|

Artikel
8 ETOS PENDONGKRAK GAIRAH KERJA! [JANGAN CUMA "5-NG"]
2 Maret 2007 - Dibaca sebanyak kali
Hidup hanya menyediakan dua
pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika
tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
“5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.
Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah gulana, Anda
tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya problem serupa.
Namun, bukan tidak ada solusinya!
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot.
“Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya
manusia dari Institut Darma Mahardika, Jakarta. Meski lumrah,
“impotensi” kerja harus diobati.
Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung
membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar
yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan
motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos
Kerja Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan
itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama: kerja adalah rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah
pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah
rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser
pun.
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah
anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita
punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah
ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang
patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua
nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.
Etos kedua: kerja adalah amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota
DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari
pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara.
Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita
bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela,
misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
Etos ketiga: kerja adalah panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma.
Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa. Seorang
perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit. Seorang guru
memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya.
Seorang penulis menyandang darma untuk menyebarkan informasi
tentang kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau profesi
disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri,
“I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas
jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, eutah
dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri.
Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara
terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa
“ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan
daripada duduk bengong tanpa pekenjaan.
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan
psikososial manusia. Dengan bekerja, misalnya, seseorang bisa
berjabat tangan dengan rasa pede ketika berjumpa koleganya.
“Perkenalkan, nama saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?
Etos kelima: kerja itu ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau
kepercayaan kita, semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah.
Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja
secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:
Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk
mengukir sebuah puncak tiang yang tinggi. Saking tingginya,
ukiran itu tak dapat dilihat langsung oleh orang yang berdiri di
samping tiang. Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah
membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia menjawab,
“Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi Tuhan bisa
melihatnya.” Motivasi kerjanya telah berubah menjadi motivasi
transendental.
Etos keenam: kerja adalah seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan
seorang peneliti pun, semua adalah seni. Kesadaran ini akan
membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih
nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan
sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati
pekerjaannya.
“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di
laboratorium yang sepi,” katanya. Jadi, sekali lagi, semua kerja
adalah seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun menyebut
rumus-rumus fisika yang njelimet itu dengan kata sifat
beautiful.
Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan.
Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain
yang lebih besar akan datang kepada kita.
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer.
Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis),
meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas.
Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, kita
sudah mafhum. Semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu
suar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua
sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi
kebanyakan orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya
berarti menunggu kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke
lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil menggembalakan
domba, ia memunguti biji oak, lalu menanamnya di sepanjang
lembah itu. Tak ada yang membayarnya. Tak ada yang memujinya.
Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan
sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! Sungai-sungai
mengalir lagi. Tanah yang semula tandus menjadi subur. Semua itu
dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak
Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di
desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Juga pada diri almarhum
Munir, aktivis Kontras yang giat membela kepentingan orang-orang
yang teraniaya.
“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi
keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen. Dalam bukunya
Ethos21, ia menyebut dengan istilah rahmatan lii alamin (rahmat
bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
* Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu
bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia menjamin,
semua konsep etos itu bisa diterapkan di semua pekerjaan.
“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya, orang bekerja
itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal pekerjaan itu punya
banyak sisi,” katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga mencari makna.
Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 - 40 tahun untuk bekerja.
Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan Tuhan.
“Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk
apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu yang
sangat lama,” tambahnya.
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada
pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat
dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan
yang menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan
kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum
bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar.
“Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala
kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih suka dengan
dunia pelatihan sumber daya manusia ini.
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau
mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka
kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip,
ngomel, dan ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann
Wolfgang von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but
liking the thing we have to do that makes life happy.”
“Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang
tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak
mungkin kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus
mau ketemu duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
ini.
Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk.
Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan
yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari
sini kita akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan.
Bukan gila kerja
* Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu
dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.
Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut kita
dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas. Ini berbeda
dengan, misalnya, etos Samurai yang dimiliki bangsa Jepang.
Mereka terkenal sebagai bangsa pekerja keras dan ulet.
Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali berbeda
dengan workaholic. Pekerja keras bisa membatasi diri, dan tahu
kapan saatnya menyediakan waktu untuk urusan di luar kerja.
Sementara seorang workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen,
kondisi kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua pihak.
Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja keras,
sementara ia sendiri secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang
melunturkan semangat kerja bawahan. Jansen memberi contoh,
atasan yang mengritik melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi
tak pernah memujinya jika ia menunjukkan prestasi.
Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan kehilangan
semangat bekerja. Buat apa bekerja keras, toh hasil kerjanya tak
akan dihargai. Ingat, pada dasarnya manusia menyukai reward.
Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita Electric
Industrial (MET) punya teladan yang bagus. Pada zaman resesi
dunia tahun 1929-an, pertumbuhan ekonomi Jepang anjiok tajam.
Banyak perusahaan mem-PHK karyawan. MEI pun terpaksa memangkas
produksi hingga separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada
satu karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja keras.
Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk menjual.
Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka bisa berubah menjadi
tenaga marketing andal, yang membuat Matsushita menjadi salah
satu perusahaan terkuat di Jepang.
Bagaimana dengan Anda?
(Sumber Asli:
http://kompas.com/kesehatan/news/0509/06/111614.htm)
_____________________________________
Belum ada komentar
Silakan Isi Komentar Anda
_____________________________________
Selanjutnya:
• 8 Etos Entaskan
Kemiskinan
– 5 Maret 2007
Sebelumnya:
•
Baru Pengantin Baru Sudah Bertengkar
– 28 Februari 2007
•
Berita: Pejabat Eselon II Ikuti Pelatihan Membangun Etos Kerja Unggul
– 22 Februari 2007
• Pesta Konglomerat
– 21 Februari 2007
•
Teori Maxwell Tentang
Elektromagnetik dan Delapan Etos
– 19 Februari 2007
•
Kompas: Dari Fisika ke Mana-Mana
– 16 Februari 2007 |
|