|

Opini
Indonesia Unggul, Mungkinkah?
Oleh: Jansen H. Sinamo [18
April 2007] - Dibaca sebanyak kali
Suara Presiden Yudhoyono
menyambut peluncuran buku Stephen Covey, The 8th Habit: From
Effectiveness to Greatness, Rabu (30/11) di Jakarta, menggedor
kesadaran kita. Untuk keluar dari pusaran arus turbulensi
nasional, menapaki tegalan berbatu-batu, lalu mendaki bukit
keberhasilan nasional dimana Indonesia bakal bisa setaraf dengan
Cina, Malaysia, India, atau Korea Selatan, maka bangsa kita
harus menumbuhkan sebuah kultur baru: a culture of excellence di
semua bidang kehidupan bangsa baik di panggung negara, pentas
ekonomi, maupun arena civil society.
Sesungguhnya, suara serupa sudah lama terdengar di negeri ini
setidaknya sejak 20 tahun terakhir, namun cuma melata di
lorong-lorong seminar dan pelatihan SDM yang didengungkan antara
lain oleh guru-guru keberhasilan anak negeri seperti Soen
Siregar, Gede Prama, Rhenald Khasali, Aa Gym, Andrias Harefa,
Hermawan Kartajaya, atau Ary Ginanjar. Tetapi kali ini sungguh
istimewa: suara itu dikumandangkan dari podium tinggi dengan
amplitodo besar oleh kepala negara Presiden Yudhoyono, mahaguru
sukses internasional Stephen Covey, dan tokoh pers nasional
Jakob Oetama. Maka biarlah telinga semua anak bangsa sudi
mendengarnya.

Dalam ceramah selama hampir 200 menit menyusul peluncuran itu,
sekitar 2.000 manajer dan eksekutif bisnis negeri ini menyimak
takzim petuah Stephen Covey. Di pentas bisnis global Stephen
Covey adalah nama yang amat berwibawa mungkin setara dengan
Peter Drucker di bidang manajemen dan suaranya lebih sering
terdengar bagai amar kenabian. Suara waskitanya mampu menjebol
tembok kesadaran yang kapalan, mendobrak jeruji batin yang
tergembok, membebaskan tenggorokan nurani yang terbekap, lalu
menjawab suara otentik panggilan jiwa para pendengarnya. Kata
Covey, apabila orang menemukan suaranya dengan menjawab
panggilan Suara Agung di hatinya, maka itulah itulah mula
keagungan. Dan itu pulalah the beginning of excellence seperti
didamba Presiden Yudhoyono.
Jadi, tak ada keunggulan apabila orang pekak terhadap panggilan
Suara Tuhan, Suara Rakyat, atau Suara Ibu Pertiwi. Menjadi tegas
pula, pondasi segala prestasi-keunggulan-keakbaran adalah
spiritualitas: nurani yang jernih, hati yang bening, dan
akalbudi yang cerah. Dan semuanya itu harus dibasiskan pada
prinsip-prinsip sejati [true north principles], ujar Covey. Dan
sayup-sayup, kita pun mendengar gema tesis Max Weber seratus
tahun lalu: apabila orang bekerja berdasarkan panggilan jiwanya
maka ia akan unggul melampaui yang lain. Dimampatkan, begitulah
mula kisah kemajuan negara-negara di belahan Eropa Utara, dan
selanjutnya Amerika Serikat, mencapai keunggulan global hingga
hari ini, seperti juga disinggung Presiden Yudhoyono dalam
pidatonya.
Basis Keunggulan
Diroketkan pada 1983 oleh TJ Peters dan RH Waterman melalui In
Search of Excellence, tema keunggulan kemudian mengilhami dan
mewarnai hampir semua literatur sukses yang ribuan jumlahnya
sejak itu. Peters dan Waterman berkisah tentang pribadi-pribadi
unggul yang mengawaki perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti
IBM, Boeing, dan General Electric. Antara lain ditekankan
pentingnya kedekatan dengan pelanggan, jiwa kewirausahaan,
produktivitas SDM, dan motivasi berbasis nilai-nilai luhur.
Sebelum The 8th Habit terbit, Jim Collins dalam Good to Great
[2001] menampilkan hasil studinya tentang elemen menjadi great
company: kepemimpinan yang profesional namun rendah hati,
pemilihan SDM yang tepat, tegar menghadapi realita, selalu
melakukan yang terbaik, membangun kultur disiplin, dan pilihan
teknologi yang pas sebagai akselerator.
Masih bisa ditambahkan bahwa excellence itu digerakkan oleh visi
akbar yang menggetarkan bahkan sanggup meminta pengorbanan dari
segenap warganya, dipandu oleh strategi cerdas agar sumberdaya
yang terbatas cukup, dimotori oleh inovasi-inovasi kreatif,
dikawal oleh sikap antisipatif, dan didukung oleh karakter
ketekunan.
Apapun komposisinya, akhirnya kita menyimpulkan bahwa basis
keunggulan suatu produk, organisasi, bahkan sebuah bangsa,
nyata-nyata dan tak bisa lain, ialah manusia unggul juga:
spiritualitasnya, intelektualitasnya, dan etos kerjanya.
Manusia-manusia unggul demikianlah yang menghasilkan kitab
Sutasoma, novel Bumi Manusia, candi Borobudur, atau pilar
Sosrobahu; dan termasuk pesawat A380, jam Rolex, teleskop
Hubble, atau sepatu Nike.
Etos Keunggulan
Menilik Indonesia kini, kita pun bertanya: masih adakah energi
sisa warga bangsa ini membangun budaya unggul sesudah
besar-besaran terkuras oleh pungli dan korupsi, tersedot ketika
memerangi penjarahan alam, tersita bagi penyelesaikan
konflik-konflik SARA, terhisap saat menangkal kriminalitas dan
terorisme, bocor buat mengatasi pertikaian politik, tiris guna
membayar warisan hutang dari rezim-rezim sebelumnya, serta
menguap tatkala mengatasi gonjang-ganjing harga berbagai
komoditas pokok? Banyak yang pesimis, apatis, bahkan sinis.
Namun sejarah memberi perspektif yang menghibur: ternyata bisa!
Satu contoh saja. Korea Selatan pernah luluh lantak usai Perang
Dunia II, kini tampil gagah di serambi depan bangsa-bangsa maju.
Apa rahasianya? Samuel Huntington dalam Culture Matters [2000]
memberikan jawaban tegas: budaya! Budaya yang bertumbuh di sana
ialah kerja keras, disiplin, berhemat, menabung, dan
mengutamakan pendidikan. Itulah akar-akar tunggang pohon
excellence yang kita cari-cari itu. Nama lainnya: etos
keunggulan.
Harapan lain, modal spiritual [spiritual capital] itu sendiri
ternyata menjanjikan ketidakterbatasan. Kapital rohani itu bagai
lubuk energi tak berdasar. Dalam biografinya, The Long Walk To
Freedom [1994] Nelson Mandela berkata, Saya mengalami sendiri
bahwa kita mampu menanggung hal-hal yang sebenarnya tak
tertanggungkan jika kita dapat menjaga semangat hidup tetap
tinggi meskipun tubuh kita disiksa. Keyakinan yang kuat adalah
rahasia kesanggupan menanggung segala kekurangan. Semangatmu
bisa penuh meskipun perutmu kosong. Keyakinan, iman, harapan,
tekad, antusiasme itulah berbagai wajah spiritualitas. Inilah
the spirit of excellence.
Memang spirit itu perlu diberi darah, saraf, otot, dan daging
agar menjadi tubuh, artinya menjadi budaya. Dan Presiden
Yudhoyono telah menjanjikannya pula: good governance. Dialah
kepala tubuh yang pernah berkata: bersama kita bisa! Kini,
semboyan itu perlu ditambah bobot menjadi semacam Sumpah Palapa
II: Bersama kita harus bisa unggul! Kalau sudah begitu rakyat
pun niscaya ikut.
*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Opini Edisi Sabtu,
3 Desember 2005
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
7 Rasa
Takut
24 April 2007
Sebelumnya:
Menatap
Indonesia di Panggung Bencana: Masih Adakah yang Bisa Kita
Perbuat?
04 April 2007
Siasat
Kelelawar
29 Maret 2007
Pustakaloka
Kompas: The 8 Habit dan 8 Etos: Merambah Jalan Baru Menuju
Keunggulan
22 Maret 2007
Charlo
Mamora, Sang Arsitek Transformasi Astra
16 Maret 2007
Rubrik
Bentara Kompas: Hidup yang Erotik
14 Maret 2007
Tikus
Dikejar Kucing
12 Maret 2007 |
|