|

Rubrik
Bentara
HIDUP YANG EROTIK
Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba
Oleh: Jansen H. Sinamo [14 Maret 2007] - Dibaca sebanyak kali
EROS, erotik, erotisme. Tiga kata
ini akarnya sama. Suasananya juga persis: gelora semangat purba
yang atraktif dan menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi
menggairahkan bagi orang banyak, kotor bagi para pemeluk teguh
tapi merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi
tonikum bagi siapa saja yang letih lesu dan berbeban berat.
Namun seorang guru spiritual bernama Marc Gafni berpendapat:
eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas itu
berkelindan secara mendalam. Tegasnya, yang erotik dan yang
kudus sebenarnya serupa dan sama. Maka, hidup yang erotik adalah
hidup yang sakral. Bahkan, tanpa eros kesucian kita sebenarnya
cuma ecek-ecek, tidak autentik dari jiwa yang terdalam. Tanpa
eros, kesalehan kita cuma pura-pura belaka, tidak meresap sampai
ke sumsum dan ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua
tingkat: personal-interpersonal, profesional-organisasional,
bisnis-ekonomikal, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng doang,
membebani dan mematikan rasa. Dan kita tahu, tatanan semacam ini
akhirnya akan runtuh dari dalam meski pun dari luar terlihat
masih utuh.
Hidup tanpa eros terasa sepi dan melompong, ditandai dengan rasa
resah yang melelahkan dan rasa bosan yang menekan. Tekanan ini
berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati
yang sunyi, sepi, dan senyap dari gempita eros; yang hampa,
kosong, dan melompong dari desah nafas eros. Lalu, untuk
menghindari tekanan itu, orang pada lari ke berbagai kesibukan.
Tapi sebenarnya kesibukan itu cuma sebuah laku penghindaran,
avoidance: a-void-dance, sebuah tarian yang hampa. Meski
terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah
sebuah tarian yang hampa gairah, banal tanpa estetika. Dan untuk
coba memenuhi kehampaan itu orang memburu berbagai gratifikasi
instan: pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal
yang bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta,
apalagi sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta
kembali ke dunia mereka yang nestapa.
Marc Gafni memberi metafora yang memukau. Saksikanlah seekor
lebah yang terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak
menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi, dari sudut ke sudut.
Ia terbang layang meliuk-liuk dengan indahnya, dari dasar ke
puncak, lalu sebaliknya. Namun dari dalam sungguh amat malang.
Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah.
Yang ada cuma usaha sia-sia tanpa harapan. Pelan tapi pasti,
lebah itu sedang menuju mati, tercekik lunglai kehabisan oksigen.
Kata Gafni, begitulah gaya hidup tanpa eros yang dilakoni banyak
orang, keluarga, dan organisasi: palsu, munafik, menipu, dan
akhirnya kita tahu, mereka mati pelan-pelan.
Tapi, bagai nabi, Gafni berjanji. Sesungguhnya ada gaya hidup
baru untuk kita semua: hidup penuh sukacita kaya makna, hidup
penuh cinta kaya warna, hidup penuh tari kaya dinamika. Di situ
kita dimungkinkan menikmati setiap momen penuh isi. Tak lagi
terisolasi tapi terkoneksi dengan asyik. Tak lagi sepi sendiri
tapi larut berpartisipasi. Lihatlah, kehidupan ini menawarkan
kesembuhan bagi luka-duka-nestapa kita. Maka, jangan pedih lagi
sebab tersedia banyak senar bagi getar-getar ekstasi musik
surgawi. Jangan merasa perih lagi sebab kini terbuka akses lebar
bagi arus sukacita ilahi. Dan, jangan bersedih lagi sebab kini
ada tarian baru: tumba eros yang penuh gairah dan cinta!
Siapakah gerangan Marc Gafni yang piawai berkata-kata indah
berdaya cekam ini? Dua buku, Soul Prints dan The Mystery of
Love, bagai sepasang roket membubungkan namanya ke angkasa
selebritas dalam atmosfer spiritualitas internasional, mirip (dulu)
kebyar-kebyar nama Aa Gym di negeri ini. Gafni kini tampil
sebagai bentara segar dalam cakrawala kerohanian di Israel,
Eropa, dan Amerika. Ia memberikan banyak seminar tingkat
pascasarjana tentang mistisisme dan spiritualitas di berbagai
universitas kelas dunia dan secara rutin di Oxford, Inggris.
Gafni tak hanya diakui sebagai guru besar dalam bidang teks-teks
kuno Yudaisme, tetapi juga empu dalam pemahaman dan penjelasan
serat-serat hati manusia modern.
Marc Gafni dianggap sealiran dengan guru-guru spiritual dunia
seperti Jalaluddin Rumi, Scott Peck, atau Thomas More. Ciri
utama mereka: bukan fundamentalis bukan pula New Ager, tapi
lebih bersifat ekumenis. Artinya, mereka berakar kuat dalam
tradisi agama masing-masing, tapi amat cerdas menyapa hati umat
dari berbagai agama lain. Mereka adalah peziarah lintas batas
sehingga mampu berbahasa universal: bahasa hati dan lingua cinta.
Tak harus menjadi Muslim untuk dicerahkan oleh Rumi. Tak harus
menjadi Protestan atau Katolik untuk dicerahkan oleh Peck atau
More. Begitulah, tak harus menjadi Yahudi untuk dicerahkan oleh
Gafni. Membaca buku-buku mereka, kita merasa terterangi oleh
filsuf cerdas yang bijak lagi bestari.
Lahir dan besar di Massachusetts, Amerika Serikat, Rabbi Gafni
memiliki gelar akademis tertinggi di bidang filsafat. Gafni juga
seorang pembicara inspirasional sehingga ruang-ruang kuliahnya
selalu penuh sesak. Bahasanya menggugah nurani dan retorikanya
menggedor hati. Intelektualitasnya kelas tinggi dan berbudi
sangat pekerti. Ia begitu menguasai konsep-konsep biblikal yang
diuraikannya dengan indah dan segar sehingga mampu menggerakkan
hati sidang pendengarnya dari berbagai usia dan latar belakang.
Orang disadarkan: pesan-pesan teks purba tersebut ternyata
sangat relevan dalam peri kehidupan modern.
Pindah ke Yerusalem, Gafni mendirikan Bayit Chadash, sebuah
padepokan spiritual yang mendedikasikan diri bagi renaisans
Yudaisme. Gafni juga mengisi berbagai program dan kolom di
televisi dan jurnal yang mengupas tuntas etika dan spiritualitas
modern yang menyebarluas ke dalam budaya pop. Gafni juga adalah
dekan dari Melitz Beit Midrash, sebuah think-tank yang berwatak
pluralistik dan salah satu lembaga pemikiran tertua dan paling
prestisius di Israel. Selain menulis empat buku teologi dalam
bahasa Ibrani, Gafni juga mengarang dua buku best-seller
berbahasa Inggris seperti disebut di atas. The Mistery of Love,
buku sumber bagi tulisan ini, adalah buku serius tentang
filsafat dan teologi cinta, bukan novel tentang drama cinta
kawula muda.
Empat Wajah Eros
Dalam bahasa Ibrani, Eros adalah Shechinah, secara spiritual
dipahami dan dialami sebagai Sang Feminin Agung: mother,
daughter, and lover. Dialah sang penyayang lagi pengasih yang
membuat semua ciptaan merasa tenteram, puas dengan tuntas penuh
bahagia. Shechinah berarti kehadiran di dalam, ’dia yang tinggal
di dalam diri kita’. Ia adalah energi ilahi yang bermuatan
kecerdasan, hikmat, dan cinta kasih, yang tidak hanya mengalir
melalui kita tetapi mengandung semua kita. Ia memelihara semua
makhluk bahkan semua kehidupan dengan penuh kasih sayang,
sensualitas, dan erotisme.
Dalam konsepsi Yunani, eros itu berkarakter maskulin. Di sini
bedanya dengan konsepsi Ibrani. Dikenal sebagai dewa kehidupan,
cinta dan seks, Plato menyebutnya sebagai love plus. Eros
merupakan daya kehidupan yang esensial-–menggerakkan benda-benda
langit bahkan semua kehidupan–-tapi juga berbahaya karena bisa
liar dan merusak, dan kalau tak sanggup mengelolanya, sebaiknya
dihindari. Secara spesifik eros berkonotasi dengan seksualitas,
fertilitas, dan reproduksi.
Dalam konsepsi Ibrani, yang erotik tidaklah semata-mata sinonim
dari yang seksual, tetapi seluruh ekspresi kegairahan yang
berkarakter ilahi yang mendidih menggelegak penuh gelora dari
kedalaman hati manusia yang dimodelkan oleh seksualitas.
Difahami, eros adalah semacam daya akbar magnetik yang mengikat
seluruh ciptaan dengan saling menghasrati menuju kebersatuan
yang utuh dan setangkup: pada elektron dan proton sehingga atom
tercipta, pada sepasang kekasih sehingga anak terbentuk, atau
pada hati para mistikus sehingga ekstasi terjadi. Namun,
berabad-abad kemudian, kata eros cuma berasosiasi dengan seks
saja. Yang seksual memang sebagian dari eros, tapi bagian yang
sempit sekali. Penyempitan makna ini, dalam terminologi mistik
Ibrani, disebut sebagai eros yang terbuang atau Shechinah dalam
pembuangan. Istilah terbuang dan pembuangan diambil dari episode
sejarah bangsa Israel kuno yang pernah ditaklukkan dan ditawan
Nebukadnezar, maharaja Babilonia. Bangsa yang terbuang itu
sungguh-sungguh merasakan apa artinya hidup yang sepi, kosong,
dan sesak membosankan, sehingga tak dapat berekspresi secara
memadai.
Jika Soekarno pernah terbuang ke Ende, Bangka, dan Berastagi; ke
manakah Shechinah atau eros terbuang? Jawabnya, ke wilayah
seksual. Artinya, jika seks adalah satu-satunya aktivitas dimana
kita bisa merasa erotik, maka Shechinah berada di pembuangan.
Dan jika gairah dahsyat hanya bisa kita rasakan sesaat sebelum
semburan orgasme, maka hidup kita sebenarnya tergolong amat
miskin. Ketika eros telah jatuh menjadi sinonim dari seks belaka
itu berarti kita sangat jauh dari gaya hidup erotik yang sejati.
Sekarang, apakah hakikat eros yang sejati itu? Apa pula jatidiri
sang eros itu sebenarnya? Menurut Marc Gafni ada empat wajah dan
karakter eros.
Pertama, eros berarti ”berada di dalam”. Terlibat secara erotik
berarti masuk jauh ke dalam, terlibat total secara mendalam.
Pada Bait Suci Yerusalem yang dibangun Raja Salomo kira-kira
1000 tahun sebelum Masehi, di bagian paling dalam terdapat
sebuah bilik istimewa yang disebut Ruang Mahakudus. Dalam bahasa
Ibrani ruang itu disebut lefnai lefnei ’yang di dalam dari yang
di dalam’. Jadi, apa pun yang sungguh-sungguh mendalam atau
paling dalam pada hakikatnya adalah suci. Di sini, lawan kata
suci bukan saja najis, tetapi juga dangkal, superfisial, atau
permukaan. Dalam kuil kuno itu, adalah seksualitas––yang
disimbolkan oleh sepasang kerubim di atas tabut perjanjian dalam
postur saling berpelukan––yang menjadi model tentang bagaimana
hidup secara erotik. Maka, semua aktivitas di mana kita mampu
tenggelam secara total di dalamnya, dalam artian ini, adalah
aktivitas yang erotik dan kudus.
Eros mulai tereksitasi apabila kita menukik jauh sampai ke dalam,
ke inti atau ke interior dari apa yang kita kerjakan sehingga
energi nuklirnya terlepas dan meluluhkan kita bersama-sama
dengan aktivitas itu. Pada saat itulah saya menyatu total dengan
apa yang saya kerjakan. Saya bukan lagi penulis yang sedang
susah payah menulis tetapi telah lenyap melebur menyatu dengan
kegiatan menulis. Ketika itulah ”saya adalah tulisan saya” dan
”tulisan saya adalah saya”. Meminjam Gary Zukav, penulis The
Dancing Wu Li Masters, An Overview of the New Physics: Saya
menari dengan eros!
Menari dengan eros berarti hidup dan mencintai secara erotik
pada semua wilayah kehidupan kita. Itulah artinya hidup yang
suci. Sebagaimana kesucian tak seharusnya dibatasi oleh keempat
dinding rumah ibadah, maka eros juga seharusnya tidak boleh
dibatasi oleh keempat helai kelambu bilik tidur. Eros mestinya
tampil utuh sebagaimana adanya, sebagaimana seharusnya. Itu
berarti menikmati keunikan yang khas dari seorang sahabat,
mencium seluruh spektrum aroma rumput dan bunga-bungaan yang
sedang memekar, merasakan semua desir sensasi semilir angin yang
yang mengalir, menikmati dahsyatnya gerigitan rasa rindu yang
mencengkeram urat-urat rasa di segenap interior hati kita, serta
merasakan seluruh getar-getar jiwa dan gemuruh jantung yang
terus menggegas naik turun di segenap wilayah kehidupan kita.
Itu berarti menikmati gulung-gemulungnya alun cinta yang
susul-menyusul dengan ombak ekstasi yang menggelombang permai di
sekujur kulit jangat tubuh kita sehingga meluluhkan
tembok-tembok kemarahan, kedengkian, kesepian, dan ketakutan
kita. Sungguh, eros adalah biang kenikmatan yang tertinggi.
Itulah kenikmatan yang tersuci.
Kedua, eros berarti “hadir sepenuhnya”. Hadir berarti tampil
penuh konsentrasi dalam sebuah pekerjaan, percakapan, atau
kegiatan sehingga kita mampu memetik sukacita dan kemuliaan
darinya. Kita merasa penuh sepenuh-penuhnya, tak lagi kosong
melompong. Dengan hadir, kita mampu melihat keunikan,
kompleksitas, dan kekayaan satu sama lain, bahkan semua kita,
serta keagungan ultimatnya.
Hadir juga berarti menunggu pemunculan. Shechinah sudah menunggu
kita. Eros berada di dalam rumah, sedang menanti agar kita
segera masuk, menemuinya, dan menatap wajahnya dengan rasa
takjub sepuas hati. Pada saat itulah kita merasa telah tiba pada
posisi dan kondisi yang kita inginkan. Jadi, eros adalah suasana
di mana kita tak ingin lagi ke mana-mana karena sadar bahwa kita
sudah di sana, di tempat yang paling kita inginkan. Lawan dari
eros ialah keterasingan, sebuah perasaan bahwa kita adalah orang
luar, tamu yang tak dinanti, orang yang tidak diharapkan. Dalam
kondisi erotik, kita menikmati kesalingterhubungan yang
utuh-teguh yang mengakar tuntas dalam miliaran serabut saraf
jaring-jaring kehidupan kita. Eros menyediakan ruang penuh makna.
Itulah kerja yang memuaskan, relasi yang menyukakan, kehidupan
sosial yang menggairahkan, aktivitas yang membahagiakan.
Kelaparan, keserakahan, korupsi, peperangan, serta berbagai
bentuk kekerasan dalam kehidupan ini, semuanya adalah akibat
dari tiadanya eros. Eros adalah akses pada keabadian yang
terkandung pada sebuah momen. Dan eros menolong kita untuk
menikmati keindahan dan kedahsyatan ultimat dari setiap momen
yang mengalir tiada putus itu. Maka, yang erotik dan yang kudus
hadir penuh di saat kini, dalam waktu yang serasa berhenti, saat
semua momen-masa-lalu dan momen-masa-depan menyatu lebur dalam
sebuah kekekalan dramatis yang personal dan subyektif.
Ketiga, eros adalah “hasrat”. Dalam Yudaisme, hasrat, keinginan,
dan kerinduan adalah ihwal yang suci. Di sini, eros adalah
hasrat untuk menjadi, keinginan untuk memperoleh, atau kerinduan
untuk menikmati. Karena merindulah maka kita ada dan terus
mengada. Karena mendambalah maka kita jadi dan terus menjadi.
Dan karena menghasratlah maka kita bergerak dan terus bergerak
sampai sejauh-jauhnya, seetinggi-tingginya, sedalam-dalamnya
hingga tiba pada kondisi prima, optima, dan ultima.
Tetapi, selama berada di luar maka kita terpaksa mengabaikan,
memadamkan, bahkan membunuh hasrat hati kita. Namun, saat di
dalam, saat kita hadir sepenuhnya, maka kita dapat meraih semua
yang kita dambakan dan menuntaskan puas atas apa yang kita
impikan. Jadi, dalam kerinduanlah terdapat keajaiban eros.
Itulah senar-senar hati yang senantiasa bergetar secara
sensasional karena terus dirangsang oleh apa yang kita hasrati
sepenuh rindu. Diputus dari eros yang merindu abadi itu berarti
dibiarkan mati sendiri dalam terik gersangnya kerontang gurun
sepi yang tak kenal belas kasihan.
Depresi yang terburuk ialah depresi keinginan, yakni matinya
hasrat. Dalam kondisi ini, orang tak menginginkan apa pun lagi,
tak mau ke mana pun lagi, tak sudi bertemu siapa pun lagi, dan
tak berselera makan apa pun lagi. Ketika hasrat yang autentik
sudah padam, itulah apatisme habis. Dan orang yang demikian,
kita tahu, sedang menuju mati.
Keempat, eros ialah ”kesalingterhubungan dengan semua kehidupan”.
Kerinduan, keinginan, dan hasrat yang bergetar selalu
membisikkan bahwa kita saling terhubung. Kata religi (agama)
berasal dari bahasa Latin, ligare, artinya hubungan. Tujuan
religi dengan demikian ialah menghubungkan kembali semua kita
dalam persekutuan cinta. Niat agama yang sejati ialah membawa
kita ke ruang paling dalam, paling sakral, di mana kita semua
saling berhadap-hadapan, bertatapan muka, dan dengan begitu
mengalami intaian denyut gairah interkoneksitas batin dengan
semua wajah realitas. Maka, memutus hubungan dengan eros adalah
sebuah dosa. Dosa di sini berarti separasi dan isolasi, yaitu
keterpisahan dari sumber kehidupan dan semua wajahnya. Maka dosa
adalah sebuah keadaan yang tragis. Tidak hanya bahwa kita
kehilangan sumber sukacita yang terbesar, tetapi sekaligus juga
memutuskan jejaring relasional kita dengan yang ilahi yang
tanpanya seluruh bangunan kehidupan ini akan runtuh terkapar
berderai.
Gafni menyebut ajaran baru tentang eros ini sebagai Tantra
Ibrani. Dalam bahasa Sanskerta, salah satu makna kata tantra
ialah memperluas. Jadi Tantra Ibrani adalah sebuah cara
menggunakan energi erotik untuk manunggal dalam cinta dengan
arus energi ilahi yang setiap saat mengalir ke dalam dan melalui
kita. Esensi ajaran ini ialah mentransformasikan seksualitas
menjadi tuntunan penuh kasih sayang menuju kepenuhan, kesukaan,
dan kebahagiaan yang integral dan holistik: Eros!
Eros dan Imajinasi
Satu kualitas pokok eros ialah imajinasi. Keistimewaan imajinasi
terletak pada kemampuannya memberi bentuk pada
kebenaran-kebenaran tinggi yang berasal dari realitas ilahi.
Bahasa dan rasio tak sanggup melakukannya. Namun, imajinasi
mampu. Dan bagaikan nabi, imajinasi akan membawa pesan-pesan
ilahi, berbicara, dan bernubuat kepada kita dan melalui kita.
Dengan imajinasi yang erotik, kita dimampukan mengakses hikmat
dan pimpinan Tuhan yang sangat kita perlukan untuk menavigasi
kehidupan kita ke depan dengan sukses.
Namun, mengapakah kita begitu lemah mengimajinasikan Tuhan?
Jawabnya, karena Shechinah berada di pembuangan. Erotisme
berimajinasi sudah terbuang ke wilayah seksual. Orang sangat
mudah berfantasi seksual tapi sangat sulit mengimajinasikan
hal-hal yang bukan seksual. Dikatakan lain, erotisme berfantasi
telah impoten pada arena-arena lain kehidupan kita di luar yang
seksual.
Kata fantasi berasal dari bahasa Yunani, phantasi, sebuah kata
kerja yang berarti membuat tampak, menampilkan. Bagi orang
Yunani kuno, berfantasi tak ada kaitannya dengan seks.
Berfantasi artinya membuat dunia ilahi tampak terlihat melalui
imajinasi. Itulah alam spirit:. Itulah dunia bentuk yang paling
murni.
Kita hampir tak pernah berfantasi ekonomi, berfantasi teknologi,
berfantasi sosial, atau berfantasi politik. Namun, berfantasi
seksual sering, sepanjang waktu malahan. Seperti eros, fantasi
dan imajinasi pun telah terbuang ke lembah seksual. Karenanya,
kita pun kehilangan kemampuan membuat tampak, membayangkan,
mengimajinasikan, dan mengembangkan visi-visi yang agung dan
orisinal di bidang sosial, teknologi, ekonomi, dan politik.
Pemiskinan imajinasi yang erotik ini, sekali lagi, adalah
terbuangnya Shechinah.
Krisis terbesar, kata Gafni, bukan krisis ekonomi, politik, atau
moral tetapi krisis imajinasi. Di sini, orang kepentok pada
jalan buntu karena tak mampu mengimajinasikan hidupnya secara
berbeda dari apa yang sekarang dijalaninya. Kelaziman dipeluk
erat-erat karena takut pada bayang-bayang ketidakpastian.
Padahal, prasyarat bagi pertumbuhan ialah kesediaan untuk
melepaskan ”siapa-aku-sekarang” demi meraih ”siapa-aku-esok”
dengan cara membuang hal-hal yang sudah akrab tapi sebenarnya
tidak lagi berguna. Namun, hal ini hanya mungkin dilakukan jika
kita berani berjalan sampai ke tubir-tubir ketidakpastian bahkan
ke pinggir-pinggir kemustahilan.
Kadang ini berarti meninggalkan kampung halaman dan merantau ke
negeri orang. Namun, perantauan sejati tidak harus berarti
perpisahan dramatik dengan rumah dan masa lalu kita. Ia lebih
merupakan perantauan imajinasi. Di sini, imajinasi adalah
perkakas untuk merancang masa depan yang secara radikal berbeda
dengan masa lalu dan hari ini.
Hanya dalam fantasi dan imajinasilah kita dapat mengubah
realitas kita. Dari dunia internal inilah kita menata ulang
dunia eksternal kita. Inti dari hampir setiap krisis adalah
sebuah kegagalan berimajinasi. Tanpa lompatan imajinasi, tak ada
kemajuan sejati, dan eros kehidupan pun bakal mati sesak nafas
di bawah tungkup tempurungnya yang rapuh, lusuh, dan bau.
Eros dan Etos: Lingkaran dan Garis
Dalam sejarahnya, terutama di masa lampau, eros purba yang
dipraktekkan bangsa-bangsa kafir tampil dalam bentuk ritus-ritus
penuh gelora namun tanpa pedoman etika, di mana pada puncak
ekstasi ibadah mereka, manusia, terutama anak-anak, dikorbankan
di atas mezbah para dewa yang diiringi dengan pesta orgial yang
dahsyat.
Yahwe melalui para nabi-Nya selalu melarang Bani Israel
mengikuti ibadah-ibadah demikian. Sayangnya, lebih banyak tak
berhasilnya. Sejak era Salomo sampai pada waktu pembuangan
mereka ke Babel, pada sebagian besar kurun sejarah itu, mereka
terpengaruh bahkan terjatuh ke dalam ibadah-ibadah kafir yang
dicirikan oleh erotisme purba itu. Barulah sekembalinya dari
Babel 70 tahun kemudian, reformasi keagamaan dan sosial
berlangsung di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia.
Pertanyaannya, mengapa bangsa yang dilengkapi dengan etika
biblikal, yaitu hukum Taurat, bisa jatuh ke dalam eros yang non-etis?
Jawabnya, ketika eros dan etika bertentangan secara superfisial,
maka eros selalu menang. Gafni mengibaratkan moralitas eros
sebagai lingkaran dan moralitas etika sebagai garis. Dalam
lingkaran murni, yaitu eros liar, terdapat energi purba yang
dahsyatnya tak mungkin dilawan justru karena dalam pusaran
ekstasi eros tersebut orang mengalami keutuhan yang menyeluruh
secara dahsyat. Sebaliknya moralitas garis, yaitu moralitas
hukum dan etika, yang sebenarnya bertentangan arah dengan vektor
kedagingan kita, akan selalu gagal memenuhi tuntutan
kontrak-kontraknya.
Jadi, bagaimana sebenarnya hubungan antara eros dan etos?
Jawabannya, seperti hubungan dua wajah koin yang sama. Pada
analisis terakhir, tatanan etika dan hukum, tanpa eros, akan
runtuh berkeping-keping. Kegagalan etika terjadi karena eros
tidak menjiwainya. Tegasnya, etika yang tidak berakar teguh pada
eros pasti akan runtuh, karena bagaimana pun, bagaikan Bulan
yang secara abadi berada di bawah pengaruh gravitasi Bumi, jiwa
manusia pun selalu merindu sangat berat pada eros. Hati manusia
selamanya sangat dahaga pada eros.
Namun, jika etika kita dalami sampai ke level hakikat, maka kita
akan bertemu dengan eros yang menyala-nyala dan selanjutnya
menjadi energi dalam penghayatan dan ekspresi etika itu sendiri.
Pada saat inilah etika menjadi etos. Etika tidak lagi hanya
sekumpulan norma yang bagus kelihatan tetapi ia sudah menjadi
praktek, menjadi budaya. Etika tidak lagi sekadar huruf-huruf
yang tertulis di atas kertas tetapi terukir di dalam hati kita.
Pada saat itu pula etos menjadi ekspresi yang erotik dari diri
ilahi kita. Maka, agar etika bisa berwibawa, ia harus merupakan
pengejawantahan erotik diri ilahi kita, bukan berkontradiksi.
Etika akan mati tanpa eros dan eros tidak bisa langgeng tanpa
etika. Karena kerinduan eros yang sejati sesungguhnya tertuju
pada Tuhan, yakni kebersatuan dalam dan oleh cinta dengan Tuhan,
maka kerinduan eros adalah juga hasrat pada etika. Kita tahu
dari Taurat, tuntutan Tuhan yang paling primer adalah perilaku
etis terhadap sesama, maka pada saat itu juga, ekspresi eros
terpenting ialah belas kasihan dan kasih sayang terhadap sesama,
khususnya orang lemah, orang miskin, janda-janda, dan anak yatim
piatu.
Jadi tujuan akhirnya adalah integrasi. Yang erotik dan yang etis,
lingkaran dan garis, harus menyatu-padu sebagai ekspresi total
kemanusiaan kita di seluruh mandala kehidupan ini. Eros harus
diekspansikan ke wilayah etika bahkan ke seluruh wilayah
kehidupan. Dengan demikian, kita dimungkinkan membangun suatu
masyarakat yang dicirikan oleh keadilan yang erotik, kebenaran
yang erotik, dan kebajikan yang erotik.
*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Bentara Edisi
Rabu, 6 Oktober 2004
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Charlo
Mamora: Sang Arsitek Transformasi Astra–
16 Maret 2007
Sebelumnya:
• Tikus
Dikejar Kucing –
12 Maret 2007
• Tragedi
Emas Midas – 7
Maret 2007
• Wawancara
Majalah Info Societa: 8 Etos Entaskan Kemiskinan
– 5 Maret 2007
• Kompas
Online: 8 Etos Pendongkrak Gairah Kerja [Jangan Cuma 5-Ng]
– 2 Maret 2007
•
Baru Pengantin Baru Sudah Bertengkar
– 28 Februari 2007
•
Berita: Pejabat Eselon II Ikuti Pelatihan Membangun Etos Kerja Unggul
– 22 Februari 2007 |
|