|

Rubrik Bahasa
MARI BERNAZAR
Oleh: Jansen H. Sinamo [2
Februari
2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali
Kini, di awal tahun, orang gemar membuat resolusi tahun baru. Ini
kebiasaan Amerika yang, seperti makan McDonalds, cepat merambat
lalu melatah di Indonesia. Resolusi di sini berarti membuhul tekad
untuk mencapai sebuah target. Orang yang sadar tubuhnya kelebihan
bobot membuat resolusi untuk makan lebih sedikit dan berolahraga
lebih banyak. Mahasiswa yang tugas akhirnya kedodoran membuat
resolusi untuk bersungguh-sungguh belajar dan bertekun menulis.
Sejak lama kata resolusi sering dipakai di arena hubungan
internasional, misalnya PBB membuat resolusi sehubungan dengan
konflik Israel-Palestina. Di dunia korporasi, kalau sebuah soal
akhirnya terpecahkan dan ditemukan solusinya, lazim dikatakan,
umpamanya, manajemen dan serikat buruh telah mencapai resolusi
bersama. Di dunia optika, resolusi adalah derajat ketajaman dan
kebeningan gambar yang tertayang di layar.
Melihat ragam makna di atas, pemakaian kata resolusi untuk membuhul
tekad sebaiknya dihindari. Terlalu berat beban makna yang dipikul
kata itu nanti dalam bahasa Indonesia. Lebih baik kita hidupkan dari
vokabuler sendiri karena memang ada kata yang lebih jitu: nazar.
Jadi, nazar tahun baru.
Nazar memang kita impor, berasal dari bahasa Arab, tetapi sudah lama
diterima di sini, yaitu sejenis komitmen pribadi di hadapan Tuhan
untuk melakukan suatu hal. Orang yang bernazar mengikat dirinya
kepada suatu janji yang sakral, maka ia tidak boleh melanggar
perkataannya itu dan wajiblah ia berbuat tepat seperti yang
diucapkannya.
Dikisahkan dalam Kitab Samuel seorang perempuan, yang dimadu karena
mandul, dalam kemasygulannya bernazar bahwa jika Tuhan memberinya
seorang anak laki-laki, dia akan memberikan anak itu kepada Tuhan
untuk seumur hidupnya dan "pisau cukur tidak akan menyentuh
kepalanya". Perempuan itu kemudian melahirkan seorang anak laki-laki,
diberi nama Samuel, lalu menyerahkannya menjadi pelayan di rumah
Tuhan. Begitulah: nazar diucapkan, Tuhan mengabulkan, lalu nazar
dituntaskan.
Jelaslah, nazar selain lebih ekonomis dibandingkan dengan resolusi,
juga lebih jernih, tajam, sakti, dan berbobot. Dengan nazar, niat
dan laku menjadi satu. Oleh nazar, kata dan perbuatan menjadi lebur.
Melalui nazar kita membuka diri terhadap anugerah dan kuasa Tuhan
yang mengalir dengan limpah. Sementara itu, orang yang sedang
bernazar memperkuat dirinya: kepribadiannya mengutuh dan memadu.
Maka, nazar merupakan sebuah kunci yang amat telak apabila kita
hendak mencapai keberhasilan.
Di dunia periklanan, janji-janji diobral dan klaim-klaim diumbar
sehingga bahasa iklan nyaris nirwibawa. Namun, yang rugi akhirnya
pengiklan juga. Sebuah perusahaan otomotif tidak ingin demikian lalu
bersemboyan dengan serius: "Kami memberi bukti, bukan janji!" Mereka
menghayatinya hampir sebagai nazar. Tak heran, mereka jadi pemimpin
pasar.
Ke depan kita bisa memperkaya bahasa kita dengan istilah-istilah
baru: nazar hakim, nazar guru, nazar politik, nazar dokter, nazar
wartawan, dan sebagainya. Mudah membayangkan: bila para politisi
bernazar memakmurkan rakyat, mereka akan jadi idola dalam pemilihan
umum. Bila para pejabat bernazar menjalankan birokrasi negara secara
bersih, investor akan datang berbondong-bondong. Bila kaum pekarya
republik ini bernazar untuk bekerja dengan etos kerja profesional,
bangsa kita niscaya maju dengan segera. Maka, marilah bernazar!
*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Bahasa Edisi Jumat,
2 Februari 2007
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
Vektor, Fraktal, dan Delapan Etos
9 Februari 2007
Sebelumnya:
Kompas: Kecerdasan Pamungkas dan
Kecerdasan Paripurna 29
Januari 2007
Sahabat Ketiga
18 Januari 2007
Tulus dan Fulus
15 Januari 2007
Kumis Nasrudin
11 Januari 2007
Pemikat Perkutut
8 Januari 2007
|
|