KECERDASAN PAMUNGKAS dan KECERDASAN PARIPURNA
Oleh: Jansen H. Sinamo  [29 Januari 2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak kali


Data Buku
Judul: Universal Intelligence
Penulis: Ratna Sulistami D dan Erlinda Manaf Mahdi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2006
Tebal: xxvii + 382 halaman

Sudah umum diterima bahwa orang yang cerdas, bangsa yang arif, lebih sukses hidupnya daripada orang yang kurang cerdik, bangsa yang kurang bijak. Maka pengembangan kepandaian dan kecendekiaan manusia telah menjadi agenda kebudayaan yang utama di sepanjang sejarah. Hal inilah yang menjadi inti pustaka yang satu ini.

Bagi pemerhati dan pengembang kecerdasan, judul dan gambar sampul buku ini segera memantik selera beli. Dengan tajuk Universal Intelligence (UI), kitab ini terasa memosisikan diri sebagai pemaripurna buku-buku lain yang bertitelkan intelligence, seperti emotional intelligence, spiritual intelligence, atau financial intelligence yang marak sedasawarsa terakhir ini. Jika tidak, sedikitnya ia menampilkan diri sebagai pamungkas teori kecerdasan berganda yang sohor diusung oleh Howard Gardner: logical-mathematical intelligence, linguistic intelligence, spatial intelligence, musical intelligence, bodily-kinesthetic intelligence, personal intelligence, dan naturalist intelligence.

Kesan itu diperkuat oleh pilihan gambar sampulnya, yaitu imaji galaksi yang sedang memoros di intinya: akbar, dahsyat, sekaligus misterius menggentarkan. Dugaan itu pas saat kita bersua dengan definisi UI di halaman 310 sebagai "kecerdasan yang memberikan pemahaman, strategi, dan solusi meluas dan universal terhadap berbagai sisi kehidupan manusia dengan segenap persamaan maupun keragaman atau perbedaan yang ada; sebagai suatu keniscayaan, sarana, dan tantangan bersama untuk saling memacu kebajikan terbaik, dengan selalu menempatkan Tuhan YME sebagai poros kehidupan". Bukankah kedahsyatan galaksi memang kena-mengena dengan kebesaran Tuhan? Dan, kalau kita sudah mampu menjadikan Tuhan sebagai poros semesta kehidupan, apa lagi yang bakal kurang?

Kedua pengarang, Ratna Sulistami D dan Erlinda Manaf Mahdi, memang tegas menyatakan bahwa dengan UI kita akan mampu menumbuhkembangkan, memberdayakan, mengaktualisasikan semua potensi, kompetensi, dan nilai-nilai luhur guna menghasilkan seluruh keunggulan kompetitif baik secara perorangan, kelompok, institusi/perusahaan, maupun lingkup yang lebih luas (hal xxvii).

Ambisi itu juga terasakan ketika mereka merumuskan Tujuh Poin Utama Universal Intelligence (hal 311-313) sebagai berikut: (1) Space and Time: Keadaan yang meninggi akan batasan ruang dan waktu; (2) Zero: Upaya memahami dan menerima kesetaraan dengan menjaga prinsip Nol, menafikan berbagai hambatan atau beban yang melingkupi keragaman atau perbedaan, guna saling memacu dan memberikan yang terbaik dalam keseimbangan dan harmoni; (3) Centering Point: Upaya memahami energi yang lembut, melampaui dan powerful melalui Fokus Transendental, guna pencerahan nurani dan memberi tuntunan arah dalam merengkuh kebermaknaan hidup; (4) Retrograde: Tindak nyata dalam gerak tangguh ke semua arah pertumbuhan, pengembangan, serta penyempurnaan; (5) Evaluation: Pemahaman dan kesadaran akan "siapa aku, keberadaanku" (melalui proses pengetahuan, introspeksi, healing, muhasabah, atau pengakuan dosa) yang mengantar seorang "abdi" pada pertanggungjawaban hidup yang lebih tinggi dan adil; (6) Climbing for Freedom: Jalan menuju kebebasan sejati (dari segala bentuk penghambaan, hambatan, dan pikiran yang melingkupi) dalam sebuah keseimbangan, harmoni, dan enersi cinta ilahiah; (7) Ultimate Personality: Fungsi keteladanan dan discipline ritual yang berlaku bagi setiap insan.

Di tengah melimpahnya buku dan semaraknya seminar tentang berbagai kecerdasan dewasa ini, buku ini tetap layak ditelaah. Walau taksonomi kecerdasan itu sendiri belum tuntas terpetakan, kitab ini jelas menambah ragam pengertian kita sehingga seandainya kelak ada panitia perumus kecerdasan yang setara dengan yang pernah dipimpin oleh Benjamin S Bloom (1956) di bidang pengetahuan, maka kita berharap lahirnya taksonomi kecerdasan manusia yang lengkap.

Sekadar mengingatkan: Taksonomi Bloom, sederhananya, mempersumbukan dua matra akal budi manusia. Para arah horizontal, sumbu X, terdapat enam kemampuan: mengingat, memahami, menerapkan, menganalis, mengevaluasi, dan mencipta. Pada arah vertikal, sumbu Y, terdapat empat kategori pengetahuan: faktual, prosedural, konseptual, dan meta-pengetahuan. Bila kedua sumbu X-Y itu disilangkan, maka kita akan memperoleh 24 kategori akal budi manusia dalam berpengetahuan. Nah, taksonomi kecerdasan yang setara atau sinambung dengan Taksonomi Bloom ini amat mendesak keperluannya agar pemahaman kita tentangnya menjadi jelas, koheren, simetris, dan komprehensif sehingga kurikulum dan program-program pengembangannya bisa dikerjakan dengan lebih baik.

Di sini pula letak kekurangannya. Bukan hanya UI, tetapi semua kitab yang bertema kecerdasan. Hingga kini semuanya masih tumpang tindih, kabur dan keruh membaur, yakni pengertian tentang hakikat kecerdasan-kecerdasan (emosional, spiritual, hati, adversitas, universal) itu sendiri: apa saja anasir khasnya, gatranya, hubungan sesamanya, parameternya, termasuk sukat-sukatnya. Karena hal-ihwal di atas belum jelas, maka penganjur kecerdasan emosional, misalnya, dengan sangat berani mengklaim bahwa 80 persen kesuksesan manusia ditentukan oleh EQ-nya. Hampir tak tersisa lagi peranan buat IQ, AQ, SQ, FQ, UQ, dan QQ lain! Artinya, ada wilayah gelap di sana. Dan perkara itu masih terbiarkan kusut tak terpilah, keruh tak tertapis, dan kacau tak tertata. Tak pelak, setiap penganjur kecerdasan tertentu amat sukar menahan diri dari godaan bermuluk klaim.

Buku ini sendiri mengidap persoalan yang mirip di sektor lain: bahasa. Terlalu banyak istilah Inggris dibiarkan bertabur acak tanpa keperluan yang jelas. Akibatnya mengganggu dan mengaburkan. Ketika banyak narasinya dibuka, dijeda, dan ditutup dengan puisi tumbuh pula tuntutan agar prosanya pun ditulis dengan bagus: bahasa Indonesia yang gurih terasa dan elok tertata.

Tiga lapis kecerdasan
Ketika konsep inteligensi saya telusuri melalui mesin Google, tersua 24 rumusan. Sesudah diolah, saya temukan tiga lapis kecerdasan.

Pertama, sebagai kemampuan akal budi kita untuk memahami informasi yang membentuk kesadaran dan pengetahuan, mulai dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling canggih, dari yang paling konkret sampai yang paling abstrak.

Kedua, sebagai kemampuan untuk mengumpulkan, menapis, memilah, menata, dan menyajikan informasi tersebut secara tersistem.

Ketiga, sebagai kemampuan untuk menggunakan informasi yang jernih terstruktur itu sebagai mualim bagi perasaan, navigator bagi pikiran, dan nakhoda bagi tindakan kita; baik untuk mengembangkan ragam dan mutu informasi itu sendiri, tetapi terutama dalam rangka menempuh hidup ini secara berhasil seraya memecahkan masalah-masalah kehidupan yang senantiasa muncul mengepung.

Selanjutnya, mutu kecerdasan kita—besaran inilah yang bertalian dengan predikat Q pada setiap jenis kecerdasan—ditentukan oleh ketajaman, kejernihan, dan presisinya. Ini di tingkat pertama. Di tingkat kedua, oleh kecepatan pemrosesan dan kapasitasnya, sedangkan di tingkat ketiga oleh keampuhan dan kegunaan taktis maupun strategisnya.

Dua hal ini saja sudah sangat menolong sebagai perkakas awal untuk meletakkan pengertian-pengertian pokok di seputar kecerdasan itu secara runtut dan sistematis. Jika kita nanti sudah mampu memetakan seluruh kecerdasan manusia, maka kita niscaya bisa menjelaskan perbedaan kecerdasan seorang Einstein dan Hitler, Castro dan Mendela, atau persamaan kecerdasan seorang Picasso dan Da Vinci, Pele dan Ali. Kita pun tidak akan bingung lagi melihat fakta bahwa murid yang dahulu "kurang cerdas" di sekolah ternyata sekarang tampil lebih sukses daripada teman-temannya yang "lebih cerdas". Juga, kita akan lebih tahu cara mengembangkannya.

Sebagian kecerdasan kita terwarisi secara genetis. Anugerah insani ini kita sebut sebagai bakat atau talenta. Tetapi, menurut filsuf, psikologiwan, dan pembaru pendidikan, John Dewey, bagian terbesar kecerdasan kita adalah hasil usaha. Katanya, kecerdasan bukanlah sesuatu yang kita miliki dan tak berubah selamanya, melainkan suatu proses pembentukan yang berkesinambungan, dan untuk mempertahankannya diperlukan keterjagaan budi ketika mengamati dan mengalami peristiwa-peristiwa, keterbukaan hati untuk terus belajar, serta ketangguhan dan kekenyalan mental untuk terus menyesuaikan diri. Itulah sebabnya pendidikan senantiasa sangat penting, istimewa bagi negeri kita yang bermasalah banyak ini.

*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Pustakaloka Edisi Senin, 29 Januari 2007
_____________________________________

Belum ada komentar

Silakan Isi Komentar Anda

_____________________________________

Selanjutnya:

Kompas: Mari Bernazar – 02 Februari 2007

Sebelumnya:

Sahabat Ketiga – 18 Januari 2007
Tulus dan Fulus – 15 Januari 2007
Kumis Nasrudin – 11 Januari 2007
Pemikat Perkutut – 8 Januari 2007
Kunci Kegagalan
– 4 Januari 2007