|

Rubrik
Pustakaloka
The 8 Habit dan 8 Etos: Merambah Jalan Baru Menuju Keunggulan
Resensi
buku The 8th Habit
Oleh: Jansen H. Sinamo [22 Maret 2007] - Dibaca sebanyak kali
Stephen Covey mengejutkan saya.
Buku The 8th Habit menampilkan suara sebagai inti keagungan. Ini
konsep kuno warisan Martin Luther dari abad ke-16, yang
mengajarkan pekerjaan sebagai panggilan (Beruf). Orang harus
bertekun dalam panggilan itu sebab demikianlah kehendak Tuhan.
Menurut Max Weber (1905), inilah elemen etos ekonomi yang
terlibat dalam proses keberjayaan dunia Barat. Menurut kamus
Oxford, suara yang memanggil, vocare (Latin), menjadi vocation (Inggris),
berarti pekerjaan. Tak bisa lain, vocation harus dimaknai secara
lengkap: bekerja adalah sabda ilahi. Jadi, keterangan sosiologi
ekonomi cocok dengan kamus. Singkatnya, jika panggilan (suara,
titah, sabda) ilahi itu ditanggapi penuh gairah melalui akal
budi, khususnya nurani, dalam konteks kerja, ia akan terpantul
menjadi suara jiwa kita yang unik dan mendesak diekspresikan.
Buahnya ialah keunggulan dan kejayaan.
Dalam bahasa Covey: temukanlah suaramu, lalu ilhami lah orang
lain menemukan suaranya! Itulah habit ke-8. Itulah suara jiwa:
melodi spiritual talenta, kegairahan, nurani, dan kebutuhan kita.
Jika orang menemukan lalu mengekspresikan suara jiwanya, ia akan
bergemilang. Dan, jika pemimpin menolong setiap warganya
menemukan suaranya, keseluruhannya akan menjadi organisasi yang
gemilang. Dimampatkan, begitulah argumentasi Covey.
Secara fenomenologis teramati bahwa semua orang ingin menjadi
orang besar, paling tidak, bagian dari yang serba besar. Buat
saya, itulah penjelasan mengapa manusia selalu bernafsu tinggi
pada apa saja yang besar-besar: rumah besar, mobil besar, dan
gaji besar; dan pada kategori lain, perusahaan unggul, partai
unggul, dan tentu saja: negara unggul! Pokoknya, manusia tidak
puas dengan yang kecil-kecil, biasa-biasa, atau sedang-sedang.
Sebagai nilai, greatness (kejayaan, kemegahan, keagungan) telah
menjadi poros budaya semesta yang menggerakkan manusia untuk
meraih atau menciptakannya. Evolusi budaya telah berhasil
menanamkan greatness menjadi semangat utama di hati manusia,
bahkan menjadi pilar spiritualitasnya. Secara religius, ini
setara dengan pengabdian manusia tiada henti pada atribut
keilahian, seperti kesucian, keakbaran, dan kebenaran. Manusia
selalu terpesona pada obyek-obyek besar, seperti gunung, samudra,
atau langit. Bukan kebetulan, ketiganya juga merupakan metafora
kebesaran ilahi. Jadi, di tingkat rohani, jiwa manusia selalu
merindu pada keagungan. Jelasnya, hati manusia belum merasa puas
tuntas hingga akhirnya ia menemukan, mengalami, atau berjumpa
dengan keagungan itu.
Dalam konteks inilah The 8th Habit: From Effectiveness to
Greatness menjadi relevan sebab penulisnya menjanjikan kitab itu
sebagai roadmap menelusurinya, vade mecum menjalaninya, dan
secara khusus: strategi bagi para CEO untuk mentransformasikan
organisasi mereka ke tingkat akbar. Covey mengerti dan berempati
dengan dahaga jiwa manusia akan kejayaan. Dan, ia menjawabnya
dengan solusi.
Secara
fisik, buku ini berukuran jumbo, dalam edisi Indonesia tebalnya
lebih dari 600 halaman, tetapi juga besar karena ia sarat dengan
pikiran-pikiran akbar. Peluncuran buku ini pun, Rabu (30/11),
sangat megah untuk acara sejenis. Dihadiri sekitar 2.000 orang,
yang membayar jutaan untuk mendengar ceramah Covey sekitar 200
menit, Presiden Yudhoyono sendiri berkenan menyambutnya sambil
membuhul tekad agar bangsa kita pun segera membangun budaya
unggul supaya negeri ini bisa menyusul Malaysia, India, atau
China.
Buku ini hebat karena sejarah pendahulunya The 7 Habits of
Highly Effective People (1989) memang hebat: berstatus
mega-bestseller, terjual 15 juta eksemplar dalam 15 tahun saja.
Bandingkan dengan rivalnya: How To Win Friends and Influence
People (Dale Carnegie, 1936) yang baru mencapainya sesudah 60
tahun. Menurut Wikipedia, cuma ada tiga buku sejenis yang
mengungguli keduanya: The Power of Positive Thinking (Norman
Vincent Peale, 1952), Think and Grow Rich (Napoleon Hill, 1937),
dan The Greatest Salesman in the World (Og Mandino, 1974),
masing-masing terjual 20 juta, 30 juta, dan 50 juta eksemplar.
Semuanya kini dianggap sebagai karya klasik dalam literatur
sukses.
Guru-guru sukses di atas memiliki kesamaan: sangat inspiratif,
kaya ilustrasi, dan menulis penuh pathos. Mereka mengakarkan
pikiran-pikirannya pada khazanah spiritual. Bedanya, empat guru
lain bicara pada tingkat pribadi saja dengan resep kiat-kiat
praktis, sedangkan Covey bicara juga di tingkat organisasi
dengan topangan konsep-konsep yang terstruktur amat baik. Lepas
dari plus minusnya, jutaan orang mengaku telah diubahkan oleh
ajaran guru-guru tersebut.
Berbeda dengan The 7 Habits, narasi The 8th Habit terasa berat,
monoton, dan kering. Untunglah kita terbantu dengan banyak
gambar: bagan, tabel, dan diagram. Jelas, Covey mengandaikan
pembacanya dari kalangan manajer dan eksekutif puncak yang
berkemampuan abstraksi di atas rata-rata. Covey juga tampak
meniatkan buku ini menjadi semacam ensiklopedia ajaran-ajarannya,
bahkan terasakan ambisi: ia mau merangkum semua teori sukses
yang pernah ada sejak era Yunani purba.
Keunikan dan kekuatan buku ini, menurut saya, terletak pada
koherensi konsep-konsep pengembangan manusia, kepemimpinan, dan
organisasi yang dipilih dan diletakkannya pada sebuah bingkai
yang disebutnya paradigma pribadi-utuh (whole-person paradigm):
jiwa, tubuh, pikiran, dan hati. Paradigma ini menjadi kerangka
semua narasi Covey secara konsisten dari awal hingga akhir. Dan,
Covey begitu piawai meringkas dan memvisualkan narasinya dalam
berbagai bentuk geometris (semuanya 57 gambar) yang bagus-bagus.
Bagi yang berniat menjadikan buku ini sebagai panduan, saya
anjurkan membaca Bab 14 dan 15 dulu, sebab keseluruhan konsep
besar Covey diringkaskan di sini. Intinya, untuk membangun
greatness, harus dimulai dari ranah pribadi (personal greatness)
dengan menerapkan the seven habits dalam bentuk visi, disiplin,
antusiasme, dan nurani. Selanjutnya, ranah kepemimpinan
(leadership greatness) dengan menerapkan empat peranan
kepemimpinan ala Covey: panutan dalam the seven habits, perintis
jalan ke kegemilangan, penyelaras semua elemen organisasi, dan
pemberdaya bagi segenap potensi warga organisasi. Terakhir,
ranah organisasi (organizational greatness) dengan perumusan
visi, misi, dan nilai-nilai pokok organisasi yang membuahkan
kejelasan, komitmen, sinergi, pemampuan, dan akuntabilitas. Jika
semua ini dijalankan simultan, janji Covey, maka terciptalah
kinerja unggul secara berkelanjutan, dan di ujung sana: kejayaan
dan kegemilangan.
Covey memang seorang humanis spiritual yang serba optimistis,
dalam arti pemercaya penuh pada potensi nilai dan kebaikan
manusia, peyakin teguh akan kebutuhan manusia yang universal,
dan pejuang gagah bagi cara-cara rasional memecahkan
masalah-masalah kemanusiaan. Covey melihat kondisi pengap iklim
organisasi adalah sumber dari begitu negatifnya sikap, rapuhnya
emosi, buruknya keterampilan, atau rendahnya motivasi manusia di
ruang kerjanya yang berakibat pada buruknya kinerja dan
produktivitas mereka. Itulah yang harus diperbaiki. Mulai dari
para pemimpin: menata paradigma dan tujuan, merumuskan peran,
relasi, dan prioritas kerja, serta mengeksekusinya tuntas dengan
mengerahkan segenap bakat, talenta, dan kecerdasan. Covey
percaya, jika hal-hal ini dilakukan, benih-benih keagungan
manusia akan tumbuh-mekar berbuah-lebat di lahan subur
organisasi. Sambil mengisahkan tapak-tapak panjang sejarah
korporasi yang kelabu sejauh ini, Covey menawarkan resep
memperbaiki kesalahan-kesalahan itu seraya merambah jalan baru
menuju keunggulan.
Tatkala warga negeri ini masih banyak yang terjebak dalam dilema
klasik kemanusiaan universal: mau bahagia tetapi gemar mengeluh;
mau dipercaya tetapi tak sanggup menjaga amanah; mau berkilau
tetapi tak tahan dikritik; mau terpilih tetapi emoh melayani;
mau menabung tetapi gemar bergaya hidup boros; mau pintar tetapi
malas belajar -- yang berdampingan rapat dengan kenyataan begitu
banyaknya manusia-manusia berjiwa kerdil, berintelek kurus,
bermental keropos, dan berkesadaran rendah -- maka kehadiran
buku Covey ini perlu disimak serius. Yang jelas, kita semua
harus menjawab panggilan Suara Agung tersebut: itulah panggilan
Suara Tuhan, Suara Rakyat, dan Suara Ibu Pertiwi yang terus
merintih demi kemaslahatan seluruh anak negeri. Apabila
memekakkan telinga terus, kita masih akan terus terpuruk untuk
jangka waktu yang masih panjang. Amit-amit deh!
*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Pustakaloka Edisi
Sabtu, 17 Desember 2005
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Siasat
Kelelawar
– 29 Maret 2007
Sebelumnya:
• Charlo
Mamora, Sang Arsitek Transformasi Astra
– 16 Maret 2007
• Rubrik
Bentara Kompas: Hidup yang Erotik–
14 Maret 2007
• Tikus
Dikejar Kucing –
12 Maret 2007
• Tragedi
Emas Midas – 7
Maret 2007
• Wawancara
Majalah Info Societa: 8 Etos Entaskan Kemiskinan
– 5 Maret 2007
• Kompas
Online: 8 Etos Pendongkrak Gairah Kerja [Jangan Cuma 5-Ng]
– 2 Maret 2007 |
|