|
Kafe Etos
Damon dan
Phytias
Oleh: Jansen H. Sinamo &
Hendri Bun [30
Mei 2007] - Dibaca sebanyak kali
Alkisah, di zaman Yunani kuno
memerintah seorang raja bersama Dionisius. Di kerajaannya hidup
sepasang sahabat yang terkenal karena kesehatian, kesepikiran,
dan komitmen mereka: Damon dan Phytias namanya.
Suatu hari, tanpa sengaja Damon melakukan sebuah kesalahan fatal
di sebuah gelanggang permainan. Akibatnya, dia harus dihukum
mati. Namun, beberapa saat sebelum eksekusi, Phityas muncul.
”Yang mulia Raja Dionisius, ijinkanlah hamba memohon sesuatu
buat Damon, sahabatku: Berikanlah kesempatan terakhir baginya
melakukan sesuatu sebelum menemui ajalnya.”
Raja pun mengabulkannya. ”Baik, aku ijinkan. Hai Damon, apakah
permintaan terakhirmu?”
”Terimakasih sahabatku Phytias, dan Raja Dionisius. Permintaan
hamba adalah boleh kembali ke kampung dan rumahku untuk mencium
anak-istriku dan berpamitan pada keluargaku.”
”Tetapi apa jaminannya?” tanya raja.
Phytias mengajukan diri. ”Baginda, selama Damon pergi, biarlah
hamba yang menggantikannya sebagai tahanan. Apabila pada batas
waktu yang ditentukan dia tidak muncul, hamba bersedia dihukum
mati sebagai gantinya.”
Demikianlah Damon dilepaskan dan diberi waktu tiga hari untuk
melaksanakan niatnya.
Raja dan khalayak ramai menunggu apakah Damon kembali sesuai
dengan janjinya. Hari pertama lewat tanpa kabar. Hari kedua juga
berlalu begitu saja.
Hari ketiga, masyarakat berbondong-bondong berkumpul di tempat
eksekusi. Mereka penasaran sambil berharap cemas, apakah Damon
memenuhi janjinya. Menjelang siang hari, kabar kehadiran Damon
belum terdengar juga. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Dan
ketegangan meliputi semua orang yang berada di sana.
Menjelang sore, Damon tetap tidak muncul. Pada detik-detik
menjelang eksekusi, raja pun berkata kepada Phytias. ”Tampaknya
persahabatan kalian yang legendaris itu tidak terbukti. Dan kamu,
Phytias yang malang, bersiaplah untuk mati karena sahabat yang
setia yang kamu banggakan itu tidak sesetia seperti yang kamu
kira.”
Namun saat pedang algojo hampir berkelebat, dari kejauhan
terdengar suara orang berteriak. “Tunggu ... tahan hukuman!
Tunggu ... tahan hukuman!”
Sontak semua yang hadir memalingkan muka ke arah suara tersebut.
Pekik tidak percaya bercampur gumaman kagum memenuhi udara. ”Itu
Damon ... Dia kembali ...”
“Maafkan hamba baginda. Hamba mengalami banyak sekali hambatan
di perjalanan. Waktu melintasi selat, perahu hamba membentur
karang hingga tenggelam. Saat melintasi hutan, sekelompok
penyamun merampok hamba hingga terluka. Namun, hamba tetap
berlari ke sini, dan syukurlah belum terlambat. Saudaraku
Phytias, terimakasih atas kebaikanmu. Engkau telah
mempertaruhkan nyawamu untukku. Sekarang, aku sudah di sini, dan
siap untuk dihukum.”
Melihat hal tersebut, Raja Dionisius hanya bisa
mengeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. Hatinya
tersentuh dan berkata, “Damon dan Phytias, ternyata benar apa
yang kudengar selama ini tentang persahabatan kalian. Aku sangat
menghormatinya. Sebagai penghargaan, maka kamu, Damon, aku
ampuni dan lepaskan dari hukuman mati.”
“Terimakasih Baginda,” Damon dan Phytias serentak menjawab.
“Namun ada satu hal lagi. Bolehkah ke dalam persahabatan kalian
berdua ditambahkan orang ketiga?” tanya sang raja.
Demikianlah Raja Dionisius kemudian menjadi sahabat Damon dan
Phytias. Persahabatan mereka menjadi persahabatan segitiga yang
melegenda di seantero dunia.
* * *
Etos 7 berbunyi: kerja adalah kehormatan, aku bekerja tekun
penuh keunggulan. Dalam kisah ini, kita menemukan kualitas
persahabatan Damon dan Phytias: komitmen, kesetiaan, dan
kepercayaan yang total sehingga mampu menggetarkan sanubari
masyarakat dan Raja Dionisius.
Apapun yang unggul, mulia, dan berkualitas tinggi selalu menarik
rasa hormat dan kekaguman. Kalau kita mampu menerapkannya dalam
hidup dan pekerjaan, di mana kita mampu membina hubungan dengan
orang lain, pemasok, atau pelanggan, maka relasi tersebut akan
menjadi penyelamat dan modal kita untuk berkembang.
Karena itu, jagalah kualitas persahabatan Anda, karena dengan
demikian, hidup akan jauh lebih mudah dan sukses pun menjadi
sangat mungkin diraih.
*) Kisah ini adalah salah satu kisah yang dicuplik dari buku "KAFE
ETOS: 24 Kisah Renyah untuk Memperkuat Etos Kerja Unggul" Karya
Jansen H. Sinamo bersama
Hendri Bun,
Terbitan Institut Darma Mahardika tahun 2006.
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• Sebatang
Bambu – 7 Juni 2007
Sebelumnya:
• Parakitri
dan Kho Ping Hoo
– 24 Mei 2007
• Gelar No,
Ilmu Yes – 15 Mei 2007
• Bentara
Kompas: Berkenan pada Tuhan dan Berkenan pada Dunia
– 4 Mei 2007
• Narko-Duit
– 27 April 2007
• 7 Rasa
Takut
– 24 April 2007
• Indonesia
Unggul, Mungkinkah?
– 18 April 2007 |
|