangkali bukan konsumen narkotik. Tapi jangan senang dulu. Jangan-jangan Anda pun sebenarnya pecandu narkotik jenis lain yang saya sebut sebagai narko-duit. Zat apakah ini? Terlebih dahulu kita ingat narkotik asli: itulah zat yang secara luar biasa mampu mentransformasikan kesadaran orang ke tingkat yang luarbisa di mana pemakainya tidak lagi merasakan penderitaan dan pada saat yang sama merasakan kegembiraan dan kenikmatan yang hebat.

Itulah sebabnya orang yang sedang menikmati zat narkotik disebut sedang berpesta atau fly. Tahun 60-an narkotik -- oleh pemusik-pemusik rock -- disebut sebagai starway to heaven, tangga menuju nirwana. Ini betul sekali: orang yang sedang fly memang mengalami nirwana (harafiah berarti nirderita atau tanpa rasa sakit) dan menikmati suatu surga (ultimate happiness).
 
***

Karena hidup ini pada dasarnya adalah deretan masalah, dan setiap masalah mengandung penderitaan, sedangkan secara alamiah kita cenderung menghindari penderitaan, maka sedikit banyak sebenarnya kita semua memerlukan sarana menghindari penderitaan itu. Cara menghindari penderitaan ini banyak jenisnya: menunda, berkelit, berbohong, berjudi, berhura-hura, main terabas, potong kompas, atau sekadar berbelanja benda-benda yang sesungguhnya tidak kita perlukan. Dengan cara-cara ini kita berusaha mengeliminir atau sekadar melupakan derita kita.

Di pihak lain, karena manusia adalah makhluk pencari kesenangan, maka orang pun selalu berusaha menemukan cara-cara memperoleh dan menikmati kesenangan, termasuk mengonsumsi narkotik. Jadi konsumen narkotik dengan demikian dimotivasi oleh sepasang kekuatan intrinsik dalam diri manusia: dari belakang untuk menghindari derita (to avoid pain), dan dari depan untuk menikmati kesenangan (to experience pleasure).

Namun derita yang terkandung dalam setiap masalah sebenarnya juga mengandung manfaat besar untuk pertumbuhan kepribadian manusia. Obat itu pahit tetapi menyembuhkan. Derita itu sakit tetapi menguatkan. Menurut M. Scott Peck dalam The Road Less Traveled, justru dalam keseluruhan proses menghadapi dan memecahkan masalah-masalah kehidupan inilah kita akan menemukan makna kehidupan itu sendiri sembari membuat diri kita tangguh dan trampil.

Di pihak lain, kesenangan yang secara alamiah selalu kita cari, sebenarnya juga mengandung bahaya bagi kehidupan kita. Banyak zat-zat pembunuh rasanya justru sangat enak, seperti gula, lemak, dan sebagainya. Sayang pengertian ini cuma dimiliki sedikit orang. Kebanyakan kita ternyata tidak bijaksana dengan menghindari sejauh-jauhnya masalah, derita, dan kepahitan; dan pada saat yang sama mengejar dengan penuh nafsu apa saja yang enak, manis, dan menyenangkan.

Narkotik tampil menjadi the fastest way to avoid pain and to experience pleasure. Tapi narkotik adalah jalan yang buruk. Keburukan utamanya terletak pada kesementaraannya dan perhambaannya. Sesudah ia membebaskan kita dari derita sejenak dan mengizinkan kita mencicipi niwana secara singkat, ia segera mencampakkan pemujanya ke lembah derita yang lebih parah. Demikianlah ia terus memperhamba kita, dan ia baru puas jika kita sudah mati. Itulah sebabnya narkotik disebut juga zat setan sebab hanya iblis yang secara ultimat menginginkan kematian kita.

Maka narkotik dengan demikian merupakan metoda haram untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan kita. Juga, narkotik adalah metoda haram untuk menikmati kesenangan. Hanya dalam dosis amat kecil dengan resep dokter zat ini dihalalkan pemakaiannya, misalnya sebagai pain killer dalam kasus-kasus medis tertentu.

Sekaligus, sebenarnya bukan zat itu an-sich yang menjadi setan, tetapi potensi setaniah dalam diri kita lah menjadi kenyataan seram berhasil dibangkitkan oleh khasiat zat narkotik itu.

***

Dengan argumentasi ini, saya sekarang ingin membuka jati diri narko-duit. Itulah uang atau kepeng mudah. Kenyataannya, dalam derajat yang lain, uang memang berwatak narkotik. Ia menjanjikan pembebasan dari banyak masalah. Ia juga menjanjikan surga dan nirwana. Apabila orang mengonsumsinya dalam takaran overdosis, kepribadian orang pun bisa berubah. Begitulah kita banyak melihat kisah-kisah lucu menimpa para OKB (orang kaya baru) dan OBB (orang berkuasa baru).

Dan sudah jelas, uang membuat ketagihan dan kecanduan. Jika tidak, bagaimana Anda bisa memahami ada orang yang tidak puas-puas sesudah mengantongi ratusan miliar perak, tidak kenyang sesudah menelan sejuta hektar rimba, atau tidak lega meski sudah punya ratusan mesin duit.

Adalah benar, uang sebagai benda -- kertas-kertas bagus bergambar wajah pahlawan itu -- bukanlah benda yang jahat dalam dirinya. Tetapi uang sebagai hasil inovasi kebudayaan manusia yang memiliki kapasitas besar untuk menampung nilai ekonomi, memiliki khasiat yang luar biasa untuk membangkitkan potensi setaniah dalam diri manusia. Itulah sebabnya dalam tradisi agama-agama, sikap pengutamaan uang (materialisme) disebut juga sebagai sebentuk penyembahan berhala.

Dalam tataran ini sekarang, uang maupun narkotik, tidak hanya merupakan gejala sosio-ekonomis melainkan juga fenomena psiko-spiritual. Kita sekarang sadar, uang sebagai bentuk akumulasi kekayaan material -- yang sangat diperlukan manusia untuk hidup layak, sejahtera dan bermartabat -- bisa berubah bentuk menjadi setan yang mengobok-obok Gedung DPR, kantor-kantor kementerian, bahkan (amit-amit) rumah-rumah ibadah di seluruh negeri. Juga, perusahaan sebagai satu-satunya bentuk organisasi yang fungsi utamanya mencetak uang (creating wealth) dapat berubah fungsi menjadi kenisah modern dengan Mr. Dollar sebagai dewa utama bagai Zeus yang bertahta di gunung Olympus.

Uang sebagai dewa memang menjanjikan kesentosaan dan nirwana. Tapi pemilik surga sejati bukanlah uang. Di sana Tuhan yang berkuasa. Di atas sana, Tuhan yang bertahta. Dan untuk mencapai surga sejati itu, Tuhan mengharuskan kita melewati the road less traveled (jalan sukar penuh masalah) seperti berpuasa, berderma, menahan diri, memikul salib, solider dengan si miskin, menolak kenikmatan, dan sebagainya. Dan tampaknya prinsip langit adalah: to experience the true joy you have to pass sufferings.

Kini, di negeri yang baru pingsan ini karena mabok duit, dapatkah kita menjaga uang agar tak lagi menjadi dewa sesembahan? Tak terlalu mudah untuk optimis. Tetapi syukur ada kyai-kyai tanpa nama, pastor-pastor desa, atau para bijak yang sepi publikasi. Mereka bagai kartika di langit gelap nusantara. Mereka mendemonstrasikan bahwa di negeri ini, iman-takwa-akidah bisa tetap tegak perkasa di tengah kauatnya godaan-godaan dunia. Di negeri gemah ripah loh jinawi ini masih ada harapan: etika madani akan membasahi bumi suburnya dengan segar.

Tapi satu hal sudah jelas: mabok duit sudah terbukti bikin sengsara. Kita sudah tertipu, kita sungguh tertipu.
_____________________________________

Belum ada komentar

Silakan Isi Komentar Anda

_____________________________________

Sebelumnya:

Rubrik Bentara Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia – 4 Mei 2007

Sebelumnya:

7 Rasa Takut – 24 April 2007
Indonesia Unggul, Mungkinkah? – 18 April 2007
Menatap Indonesia di Panggung Bencana: Masih Adakah yang Bisa Kita Perbuat? – 04 April 2007
Siasat Kelelawar – 29 Maret 2007
Pustakaloka Kompas: The 8 Habit dan 8 Etos: Merambah Jalan Baru Menuju Keunggulan – 22 Maret 2007
Charlo Mamora, Sang Arsitek Transformasi Astra – 16 Maret 2007