|
Artikel
7 Mentalitas Profesional
Oleh: Jansen H. Sinamo [19 Juni 2007] - Dibaca sebanyak kali
Kini adalah zaman profesional.
Abad 21 dicirikan oleh globalisasi yang serba kompetitif dengan
perubahan yang terus menggesa. Tidak terbayangkan lagi ada
organisasi yang bisa bertahan tanpa profesionalisme. Bukan
sekadar profesionalisme biasa tetapi profesionalisme kelas
tinggi, world-class professionalism, yang memampukan kita
sejajar dan bermitra dengan orang-orang dan
organisasi-organisasi terbaik dari seluruh dunia.
Kaum profesional dari pelbagai disiplin kerja sekarang sudah
merambah ke seluruh dunia. Bagi mereka batas-batas negara tidak
lagi relevan. Wawasan mereka sudah kosmopolitan. Mereka adalah
warga dunia yang bisa memberikan kontribusi mereka di mana saja
di muka Bumi. Mereka bisa bekerja di mana saja di planet ini.
Bangsa kita jelas memerlukan sekelompok besar kaum profesional
untuk mengisi pembangunan masyarakat di segala bidang. Jika
tidak mampu, maka kita terpaksa harus mengimpor mereka dengan
harga yang sangat mahal.
Sesungguhnya, Indonesia berpotensi pula mengekspor tenaga-tenaga
kerja profesional dalam pelbagai kelas ke mancanegara:
perminyakan, pertambangan, kehutanan, sastra, seni, dan
lain-lain.
Untuk dua hal di atas diperlukan usaha besar: membangun
mentalitas profesional.
1. Mentalitas Mutu
Seorang profesional menampilkan
kinerja terbaik yang mungkin. Dengan sengaja dia tidak akan
menampilkan the second best (kurang dari terbaik) karena
tahu tindakan itu sesungguhnya adalah bunuh diri profesi.
Seorang profesional mengusahakan dirinya selalu berada di ujung
terbaik (cutting edge) bidang keahliannya. Dia
melakukannya karena hakikat profesi itu memang ingin mencapai
suatu kesempurnaan nyata, menembus batas-batas ketidakmungkinan
praktis, untuk memuaskan dahaga manusia akan ideal mutu:
kekuatan, keindahan, keadilan, kebaikan, kebergunaan.
Jelas, profesionalisme tidak identik dengan pendidikan tinggi.
Yang utama adalah sikap dasar atau mentalitas. Maka seorang
pengukir batu di pelosok Bali misalnya, meskipun tidak lulus SMP,
namun sanggup mengukir dengan segenap hati sampai dihasilkan
suatu karya ukir terhalus dan terbaik, sebenarnya adalah seorang
profesional. Seorang guru SD di udik Papua yang mengajar dengan
segenap dedikasi demi kecerdasan murid-muridnya adalah seorang
profesional.
Di fihak lain, seorang dokter yang menangani pasiennya dengan
tergesa-gesa karena mengejar kuota pasien bukanlah profesional.
Demikian pula seorang profesor yang mengajar asal-asalan,
meneliti asal jadi, membina mahasiswa terlalu banyak sampai
mengorbankan kualitas, bukanlah profesional. Atau, seorang
insinyur yang dengan sengaja mengurangi takaran bahan
bangunannya demi laba yang lebih besar bukanlah profesional.
Jadi mentalitas pertama seorang profesional adalah standar
kerjanya yang tinggi yang diorientasikan pada ideal kesempurnaan
mutu.
2. Mentalitas Altruistik
Seorang profesional selalu
dimotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik. Istilah baik di
sini berarti berguna bagi masyarakat. Aspek ini melengkapi
pengertian baik dalam mentalitas pertama, yaitu mutu. Baik dalam
mentalitas kedua ini berarti goodness yang dipersembahkan
bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi seperti guru, dokter, atau
advokat memang jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Demikian
pula pialang saham, computer programmer, atau konsultan
investasi. Taat asas dengan pengertian ini, tidak mungkin ada
pencuri profesional atau pembunuh profesional. Mungkin saja
teknik mencurinya atau metoda membunuhnya memang canggih dan
hebat, tetapi menggelari mereka sebagai kaum profesional adalah
sebuah kerancuan istilah.
Mutu kerja seorang profesional tinggi secara teknis, tetapi
nilai kerja itu sendiri diabdikan demi kebaikan masyarakat yang
didorong oleh kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban.
Inilah altruisme.
Di fihak lain, paradoksnya, karena kualitas kerjanya tinggi,
berbasiskan kompetensi teknis yang tinggi, maka masyarakat
menghargai jasa kaum profesional ini dengan tinggi pula. Artinya,
imbalan kerja bagi kaum profesional umumnya selalu mahal.
Permintaan atas jasa mereka selalu lebih tinggi dari
ketersediaannya. Itulah yang mengakibatkan imbalan kerja kaum
profesional menjadi tinggi. Oleh karena itu pula, status sosial
kaum profesional dari segi moneter umumnya berada di lapisan
tengah ke atas. Ini bukan karena kaum profesional menuntut untuk
didudukkan di kelas tersebut, tetapi sebagai akibat logis dari
eksistensi profesionalnya.
Maka ciri kedua profesionalisme ialah hadirnya motif
altruistik dalam sikap dan falsafah kerjanya.
3. Mentalitas Melayani
Kaum profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja
tanpa peduli pada sekitarnya. Kaum profesional tidak melakukan
onani profesi. Sebaliknya, kepuasannya muncul karena konstituen,
pelanggan, atau pemakai jasa profesionalnya telah terpuaskan
lebih dahulu via interaksi kerja.
Kaum profesional lahir karena kebutuhan masyarakat pelanggan.
Sorang maestro seni lukis sekelas Michelangelo saja pun tetap
punya pelanggan, yakni Sri Paus, sang penguasa Vatikan, yang
keinginannya harus dipuaskan.
Seorang profesional bahkan dengan tegas mematok nilai moneter
atas jasa profesionalnya. Dengan ketegasan ini berarti sang
profesional berani berdiri di mahkamah tawar-menawar rasional
dengan para pelanggannya. Maka seorang profesional harus bisa
melayani pelanggannya sebaik-baiknya. Dan sang profesional
diharapkan melakukannya secara konsisten dengan segenap
ketulusan dan kerendahan hati sebagai apreasiasi atas kesetiaan
pelanggannya di sepanjang karir profesionalnya.
Maka ciri ketiga seorang pekerja profesional adalah sikap
melayani secara tulus dan rendah hati kepada pelanggannya dan
nilai-nilai utama profesinya.
4. Mentalitas Pembelajar
Di bidang olahraga, seorang
pemain profesional, sebelum terjun penuh waktu, terlebih dahulu
menerima pendidikan dan pelatihan yang mendalam. Dan di
sepanjang karirnya ia terus-menerus mengenyam latihan-latihan
tiada henti.
Begitu juga di bidang lain, seorang pekerja profesional adalah
dia yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan khusus di
bidang profesinya. Bahkan untuk profesi-profesi yang sudah mapan,
sebelum seseorang diberi hak menyandang status profesional, dia
harus menempuh serangkaian ujian. Bila lulus barulah dia
mendapatkan sertifikasi profesional dari asosiasi profesinya.
Kompetensi tinggi tidak mungkin dicapai tanpa disiplin belajar
yang tinggi dan berkesinambungan. Dan karena tuntutan masyarakat
semakin lama semakin tinggi, tak pelak lagi, belajar dan
berlatih seumur hidup harus menjadi budaya kaum profesional.
Tanpa itu maka sajian nilai sang pekerja profesional semakin
lama semakin tidak relevan. Bahkan bisa tak bersentuhan dengan
realitas sekitarnya. Pada saat itulah seorang pekerja gagal
menjadi profesional.
Jadi ciri keempat pekerja profesional adalah hati pembelajar
yang menjadikannya terus bertumbuh dan mempertajam kompetensinya
kerjanya.
5. Mentalitas Pengabdian
Seorang pekerja profesional
memilih dengan sadar satu bidang kerja yang akan ditekuninya
sebagai profesi. Pilihannya ini biasanya terkait erat dengan
ketertarikannya pada bidang itu, bahkan ada semacam rasa
keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut. Mula-mula,
pilihan itu dipengaruhi oleh bakat dan kemampuannya yang
digunakannya sebagai kalkulasi peluang suksesnya di sana. Tetapi
kemudian berkembang sebuah hubungan cinta antara sang pekerja
dengan pekerjaannya.
Hubungan ini mirip dengan hubungan jejaka-gadis yang jatuh cinta.
Semakin mereka mengenal, rasa cinta makin kental, dan akhirnya
mengokohkan hubungan itu secara marital. Demikian juga seorang
profesional, semakin ia menekuni profesinya semakin timbul rasa
cinta. Dan bila hatinya sudah mantap betul maka ia memutuskan
untuk hanya menekuni bidang itu sampai tuntas dan menyatu padu
dalam sebuah ikatan cinta yang kekal. Demikianlah, seorang
profesional mengabdi sepenuh cinta pada profesi yang dipilihnya.
Jadi ciri kelima seorang profesional sejati adalah
terjalinnya dedikasi penuh cinta dengan bidang profesi yang
dipilihnya.
6. Mentalitas Kreatif
Seorang olahragawan profesional
menguasai sepenuhnya seni bermain. Baginya permainan tidak
melulu soal teknis, tetapi juga seni. Ia beranjak dari seorang
jago menjadi seorang maestro seperti Rudy Hartono di bulutangkis,
Pele di sepakbola, atau Muhammad Ali di tinju. Sedangkan pemain
amatir, tidak pernah sampai ke jenjang seni; asal menguasai
teknik-teknik dasar maka memadailah untuk ikut
pertandingan-pertandingan.
Seorang pekerja profesional, sesudah menguasai kompetensi teknis
di bidangnya, berkembang terus ke tahap seni. Dia akan menemukan
unsur seni dalam pekerjaannya. Dia akan menghayati estetika
dalam profesinya. Mata hatinya terbuka lebar melihat kekayaan
dan keindahan profesi yang ditekuninya. Seterusnya, perspektif,
keindahan, dan kekayaan ini akan memicu kegairahan baru bagi
sang profesional yang pada gilirannya memampukannya menjadi
pekerja kreatif, berdaya cipta, dan inovatif.
Jadi ciri keenam seorang pekerja profesional adalah
kreativitas kerja yang lahir dari penghayatannya yang artistik
atas bidang profesinya.
7. Mentalitas Etis
Seorang pekerja profesional,
sesudah memilih untuk "menikah" dengan profesinya, menerima
semua konsekuensi pilihannya, baik manis maupun pahit. Profesi
apa pun pasti terlibat menggeluti wacana moral yang relevan
dengan profesi itu. Misalnya profesi hukum menggeluti moralitas
di seputar keadilan, profesi kedokteran menggeluti moralitas
kehidupan, profesi bisnis menggeluti moralitas keuntungan,
begitu seterusnya dengan profesi lain.
Maka seorang profesional sejati tidak akan menghianati etika dan
moralitas profesinya demi uang atau kekuasaan misalnya.
Penghianatan profesi disebut juga sebagai pelacuran
profesionalisme yakni ketidaksetiaan pada moralitas dasar kaum
profesional.
Di pihak lain, jika profesinya dihargai dan dipuji orang, dia
juga akan menerimanya dengan wajar. Kaum profesional bukanlah
pertapa yang tidak membutuhkan uang atau kekuasaan, tetapi
mereka menerimanya sebagai bentuk penghargaan masyarakat yang
diabdinya dengan tulus.
Jadi ciri keenam pekerja profesional adalah kesetiaan pada
kode etik profesi pilihannya.
***
Tampaklah bahwa menjadi profesional sangat berat. Tanpa motivasi
akbar, dan stamina moral yang tinggi seseorang tidak mungkin
menjadi profesional sejati.
Pertanyaan penting disini: darimana kah seorang profesional
mendapatkan motivasinya sehingga ia dapat bertahan bahkan
bertumbuh di arena profesional itu? Pasti tidak dari sekadar
uang saja meskipun dunia profesional berlimpah dengan uang.
Lagipula sudah diketahui bahwa motivasi uang selalu berbentuk
kurva lonceng, maksudnya uang memang memotivasi orang, tetapi
sesudah uang diperoleh, tingkat motivasinya akan turun kembali;
mendaki ke puncak kurva lalu menurun menuju dasar kurva.
Motivasi seorang profesional selalu berasal dari ruang
spiritual. Dari ruang ini dapat didulang berbagai jenis motivasi
luhur seperti demi negara, demi bangsa, demi kaum papa, demi
perdamaian, demi demokrasi, demi kemanusiaan, demi peradaban,
dan sebagainya.
Dalam Abad 21 kini, dimana kompetisi antarmanusia,
antarorganisasi, antarperusahaan, dan antarbangsa telah menjadi
norma, maka profesionalisme di segala bidang menjadi tiket masuk
ke stadion peradaban. Tanpa profesionalisme maka kita cuma jadi
penonton. Dan sebagai penonton, kita harus selalu membayar. Juga,
tidak ada calo yang menjual karcis catutan. Artinya setiap orang
harus menjadi profesional. Setiap perusahaan, partai politik,
atau organisasi apa pun harus menjadi profesional. Bahkan setiap
negara akhirnya harus berkelakuan profesional terhadap
konstituen utamanya: rakyat! Jika tidak, masyarakat akan berkata
pada kita: go to hell with your filthyness.
_____________________________________
Komentar:
Teguh Sudariyanto
7 hal yang sangat sempurna, tapi semua bisa dilakukan jika ada
kemauan dari diri kita sendiri untuk bekerja ... mulai dari hal
yang mudah, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang....
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Pemetik Teh
– 25 Juni
2007
Sebelumnya:
• Sebatang
Bambu – 7 Juni
2007
• Damon dan
Phytias – 30 Mei
2007
• Parakitri
dan Kho Ping Hoo
– 24 Mei 2007
• Gelar No,
Ilmu Yes – 15 Mei 2007
• Bentara
Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia
– 4 Mei 2007
• Narko-Duit
– 27 April 2007
|
|