Artikel
Aktualisasi Hawking

Oleh: Jansen H. Sinamo [02 Agustus 2007] - Dibaca sebanyak kali

Jenius itu satu persen bakat dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras.
— THOMAS A. EDISON

Anda kenal Stephen Hawking? Anda yang memang akrab dengan fisika kuantum pasti tak asing dengan manusia super genius ini. Bagi Anda yang awam kuantum, umumnya mengenalnya sebagai fisikawan modern yang lumpuh dengan otak yang cemerlang. Tetapi seperti kata Thomas A. Edison, bahwa jenius itu satu persen bakat dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras, seperti itu pula yang dilakukan Hawking.

Stephen Hawking (1942) sejak usia dua puluh satu tahun sudah menderita penyakit Lou Gehrig atau amyotrophic lateral sclerosis, penyakit ini mengakibatkan melemahnya otot, membuat lumpuh, dan kehilangan kemampuan berbicara. Namun, Hawking sungguh hebat, ia masih memiliki kekuatan berpikir yang sangat luar biasa, canggih dan visioner, bahkan daya imajinasinya sulit dicarikan tandingannya. Kehidupan keseharian Hawking selalu di atas kursi roda yang dilengkapi dengan komputer dan satu pembangkit (synthesizer) suara. Dengan menekan tombol-tombol pada keybord kecil, Hawking bisa memilih kata-kata di layar komputer, menggabungkannya menjadi kalimat yang diteruskan ke pembangkit suara. Sungguh merupakan kehidupan yang sangat sulit, membutuhkan mental baja untuk membangun semangat hidup seperti ini.

Itulah hidup Hawking dengan kelemahan fisik yang amat serius, ia memberikan inspirasi kepada dunia yang tengah mencari penjelasan tentang asal kejadian dan nasib alam semesta. Justru saat serangan terhadap otot-otot motoriknya mencapai puncaknya, Hawking habis-habisan melakukan riset tentang alam semesta. Buku hebat pun lahir dari kerja keras yang penuh semangat itu, A Brief History of Time (Riwayat Singkat Senja Kala). Buku ini terjual lebih dari 30 juta eksemplar dan diterbitkan dalam tiga puluh tiga bahasa. Buku ini merupakan usaha Hawking untuk menjelaskan kepada masyarakat awam tentang berbagai pertanyaan teknis dan filosofis tingkat tinggi yang menjadi obsesi para filsuf dan ilmuwan seperti dirinya.

Riset alam semesta itu membuat Hawking bekerja habishabis-an. Ia benar-benar mengaktualisasikan dirinya melalui riset itu. Ia begitu antusias dan merasa tidak adil bila melakukan kegiatan senikmat riset itu disebut bekerja. Apa yang Hawking lakukan sekaligus membuktikan bahwa kelemahan fisik bukan kendala untuk aktualisasi diri. Hasilnya? Sederet kontribusi pemikirannya telah membuka cakrawala ilmu pengetahuan, termasuk temuannya yang oleh fisikiawan John Wheeler disebut sebagai lubang hitam (black hole), Hawking mengatakan ternyata lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, karena hal itu disebabkan oleh penguapan kuantum yang kini dikenal sebagai ‘Radiasi Hawking’.

Semua wacana fisika di atas tentu saja dilandasi oleh bangun teori yang amat rigid dan mendalam dengan ditopang kemampuan matematika yang super canggih. Hawking melakukan suatu tindakan seperti saat Albert Einstein menciptakan Teori Relativitas. Hawking dengan segala temuan akbarnya telah memamerkan sebuah daya imajinasi tiada tara, dan antusiasme bekerja tanpa banding! Semua ini dilakukan oleh seorang Hawking yang lumpuh fisiknya.

*) Dipetik dari kumpulan tulisan Bp. Jansen H. Sinamo dalam kontempelasi yang berjudul "Dari Pemikat Perkutut sampai Pemenang Nobel."
_____________________________________

Belum ada komentar

Silakan Isi Komentar Anda

_____________________________________

Selanjutnya:

• Manusia, Kota, dan Etos Pembangunan – 03 Desember  2007

Sebelumnya:

• Pemetik Teh – 25 Juni 2007
• 7 Mentalitas Profesional – 19 Juni 2007
• Sebatang Bambu – 7 Juni 2007
• Damon dan Phytias – 30 Mei 2007
• Parakitri dan Kho Ping Hoo – 24 Mei 2007
• Gelar No, Ilmu Yes – 15 Mei 2007