|
Artikel
Manusia, Kota, dan Etos Pembangunan
Oleh: Jansen H. Sinamo [03
Desember 2007] - Dibaca sebanyak kali
To change life, we must first change space
- Henri Lefebvre, French writer
Meskipun Homo sapiens sudah jadi spesies unggul sejak 40.000
tahun yang silam tetapi kota sebagai bentuk organisasi sosial
baru muncul kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Sebelum itu,
manusia hidup sebagai kelompok-kelompok nomaden yang terus
bergerak sebagai pemburu dan pengumpul hasil-hasil alam untuk
makanan mereka. Kelompok-kelompok itu belum memiliki pemukiman
karena mereka belum sanggup melumbungkan surplus makanan secara
memadai. Hidup mereka sangat marjinal: bertahan hari lepas hari
melulu oleh kemurahan alam.
Namun selepas itu, di berbagai wilayah di dunia, gejala kota
akhirnya muncul juga ketika jumlah anggota kelompok-kelompok
nomaden itu terus bertambah dan mulai bermukim. Hal ini
dimungkinkan oleh tiga faktor: ketersediaan pangan di wilayah
itu, bertambah baiknya pengorganisasian kerja di dalam
kelompok-kelompok itu, dan berkembangnya pertukaran komoditas
atau perdagangan antarkelompok.
Ketersediaan pangan di berbagai wilayah yang disebut di atas
terjadi karena iklim Bumi semakin hangat. Sesudan zaman es
terakhir – diperkirakan usai sekitar 13.000 tahun silam – tanah
terus menghangat sehingga memunculkan banyak tumbuhan baru,
khususnya berbagai jenis tanaman pangan. Inilah awal zaman
pertanian. Lumbung-lumbung dibangun untuk menampung surplus
pangan itu. Hewan-hewan liar dijinakkan dan diternakkan,
terutama kambing, domba, kuda, kerbau, dan sapi. Teknologi
pengolahan tanah berkembang dengan memanfaatkan tenaga
hewan-hewan itu. Semua itu menyumbang terhadap surplus pangan
lebih lanjut. Akibatnya, pemukiman semakin berkembang dan
semakin terjamin (sustainable), jumlah penduduk bertambah karena
semakin cukup makan, dan ragam pekerjaan non-petani pun
bertambah pula seperti seniman, ahli bangunan, ahli irigasi,
tukang, pedagang, dan lain-lain. Singkatnya, proto-kota pun
lahir.
Diversifikasi sosial juga muncul. Lahirlah kelas elit: para
penakluk, kaum bangsawan, dan agamawan yang memerintah dan
menentukan tata kehidupan bersama dalam kelompok itu. Mereka
jadi kelas penguasa atas kaum tani, penata irigasi, gembala,
pedagang, tukang, dan seniman. Demi keperluan hidup bersama dan
kelanggengan kelas penguasa itu dibangun dan diperkenalkanlah
bangunan-bangunan publik, tata upacara dan peribadahan, alat
tukar, sistem perpajakan, dan metoda akumulasi kekayaan.
Pasar pun lahir. Perdagangan pun marak. Kota pun kian berkembang.
Aksara juga ditemukan, demikian pula ilmu-ilmu hitung dan ukur
yang dipakai dalam perdagangan, pembangunan irigasi, pertukangan,
dan pembangunan kota. Ilmu-ilmu prediktif juga muncul untuk
menentukan musim tanam, musim panen, hari-hari raya, dan saat
untuk berperang. Lahir pula ekspresi seni dalam arsitektur kota
dan bangunan-bangunan publik. Maka kota pun semakin ramai.
Demikianlah kota Yeriko muncul di wilayah Palestina yang
sekarang sekitar tahun 7000 SM yang tumbuh dari desa menjadi
kota dengan sekitar 3.000 penduduk.
Antara tahun 4000-3500 SM kota besar pertama dengan populasi
sekitar 25.000 muncul di wilayah Mesopotamia, di lembah sungai
Tigris dan Eufrat: Babel dan Niniwe. Kotanya sudah berkubu.
Rumah-rumah dibangun dengan batu-bata yang terbuat dari lempung
yang dibakar. Meski jalan-jalannya naik-turun-berkelok, sempit,
dan tanpa perkerasan yang memadai, mereka sudah memakai alat
angkut beroda.
Di Mesir, di sepanjang lembah sungai Nil, kota sudah ada sejak
tahun 3300 SM seperti Tmn-Hor, Tell al-Rub, Pr-Bastet,
Hwt-ka-Ptah, To-She, Akhetaten, dan Kemet. Tetapi kita lebih
tahu tentang piramid-piramid Mesir daripada kota-kota di atas.
Di India ada dua kota utama, Harappa dan Mohenjo-Daro, yang
muncul sekitar tahun 2500 SM. Jalan-jalannya lurus sehingga
membentuk blok-blok pemukiman berbentuk segi empat. Sudah ada
sistem pembuangan sampah dan air limbah. Inilah kota pertama
yang menujukan tanda-tanda pembangunan yang berencana. Barat
kota adalah pusat religius, politik, dan pendidikan. Petani
tinggal di luar tembok kota dekat perladangan. Kelompok miskin
menempati pinggir kota tetapi masih berada di dalam tembok.
Pedagang dan seniman tinggal di dekat pusat kota, sedangkan
bangsawan, agamawan, dan punggawa kerajaan menempati wilayah
pusat.
Di Yunani kota muncul di sekitar tahun 2000 SM seperti Sparta,
Thebes, Argos, Delphi, dan Olympia. Athena jadi kota utama
sekitar tahun 800 SM. Struktur kotanya berbentuk lingkaran.
Jalan-jalannya berpangkal dari pusat dan memencar keluar secara
radial. Bagian-bagian kota juga memencar dari pusat sehingga
setiap kelompok penduduk merasa tinggal dengan jarak yang sama
dari pusat kota.
Di Cina kota muncul antara tahun 2000-1500 SM seperti Chang'an,
Fanyang, Jiankang, Lingzhou, Xiangyang, Yinxu, dan Zhaoge.
Kota Roma dibangun antara 700-600 SM. Kelak, ketika kekaisaran
Romawi semakin berjaya Roma pun menjadi kota internasional
pertama di dunia.
Di Amerika Tengah (Meksiko, Guatemala, Honduras, dan El
Salvador) kota-kota mulai tampak pada sekitar tahun 200 SM.
Di Eropa kota-kota bermunculan mulai abad ke-4 dan satu per satu
menjadi kota industri sejak abad ke-18. Inilah permulaan
kota-kota modern yang kita kenal sampai sekarang. Sesudah itu,
gejala desa yang mengalami proses kotanisasi merambah dengan
cepat ke seluruh dunia. Dan urbanisasi pun menjadi sebuah gejala
global. Kini dunia telah memiliki ratusan kota raksasa:
metropolitan dan megapolitan.
Kota Raja, Kota Tuhan
Tidak banyak kota yang diketahui siapa arsitek pembangunannya?
Hal ini wajar sebab fenomena kota sebenarnya lebih masuk akal
difahami sebagai fenomena “emergence”, dimana pemukiman kecil
berubah jadi desa, berkembang perlahan-lahan, dan akhirnya
menjadi kota; daripada fenomena arsitektur, dimana seorang
arsitek agung merancang, merencanakan, dan membangun sebuah kota
dari nol sampai selesai.
Tetapi ada kekecualian. Tradisi menyebutkan kota Babel dibangun
oleh raja Sargon (hidup sekitar abad ke-24 SM). Neo Babel
dibangun (mungkin lebih tepat diperluas dan ditata ulang) oleh
raja Nebukadnezar (630-562 SM). Kitab Daniel dalam Perjanjian
Lama mencatatnya sebagai berikut: “Semuanya itu terjadi atas
raja Nebukadnezar; sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika
ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel,
berkatalah raja: “Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan
kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun
menjadi kota kerajaan?”
Legenda juga menyebutkan Roma dibangun oleh Romulus dan
menjadikannya ibukota kerajaannya.
Catatan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah kota-kota
yang dibangun oleh Iskandar Agung (Alexander the Great: 356-323
SM) dalam ekspedisi penaklukannya selama sepuluh tahun. Di
setiap wilayah ia meletakkan rancangan, memulai pembangunan,
atau menata ulang kota yang ditaklukkannya sesuai dengan gaya
dan selera seni dan arsitektur Yunani. Kota-kota yang dikaitkan
dengan jenderal akbar ini antara lain Alexandria (Mesir),
Iskandiriyah (Irak), Alexandria Asiana (Iran), Alexandria Ariana
(Afganistan), Kandahar (Afghanistan), Alexandria Bucephalous
(Pakistan), Alexandria Eschate (Tajikistan), dan Iskenderun (Turki).
Kota-kota kuno yang dibangun oleh atau atas perintah seorang
raja mempunyai fungsi yang mirip: sebagai lumbung kekayaan,
pusat kekuasaan, dan lambang kemuliaan, bahkan sebagai kota
Tuhan. Babel atau Babylon misalnya, nama kota itu berasal dari
bahasa Akkad babilu, yang berarti gerbang para dewa. Dalam
paradigma kuno itu, raja umumnya dianggap sebagai representasi
Tuhan, bahkan titisan Tuhan. Maka kota raja juga berarti kota
Tuhan. Vatikan, Mekah, dan Yerusalem sampai hari ini tetap
disebut kota suci bagi para pemeluk teguh agama-agama samawi.
Namun demikian, tidak banyak kota-kota kuno itu yang bisa
bertahan hingga kini. Tiga kota yang disebut belakangan adalah
sedikit yang jadi kekecualian. Kebanyakan telah runtuh dan
terbenam dalam timbunan debu tebal dari abad ke abad sehingga
hanya para arkeolog saja yang mampu merekonstruksinya.
Problem utama kota-kota kuno itu sehingga akhirnya ditinggalkan
warganya, kosong, dan jadi reruntuhan adalah sanitasi. Tumpukan
sampah dan limpasan air limbah jadi sumber berbagai penyakit
menular yang membinasakan warganya. Selain itu, api yang tidak
bisa dikontrol marak menjadi kebakaran besar sehingga
menghanguskan seluruh kota.
Tetapi perang adalah sebab utama kehancuran kota-kota kuno.
Yerusalem misalnya, dalam sejarahnya yang panjang sejak abad
ke-18 SM sempat tiga kali dihancurkan: pada tahun 586 SM oleh
raja Babel, Nebukadnezar; pada tahun 70 oleh penguasa Romawi di
Palestina, Jenderal Titus; dan pada tahun 1480 oleh pasukan
Mongol yang merambah dengan buas dari Asia Tengah.
Namun Yerusalem terhitung beruntung: ia selalu dibangun kembali.
Kota-kota seperti Khartago, Sukhothai, Ayutthaya, Mohenjo-Daro,
Harappa, Karakorum, Akkad, Ur, Babel, Niniwe, Persepolis, Troya,
Machu Picchu, dan Pompeii kini tinggal hanya reruntuhan, bahkan
hilang terbenam.
Berbeda dengan kota-kota kuno, problem kota-kota modern terutama
disebabkan tekanan populasi dan manajemen kota yang buruk. Soal
tekanan populasi ini dapat kita apresiasi dari data berikut ini.
Jika pada sekitar tahun 8000 SM penduduk dunia hanya 100 juta,
pada permulaan abad Masehi masih 300 juta, tetapi sejak abad
ke-19 jumlah itu meningkat dengan sangat pesat: tahun 1800 (1
milyar), tahun 1930 (2 milyar), tahun 1962 (3 milyar), tahun
1974 (4 milyar), tahun 1987 (5 milyar), dan tahun 2000 (6 milyar).
Ketika urbanisasi berlangsung justru karena daya tarik kota itu
sendiri maka pada titik jenuh tertentu tekanan populasi itu
mengakibatkan komplikasi berbagai masalah bagi kota tersebut dan
segenap warganya.
Kota Rakyat, Kota Publik
Era kota raja dan kota Tuhan berakhir sudah. Kini kota-kota di
dunia adalah kota rakyat, kota publik, atau kota warga. Artinya,
kota adalah urusan publik, urusan segenap warga kota. Dikatakan
tegas: setiap kota harus mampu memenuhi aspirasi dan kebutuhan
warganya. Dikatakan lain: kota dinilai tidak lagi berdasarkan
selera raja, selera penguasa, tetapi dinilai berdasarkan
keterpenuhan aspirasi publik, yakni hidup yang berkualitas bagi
segenap warga kota.
Dewasa ini, sejauh menyangkut kualitas hidup warganya, Zurich
dan Jenewa adalah dua kota terbaik di dunia. Demikian hasil
survei Mercer Consulting yang diterbitkan pada bulan April 2007.
Vancouver menduduki nomor tiga dan berturut-turut diikuti oleh
Wina, Auckland, Düsseldorf, dan Frankfurt. Penilaian itu
didasarkan atas tiga puluh sembilan determinan kualitas hidup
manusia yang dikelompokkan dalam sepuluh kategori sebagai
berikut:
1. Political and social environment (political stability, crime,
law enforcement, etc.)
2. Economic environment (currency exchange regulations, banking
services, etc.)
3. Socio-cultural environment (censorship, limitations on
personal freedom, etc.)
4. Health and sanitation (medical supplies and services,
infectious diseases, sewage, waste disposal, air pollution,
etc.)
5. Schools and education (standard and availability of
international schools, etc.)
6. Public services and transportation (electricity, water,
public transport, traffic congestion, etc.)
7. Recreation (restaurants, theatres, cinemas, sports and
leisure, etc.)
8. Consumer goods (availability of food/daily consumption items,
cars, etc.)
9. Housing (housing, household appliances, furniture,
maintenance services, etc.)
10. Natural environment (climate, record of natural disasters,
etc.)
Jika hal-hal di atas merupakan faktor penentu bagus tidaknya
sebuah kota, maka dikatakan sebaliknya, secara negatif, maka
kota yang buruk adalah kota yang...
1. fasilitas kesehatannya tidak memadai;
2. fasilitas pendidikannya tidak memadai;
3. infrastruktur dan fasilitas angkutan massalnya buruk;
4. jalan-jalan besarnya tidak memadai;
5. jalan-jalan kecil buat warga pejalan kaki tidak ada atau
dibiarkan tak terawat;
6. kantong-kantong penduduk miskinnya banyak;
7. keamanannya rendah atau sudut-sudut kota tertentu keamanannya
rendah;
8. kelompok-kelompok premannya yang memeras warga kota banyak;
9. keterlibatan warganya dalam memelihara fasilitas kota rendah;
10. ketersediaan air bersih, listrik, dan teleponnya rendah;
11. korupsi di jawatan-jawatan publik di kotapraja tinggi;
12. kotanya semrawut, tidak ada zonasi kota yang terencana dan
tersistem;
13. peredaran dan penggunaan narkoba dan minuman keras tidak
terkontrol;
14. permusuhan dan perkelahian antarkelompok warga kota tinggi;
15. sektor kumuhnya banyak;
16. tingkat kemacetannya tinggi;
17. tingkat krimininalitasnya tinggi;
18. tingkat penganggurannya tinggi;
19. tingkat polusinya tinggi; dan
20. wilayah lampu merah dan perjudiannya berkembang tidak
terkontrol.
Pengembangan Kota dan Etos Pembangunan
Meskipun kota-kota modern kini adalah kota publik, urusan publik,
dan bukan kota raja apalagi kota Tuhan, tapi secara politik
warga kota kemudian menyerahkan tanggungjawab pemerintahan dan
manajemen kota mereka kepada seorang walikota melalui proses
pemilihan umum. Itu berarti walikota adalah orang yang menjadi
wali-pemegang-amanah seluruh warga kota agar kota mereka
dikelola menjadi kota yang baik.
Selanjutnya, proses, program, dan proyek untuk mewujudkan
aspirasi seluruh warga kota itu secara teknis diserahkan kepada
para kontraktor pembangunan dan pemeliharaan kota.
Tetapi secara profesional semua aspirasi warga kota di atas
diserahkan kepada para arsitek. Inilah sebuah profesi yang
semakin penting peranannya dalam menjawab masalah-masalah
perkotaan dan pemukiman di seluruh dunia.
Tri Harso Karyono, guru besar arsitektur Universitas
Tarumanagara dan peneliti utama pada Balai Besar Teknologi
Energi (B2TE BPPT), Serpong, dalam artikelnya “Pemanasan Bumi
dan Dosa Arsitek”, di harian KOMPAS, Selasa, 11 September 2007,
mengatakan: Arsitek berperan besar dalam [pemanasan] Bumi.
Kekeliruan tangan arsitek akan memanaskan Bumi dan berpotensi
lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan
teroris.
Sedemikan dahsyat peran arsitek modern bagi kehidupan manusia
sebagaimana dikatakan Tri Harso Karyono di atas, maka tidak
berlebihan jika peran arsitek itu dapat saya ungkapkan bagi
kehidupan sebuah kota sebagai berikut: Arsitek berperan besar
dalam menentukan hitam putihnya sebuah kota. Kekeliruan tangan
arsitek akan menghancurkan sebuah kota dan berpotensi membuat
kota itu menjadi kota setan.
Semakin krusial peranan suatu profesi dalam masyarakat, semakin
penting pula profesi itu merumuskan etosnya, menegakkan etos itu,
dan menghukum anggota profesi yang melanggarnya. Hanya dengan
demikian sebuah profesi punya tempat yang terhormat dalam
masyarakat. Sejumlah profesi sudah melakukannya: dokter,
wartawan, dan pengacara. Ciri khasnya: mereka punya asosiasi
profesi, dan dalam tubuh asosiasi itu terdapat sebuah dewan
kehormatan sebagai mahkamah tertinggi dalam penegakan etos
profesi itu.
Sekarang, marilah kita selidiki serba sedikit tentang etos ini.
Dengan memeriksa sejumlah kamus, kita akan menemukan bahwa etos
adalah sebuah kata yang memiliki banyak makna, antara lain: (a)
esprit d’corps; (b) karakter, keyakinan, dan hakikat moral dari
seseorang, sekelompok orang, atau sebuah institusi; (c) kode
perilaku suatu perusahaan yang menentukan cara bagaimana mereka
memperlakukan karyawannya, pelanggannya, lingkungannya, serta
tanggungjawab-tanggungjawab legalnya; (d) spirit khas suatu
budaya atau era; dan masih banyak lagi.
Tapi untuk keperluan seminar ini saya memilih mengartikan etos
sebagai sebuah rumusan yang disepakati bersama tentang apa yang
dianggap paling penting oleh sekelompok orang untuk pekerjaan (profesi)
yang mereka jalankan, dan perilaku apa yang dituntut untuk
mencapai hal paling penting tersebut, termasuk apa-apa yang
tidak boleh dilanggar dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesi
tersebut.
Inilah definisi etos profesi yang berlaku umum untuk semua
profesi seperti keguruan, kedokteran, kehakiman, kependetaan,
kewartawanan, kemiliteran, kepengacaraan, dan kearsitekan.
Dan hari ini kita berbicara tentang etos kearsitekan atau etos
arsitek.
Ketika kota dirumuskan oleh panitia seminar ini – yang notabene
terdiri dari sejumlah arsitek muda yang idealis, kreatif, dan
berwawasan luas – (1) sebagai sebuah simbolisme kosmik, (2)
sebagai manisfestasi spiritualitas manusia, (3) sebagai biosfer
hidup yang berkelimpahan, (4) sebagai ekosistem pengembangan
manusia, (5) sebagai mandala penciptaan karya-karya yang estetik,
(6) sebagai wilayah kerja yang produktif, dan (7) keragaman
sosial budaya manusia urban, harus diakui bahwa aspirasi ini
adalah sebuah rumusan yang ideal, luhur, dan menyeluruh.
Dengan mengandaikan bahwa konsep kota di atas sekarang diterima
dan dianggap sangat penting oleh komunitas arsitek di negeri ini,
maka dalam bahasa etos, idealisme tentang kota di atas – di
tingkat perilaku kerja – dapat coba saya rumuskan sebagai
berikut:
Etos 1: Kota adalah simbolisme kosmik; maka sebagai arsitek
profesional kita wajib merancang, membangun, dan mengembangkan
kota yang mengingatkan warganya bahwa kota sebagai ruang
kehidupan adalah bagian dari kosmos ciptaan Tuhan yang punya
desain, keteraturan, keluasan, keagungan, dan keindahan.
Etos 2: Kota adalah manisfestasi spiritualitas manusia; maka
sebagai arsitek profesional kita wajib merancang, membangun, dan
mengembangkan kota yang mampu membuat seluruh warganya merasa
terhubungkan satu sama lain, yang merasa menyatu dengan
lingkungannya, serta memetik makna, identitas, dan kebanggaan
daripadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta pada kotanya.
Etos 3: Kota adalah biosfer hidup yang berkelimpahan; maka
sebagai arsitek profesional kita wajib merancang, membangun, dan
mengembangkan kota yang lapang, longgar, lancar, bersih, hijau,
berlimpah dengan air segar dan udara murni, serta bebas dari
sampah maupun limbah.
Etos 4: Kota adalah ekosistem bagi pertumbuhan manusia yang
sehat; maka sebagai arsitek profesional kita wajib merancang,
membangun, dan mengembangkan kota yang cukup ruang untuk
bermukim, bekerja, belajar, bermain, berekreasi, beribadah,
berolahraga, berkesenian, dan berkebudayaan.
Etos 5: Kota adalah mandala penciptaan karya-karya yang estetik;
maka sebagai arsitek profesional kita wajib merancang, membangun,
dan mengembangkan kota yang secara keseluruhan dinilai sebagai
indah, termasuk bagian-bagiannya, unit-unitnya, dan detail-detailnya
sehingga mampu memuaskan cita rasa seluruh warga kota secara
sensual-indrawi, intelektual-karsawi, dan spiritual-rohani.
Etos 6: Kota adalah lapangan kerja yang produktif; maka sebagai
arsitek profesional kita wajib merancang, membangun, dan
mengembangkan kota yang mampu menyediakan cukup ragam mata
pencaharian bagi segenap warganya: dari jenis pekerjaan yang
cuma mengandalkan otot, keringat, dan fisik sampai jenis
pekerjaan yang mengandalkan imajinasi, kreativitas, dan inovasi.
Etos 7: Kota adalah wahana keragaman sosial-budaya manusia
urban; maka sebagai arsitek profesional kita wajib merancang,
membangun, dan mengembangkan kota yang mampu menyediakan ruang
untuk ekspresi keragaman sosial-budaya itu, interaksi sinergis
dalam pluralisme itu, serta kultur apresiatif dalam kebhinekaan
itu.
Sesungguhnya perumus etos suatu profesi haruslah orang dalam
profesi itu. Demikian pula etos arsitek haruslah dirumuskan oleh
para arsitek itu sendiri. Orang seperti penulis makalah ini,
meski pun sering dijuluki media sebagai mister etos atau guru
etos, paling banter bisa berperan sebagai konsultan saja.
Sebagai penutup, izinkanlah saya meninggalkan sebuah saran:
panitia seminar ini perlu sesegera mungkin berkoordinasi dengan
Ikatan Arsitek Indonesia guna merumuskan sehimpunan etos arsitek
yang luhur, menyeluruh, inspirasional, dan motivasional sehingga
pada satu waktu nanti kita akan melihat kota-kota di republik
ini sungguh-sungguh menjadi kota-kota yang “gemah ripah loh
jinawi, tata tentrem karta raharja”.
Apa yang saya rumuskan di atas adalah sebuah percobaan dan harus
dianggap sebagai sebuah masukan saja. Terimakasih dan selamat
berseminar.
*) Disampaikan pada seminar internasional The Knowledge City:
Spirit, Character, and Manifestation, 13-14 November 2007, Danau
Toba Convention Hall, Medan, Indonesia.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Sebelumnya:
• Aktualisasi
Hawking –
02Agustus
2007
• Pemetik Teh
– 25 Juni
2007
• 7
Mentalitas Profesional –
19 Juni
2007
• Sebatang
Bambu – 7 Juni
2007
• Damon dan
Phytias – 30 Mei
2007
• Parakitri
dan Kho Ping Hoo
– 24 Mei 2007
• Gelar No,
Ilmu Yes – 15 Mei 2007 |
|