|
Wawancara
8 ETOS ENTASKAN KEMISKINAN
5 Maret 2007 - Dibaca sebanyak kali
Semua orang ingin hidup makmur, sejahtera, sudah merupakan
aspirasi global dan universal. Lalu kemudian ada orang yang
akhirnya hidup menderita dan miskin, itu juga fakta yang tidak
bisa terbantahkan. Tetapi kewajiban untuk membebaskan diri dari
kemiskinan, merupakan tanggungjawab semua orang. Karena tidak
ada orang sehat yang ingin miskin. Tetapi yang harus diingat,
kemiskinan itu bukanlah azab. Point utamanya adalah, apakah
kemiskinan itu melemahkan atau justru menjadi daya pecut untuk
maju. Demikian beberapa poin komentar yang diberikan Jansen
Hulman Sinamo, Mr. Ethos Indonesia, saat dimintai keterangannya
oleh tim
Info Societa
seputar kemiskinan dan etos. Berikut ini,
hasil wawancara penulis buku best seller,
8 etos kerja.
Bagaimana pandangan Anda tentang fenomena kemiskinan di
Indonesia saat ini?
Wah, saya bukan pakar kemiskinan.
Tapi mungkin Anda bisa kaitkan dengan etos kerja?
Sebenarnya etos kerja ini di drive atau dibangkitkan, betapa
sesungguhnya kita sangat miskin. Jadi fakta bahwa negara kita
miskin, tidak perlu didiskusikan lagi. Ada alasan kultural,
alasan mentalitas. Jadi itu semua kemudian membuat kita jadi
miskin. Yang saya maksud dengan alasan kultural misalnya,
menurut saya kita kurang jujur untuk melihat kenyataan-kenyataan.
Artinya kenyataan pahit kita bungkus dengan istilah yang bagus.
Misalnya saja, keluarga miskin disebut keluarga pra sejahtera.
Artinya kita tidak ingin melihat kenyataan secara apa adanya.
Bahwa pemerintah ikut membangun budaya itu, ya. Tanpa sengaja,
tanpa tahu. Korupsi dikatakan kesalahan prosedurlah, ada yang
salah, oh, itu oknum!. Padahal, orang kalau mau keluar dari
masalah, termasuk masalah kemiskinan, dia harus mengambil
tanggungjawab pribadi. Ini sudah masalah mental. Kalau saya
bodoh, miskin, mabuk, tidak lulus sekolah, itu saya yang harus
disalahkan, itu karena saya, sayalah penanggungjawab utama.
Bahwa, ada penyebab-penyebab sekunder di luar, itu betul, tetapi
secara mentalitas, orang mesti kembali kepada tanggungjawab
pribadi.
Pemerintah selama ini, membuat program pengentasan kemiskinan,
menurut Anda bagaimana itu?
Ada baiknya itu semua, tetapi kembali lagi pada manusia itu
sebagai pribadi, sebagai insan yang berdaulat, bertanggungjawab.
Kalau saya jenis pribadi yang tidak bertanggungjawab atas hidup
saya atas kondisi emosi saya, atas kemiskinan saya, atas
kebodohan saya, dikasihpun bantuan, bukan lepas dari masalah,
tetapi justru di habiskan. Jangan salah, setiap bantuan dari
orang lain, sesungguhnya melemahkan diri sendir
Kalau bantuan semacam charity bagaimana?
Ya, bantuan itu seperti pedang bermata dua. Kalau saya minta
bantuan orang lain, sebenarnya saya memperlemah diri saya,
dengan menggunakan kekuatan orang lain. Kalau saya di bantu
orang lain, kesempatan otot saya untuk mengalami aktualisasi,
pengembangan menjadi terhalang. Contoh paling ektrim misalnya,
mahasiswa sedang ujian. Menjelang ujian meminta bantuan kepada
orang lain. Itu akan berbeda kalau dia bergulat sendiri,
menemukan solusi, memecahkan masalahnya. Jadi setiap bantuan
pihak luar, selalu memperlemah diri kita. Baik Nasional,
Internasional, Organisasional maupun personal.
Apakah ada hubungan antara utang negara dan kemiskinan?
Ya, jelas, belum lagi efek korupsi. Artinya niat membantu,
memfasilitasi, dikorupsi juga, ini menjadi tali-temali. Ada
banyak teori tentang kemiskinan. Salah satunya Hernando De
Sotto, yang mencuat namanya melalui bukunya “The Mystery of
Capital”, Misteri Kapital. Inti dari teorinya adalah bebaskanlah
aset orang miskin. Orang miskin di daerah terutama, kan memiliki
tanah. Tanah ulayt itu, tanah keluarga, tetapi itu kan tidak
bisa dipakai menjadi kapital ekonomi, kecuali disertifikatkan.
Nah, begitu tanah rakyat disertifikatkan, maka dia menjadi
bankabel, bisa diagunkan kepada bank. Bersama dengan itu,
Hernando juga mengatakan bahwa pemerintah harus memperpendek
jalur birokrasi. Dalam bukunya, disebutkan bahwa untuk
mengeluarkan izin misalnya, di negara-negara miskin, seperti
Mesir, Chile termasuk Indonesia, perlu melewati 207 meja bahkan
lebih, dengan waktu hingga 2 tahun, ini kan birokrasi biaya
tinggi. Jadi boleh dikatakan, ”goverment, ikut berperan dalam
memiskinkan rakyat.”
Lalu dimana letak etos kerja nanti?
Etos kerja mengatakan begini, teorinya membebaskan diri, perkuat
etos ekonomi.
Bisa dijelaskan etos ekonomi itu?
Ya, begini, etos ekonomi sederhananya, perilaku apa yang harus
kita bangun, dikembangkan, agar kita secara ekonomi senantiasa
meningkat, surplus, produktif. Nah itu erat kaitannya dengan
mentalitas. Dalam hidup ini tidak boleh, pasak lebih besar dari
tiang. Lebih hemat, menghargai waktu, mengutamakan kualitas,
berpikir harus rasional, itu etos ekonomi. Kalau nanti sudah ada
surplusnya, harus ada reinvestasi, jadi terus meningkat surplus
kita, kapital kita terus meningkat.
Jadi mungkin bisa digambarkan seperti kerang yang menyimpan
pasir?, Menahan perih dulu, nanti menghasilkan mutiara?
Ya, betul, nenek moyang kita kan ada ajarannya, bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senag kemudian. Ini berlaku hanya jika etos
ekonominya sudah terbentuk.
Sekarang apa yang harus dilakukan oleh pemerintah, untuk
menumbuhkan ini, bagi fakir miskin, orang yang paling rendah
pendidikannya, sikap mentalnya juga rendah?
Ya, kalau kita bicara tugas pemerintah, banyak cara yang bisa
dilakukan. Intinya secara umum lewat pendidikan, baik formal
maupun informal. Bagi saya, sederhananya seperti ini, untuk
memahami ajaran etos ekonomi tidak memerlukan pendidikan tinggi.
Dengan hemat, rajin, jangan buang-buang waktu, kalau kerja
mengutamakan kualitas, bekerjasama, jangan saling iri, itu hal
yang sederhana, dan itu merupakan etos ekonomi!. Menabung itu
prinsip dasar. Menurut saya, bangun subuh, setiap muslim kan
mestinya bangun subuh, tapi jangan sesudah subuh tidur lagi.
Habis sembahyang subuh langsung bekerja, dengan penuh semangat.
Kalau buku Anda 8 etos keja itu dituangkan dalam program kerja
pengetasan kemiskinan, kira-kira seperti apa bentuknya?
Buku itu,–cerita kerang itu–sebenarnya sebuah paradigma, pertama-tama
saya ingin mengatakan, bahwa hidup ini sarat dengan penderitaan,
itu yang pertama perlu diperhatikan. Tak ada manusia yang bebas
dari penderitaan, penderitaan karena kemiskinan, penyakit, cacat,
karena cekcok dalam rumah tangga, dan lainnya. Jadi para
konglomerat itu, bukan berarti hidupnya bebas dari penderitaan!,
tapi mungkin penderitaan dalam dimensinya yang lain,
dibandingkan dengan orang miskin. Mungkin penderitaan orang kaya
itu justru lebih berat, misalnya karena anak-anaknya berebut
harta. Namun demikian, penderitaan pun ada hikmahnya, kalau kita
bersedia menghadapi penderitaan itu dengan gagah perkasa,
bersedia tegar menghadapi penderitaan itu, kalau secara
metaforis, maka dia akan berubah menjadi mutiara.
Dari kurang lebih 4 juta fakir miskin Indonesia, anggaranya
hanya 500 miliar pertahun, tanggapan Anda bagaimana?
Ya, menyedihkanlah. Oleh karena itu selalu ada orang di luar
pemerintah yang melakukan apa yang bisa dilakukannya. Seperti
saya misalnya, mencoba memberikan penguatan mentalitas,
penguatan etos, memberi pencerahan agar sadar. Jadi, berapapun
anggarannya akan kurang, believe me!, negara kita sudah sekaya
Jepangpun, anggaran itu masih akan kurang. Yang terpenting
sebenarnya, berapapun anggaran kita, bagaimana menggunakannya
secara bijak. Kalau itu semua dibuat menjadi charity, pasti ada
yang tertolong dengan charity, terutama yang terjepit, tapi saya
sudah bilang sebelumnya, apapun bentuk charity akan membawa
dampak melemahkan yang dibantu.
Seperti Bantuan Langsung Tunai itu?
Ya, kan banyak yang mengkritiknya. Tapi tidak mungkin menjadi
program standard dan program wajib kan. Lagi pula, buat saya,
orang yang selalu dibantu, itu dignitynya (harga diri) merosot!
Maka bagi si penerima bantuanpun, harus juga memiliki kesadaran
yang critical. Apakah bantuan ini memperlemah saya, menurunkan
dignity saya, apakah bantuan ini membuat saya dalam posisi hamba
atas diri saya. Kita akhirnya tidak lagi bisa bersifat kritis,
independensi kita berkurang. Sama seperti wartawan, kalau sumber
beritanya senantiasa memberi amplop, mana bisa independen!.
Karena saya rasakan begitu, teman-teman pemilik media juga
bergulat dalam persoalan itu. Sama halnya dengan negara, dimana
independensi kita sebagai bangsa, kemudian berkurang, karena
selalu menerima bantuan luar negeri.
Jadi mungkin pengalihan bantuan itu sebagai usaha produktif,
bukan begitu?
Ya, mestinya begitu mempercepat produktifitas. Jadi yang harus
dipastikan dulu, dia harus menjadi individu yang produktif. Jadi
harus ada uji coba dahulu. Jika sudah teruji mentalitasnya dalam
mendayagunakan uang seratus ribu menjadi lebih besar. Kalau
sudah terbukti mentalitasnya, baru ditambah. Sehingga, prosesnya
makin lama makin cepat. Penting dibedakan dengan charity murni,
misalnya kita membantu orang-orang yang cacat, atau lansia,
jompo, itu lain karena hal itu merupakan tugas sosial dan
kewajiban mulia – Tugas Utama Departemen Sosial RI–.
Lalu apakah sudah ada formula khusus, etos untuk kaum miskin?
Mudah sekali membuatnya. Karena dari pengalamanyang sudah kami
lakukan, misalnya memberikan training etos sudah ke berbagai
tahap masyarakat. Baik di Karang Taruna, dosen, pegawai bank.
Sebab apa, etos itu merupakan ajaran yang sangat sederhana. Apa
susahnya memahami, kalau kerja itu rahmat. Maka kalau kita
bekerja harus ikhlas dengan rasa tulus harus bersyukur. Untuk
secanggih Presidenpun relevan dan semiskin fakir miskinpun
relevan. Orang cacat, orang buta saja masih bersyukur, bagaimana
kita yang masih sehat malah tidak bersyukur. Itu ajaran pertama.
Kalau kita bisa bersyukur itu saja sudah memberikan resources,
mental kepada kita. Karena kita kemudian menjadi peka, melihat
opportunity-opportunity, berjiwa besar, tidak mudah patah arang.
Etos 8 misalnya, kita harus melayani dengan rendah hati.
Kerendah-hatian itu penting. Jangan baru pegang 2-3 juta sudah
sombong, bersikap melayani, siapapun teman atau klien kita atau
rekan bisnis kita. Ajaran seperti ini sangat mendasar, 8 ajaran
etos ini sangat dasar. Jadi kalau ditanya bisa nggak kalau kita
paket menjadi pelatihan kepada orang miskin atau kepada kelompok
penggerak orang miskin, akan mudah sekali membuatnya. Karena
kita semua berangkat dari orang akademik, awalnya memang kita
buat untuk orang level atas, tapi itu dengan mudah kita bikin
modul untuk orang semiskin dan serendah apapun pendidikannya,
tidak ada masalah itu.
Kalau dalam bingkai 8 etos, masuk etos berapa, tentang
tanggungjawab sosial setiap individu dan perusahaan?
Secara spesifik mungkin masuk dalam etos 8, pelayanan. Tetapi
sebenarnya 8 etos ini, bisa kita katakan etos sosial, karena 8
etos ini demikian mendasar. Sehingga dia kualified menjadi etos
bisnis, politik, akademik, sosial, spiritual dan ekonomi.
Kedudukan 8 etos ini,-Rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi,
ibadah, seni, kehormatan, pelayanan,-. Dalam analogi ilmu fisika,
kedudukannya seperti sumbu X, sumbu Y dan sumbu Z, sistem
koordinate, sistem standard. Pokoknya kalau kita mau memahami,
ruang, garis, bidang titik, harus ada sistem koordinate, itu
yang dinamakan sistem koordinat Kartesius, sumbu, X, Y dan Z.
Segala sesuatu dalam ruang tiga dimensi, selalu bisa kita
ungkapkan dalam sistem X, Y Z.
Analog dengan itu, 8 etos ini merupakan faktor dasar. Untuk
membangun etos politik, ekonomi, sosial, bisnis, etos
kepemimpinan, demikian fundamental. Saya bisa menemukan ini,
lihat saja buku ini (sambil menunjuk buku-buku yang tersusun
rapi di lemari) ini bukan dipajang, tapi dibaca. Jadi lahir dari
analisis, perenungan dan studi.
*) Sumber: Majalah
INFO SOCIETA; Edisi khusus “kemiskinan” Tahun 2006 halaman 40-42
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Tragedi
Emas Midas
– 7 Maret 2007
Sebelumnya:
• Kompas
Online: 8Etos Pendongkrak Gairah Kerja [Jangan Cuma 5-Ng]
– 2 Maret 2007
•
Baru Pengantin Baru Sudah Bertengkar
– 28 Februari 2007
•
Berita: Pejabat Eselon II Ikuti Pelatihan Membangun Etos Kerja Unggul
– 22 Februari 2007
• Pesta Konglomerat
– 21 Februari 2007
•
Teori Maxwell Tentang
Elektromagnetik dan Delapan Etos
– 19 Februari 2007
•
Kompas: Dari Fisika ke Mana-Mana
– 16 Februari 2007 |
|